“Selamat, Ronald! Kamu sudah berhasil terperangkap!”
Amaliya tersenyum sinis, dengan seringai tajam di wajahnya. Kata-katanya itu cukup untuk menunjukkan bahwa dia sudah merencanakan semuanya sejak lama. Dia mengikuti Ronald sejak mereka meninggalkan rumah kos, lalu sengaja menyalip mobil yang dia kendarai untuk memancingnya ke dalam jebakan yang sudah disiapkan.
Benar-benar wanita yang cerdas, atau mungkin lebih tepatnya, licik. Yang pasti, Hana kini menjadi sandera mereka, dan Ronald, lelaki bermata sipit itu, tampak kelimpungan.
“Amaliya! Kamu sengaja melakukan semua ini!” Suara Ronald menggema, penuh amarah, seolah ingin mengguncang dunia.
“Benar sekali! Dan kamu nggak tahu kalau klub ini sebenarnya milik Yakuza Black Tiger, kan?”
Tawa Amaliya semakin keras, bergema di seluruh ruangan. Dia menikmati setiap ekspresi yang muncul di wajah Ronald, seakan itu adalah sebuah hiburan yang memuaskan bagi dirinya. Penderitaan orang lain—terutama Ronald—menjadi sumber kegembiraannya. Terlebih lagi, dia punya kecenderungan kelainan seksual yang menjadikan penderitaan itu lebih menggairahkan.
“Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, Ronald? Kamu nggak punya pilihan selain mengikuti semua yang aku perintahkan,” katanya dengan nada mengejek.
“Apa maksudmu? Kamu membuat konspirasi ini, berusaha mengkhianati ayah saya. Dan kalian, para anggota Black Tiger, benar-benar nggak tahu diri! Apa yang kalian harapkan dari wanita sepertimu yang nggak becus!”
Amaliya tersenyum, senyum yang penuh kebencian. “Tentu saja, Ronald. Aku memberikan mereka kebebasan yang nggak pernah mereka dapatkan selama ayahmu memimpin. Kesalahan fatal yang dilakukan Takeda telah membuat semua orang di Black Tiger muak dengannya.”
Ronald mengerutkan kening. Adu mulut tak akan banyak membantu, malah bisa menghabiskan energinya. Dengan sikap tegas, dia langsung bertanya pada inti masalah.
“Apa yang kamu ingin saya lakukan?”
Senyuman Amaliya semakin mengembang, seolah sudah menanti momen ini. “Sederhana saja. Menikah denganku, jadikan aku ratu di keluarga Kobayashi, dan aku akan memimpin Yakuza Black Tiger.”
Tawaran itu terdengar tidak begitu mengejutkan. Wanita itu menginginkan organisasi ilegal yang dibangun oleh ayah Ronald. Namun, masalahnya adalah Ronald tak ingin terikat dengan wanita seperti Amaliya, apalagi dalam hubungan palsu yang akan lebih banyak membawa masalah.
Dengan suara tegas, Ronald menjawab, “Saya menolak!”
Amaliya menyeringai, seolah meremehkan penolakan itu. “Menolak? Kamu yakin menolak?”
Tanpa berkata lebih lanjut, Amaliya memberi isyarat dengan tangannya. Seketika, pria bertudung hitam yang berdiri di sampingnya mendekati Amaliya dan menyerahkan sebuah pecut berwarna hitam yang melingkar di tangannya. Dengan gerakan cepat, Amaliya mengulurkannya dan melayangkannya ke lantai, menghasilkan suara gemeretak keras yang seketika membuat seluruh kelab malam itu terdiam. Semua orang di sekitar mereka terdiam, seakan menahan napas, merasakan ketegangan yang meningkat.
“Kalau begitu, kamu akan mendapatkan ini, dan calon istrimu itu juga akan disetubuhi oleh anak buahku.”
Amaliya berkata dengan penuh kebencian, mengancam dengan cara yang paling keji. Ronald menatapnya tajam, napasnya menderu karena marah.
“Sialan! Kamu berusaha mengancam saya dengan cara paling licik! Tapi maaf, saya nggak akan menyakiti seorang perempuan. Sebaiknya urungkan niatmu dan biarkan saya melawan yang lain.”