Hal yang paling tidak bisa dipahami Ronald adalah mengapa Sebastian justru membantunya. Ya, dialah yang telah menembak tangan pria bertudung hitam, membuat Ronald selamat dari ancaman kematian malam itu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ronald dengan suara pelan, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“Aku memang membencimu! Tapi, aku lebih benci kalau ada orang yang merampas mangsaku!” jawab Sebastian, masih dengan senjata terarah ke Amaliya.
Amaliya tampak terkejut, tetapi itu tak cukup untuk menghentikan langkahnya. Malah, senyuman liciknya semakin mengembang, dan tawa renyah mulai terdengar.
“Kenapa kamu tertawa, jalang?!” bentak Ronald, marah melihat kelakuan Amaliya yang semakin mengejek.
“Jangan mengira setelah berhasil menjatuhkan senjata dari tangan Alex, kalian bakal menang. Jangan lupa, perempuan itu masih ada dalam genggaman kami!” Amaliya berkata dengan nada penuh ancaman.
Memang benar apa yang dikatakan Amaliya. Hana, yang sedang terjebak dalam cengkeraman dua pria besar, adalah kunci yang tak bisa Ronald abaikan. Dia sadar betul, selama Hana berada dalam bahaya, dia tak bisa bergerak bebas.
“Jangan bertindak ceroboh, Sebastian! Jangan pikir saya senang dengan apa yang kamu lakukan ini,” ucap Ronald dengan tegas, meskipun ada sedikit kecemasan dalam suaranya.
“Senang kamu bilang?! Jangan bodoh!” jawab Sebastian, tajam, seolah tidak peduli. Dia segera mengalihkan pandangan dan menambahkan, “Kalau bukan dia yang minta, aku nggak akan sudi ikut ke sini.”
Angela, yang sejak tadi hanya bisa diam sambil menatap penuh kekhawatiran, merasa cemas melihat keadaan Ronald dan Hana. Meskipun dia tidak tahu sepenuhnya apa yang terjadi, dia bisa merasakan ketegangan yang ada. Namun, dia tahu satu hal: Ronald sangat membutuhkan bantuan.
“Pergilah, Angela. Ini bukan urusanmu,” kata Ronald dengan pelan, menatap gadis itu lama sebelum akhirnya beralih ke Sebastian. “Bawa dia pergi, Sebastian! Saya nggak mau Angela terjebak di situasi seperti ini.”
“Apa?! Kamu bilang kalau aku yang membawa Angela ke situasi seperti ini?! Tolol!” Sebastian hampir berteriak, emosinya memuncak. “Kamu harus sadar! Dialah yang memaksa aku ikut ke sini! Kamu budek, haah?!”
Rasa beban di hati Ronald semakin berat. Tidak hanya harus memikirkan bagaimana cara membebaskan Hana, tapi Angela juga telah masuk ke dalam bahaya. Ronald tahu betul, Amaliya tidak akan membiarkan gadis itu lolos, mengingat betapa penting Angela bagi dirinya.
Amaliya, melihat situasi yang semakin memanas, menyeringai puas. Dia melirik salah satu anak buahnya dan memberikan isyarat.
“Ya, itu benar. Kamu nggak punya urusan di sini, Angela. Sebaiknya kamu pergi, sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan untuk mengizinkanmu pergi begitu saja.”