“Hana, saya sudah mengingat semuanya!”
Segurat senyum mengembang di wajah Hana saat mendengar pernyataan Ronald. Meskipun itu bukanlah kabar yang terlalu mengejutkan baginya, tetapi bukankah hubungan yang dibangun di atas kebohongan jauh lebih menyakitkan? Hana tahu persis apa yang Ronald katakan sebelum ingatannya hilang.
Hubungan yang dilandasi kepalsuan hanya akan membawa kehancuran. Seberapa besar pun cinta itu tumbuh, hanya hubungan yang dibangun dengan ketulusan yang dapat mencapai puncaknya, meraih cinta sejati.
“Hana! Tolong bantu saya menemukan Angela!”
Dengan tegas, Hana mengangguk pelan. “Saya akan selalu membantumu, Ronald-kun. Apa pun yang terjadi, saya akan selalu ada di sampingmu.”
Ronald terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. Ternyata, rencana yang telah ia susun di kepala tidak akan berjalan dengan mulus jika ayahnya tetap ikut campur.
“Tapi, saya rasa saya akan berusaha menyembunyikan semuanya, Hana. Saya nggak ingin tua bangka itu tahu kalau saya sudah mengingat semuanya.”
“Itu pasti, Ronald-kun.”
“Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?” Ronald mendesah panjang. “Amaliya. Wanita licik itu. Dia yang membuat saya jadi seperti ini. Dia menyuntikkan sesuatu ke tubuh saya dan memberi sugesti yang mengubah saya menjadi orang yang sangat kasar.”
Hana menunduk, tampak merenung. “Sebenarnya, Ayah sudah melakukannya beberapa kali pada kita, Ronald-kun,” ujarnya pelan.
Ronald terperangah, tubuhnya terhuyung sedikit. “Melakukannya beberapa kali?”
“Iya. Saat kita masih kecil, kita tidak pernah bisa mengingat kenangan masa kecil kita yang sebenarnya. Semua itu dihapus oleh Ayah. Dia mengirim kita ke Jepang dan mengubah hidup kita menjadi kehidupan biasa. Saya pernah berpikir tentang bagaimana kita bisa bertemu, tapi saya tidak bisa menemukannya, dan mungkin inilah jawaban dari semua pertanyaan itu.”
Ronald memejamkan mata, seolah berusaha menahan amarah yang mulai menggelegak. “Apa lagi yang harus saya lihat dari tua bangka itu? Semua yang dia lakukan demi kekuasaan dan harta. Bahkan setelah Mommy meninggal, dia sama sekali tidak merasa bersalah.”
Hana menghela napas. “Oba-san pernah bercerita padaku, Ronald-kun. Dia menderita sakit karena sering melindungimu dari kerasnya didikan ayahmu.”
Ronald memijat pelipisnya, mencoba menenangkan diri. Kenangan tentang ibunya yang penuh kasih tiba-tiba datang begitu saja. Ibu yang selalu ada, yang memberikan cinta dan perlindungan tanpa syarat.
“Saya nggak pernah menyadari itu semua, Hana. Betapa bodoh saya yang nggak pernah ada buat Mommy. Saya hanya bisa datang menemuinya saat-saat terakhir hidupnya, dan itu semua ... itu semua membuat saya sangat terpukul. Hampir hidup saya terbengkalai karena stres.”
Ronald terdiam sejenak, tatapannya kosong. Hana hanya bisa menggenggam tangannya erat, berusaha menenangkan. Namun, tiba-tiba terdengar derap langkah ramai di luar, membuat Ronald terbangun dari lamunannya. Dengan cepat, dia menarik tangan Hana, dan keduanya berlari keluar, masuk ke dalam mobil.
“Apa yang terjadi, Ronald-kun?” Hana bertanya cemas, suaranya sedikit gemetar.
Ronald tak memberi jawaban. Ia langsung menyalakan mesin mobil, lalu melaju dengan kecepatan tinggi.