Angela yang terempas oleh dorongan tubuh Ronald, kini hanya bisa terdiam sejenak sebelum matanya menangkap pemandangan yang membuat hatinya teriris. Ronald terbaring dengan darah yang mengalir deras, tubuhnya tampak lemah. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya bergerak menuju Ronald, ingin meraih dan menolongnya, meskipun dia tahu betapa sulit posisi mereka saat ini.
Namun, keberuntungan datang. Sebastian, yang telah merencanakan semuanya dengan hati-hati, sudah mempersiapkan bala bantuan. Beberapa anak buahnya telah ia tugaskan untuk tiba di kelab tersebut, dan kini mereka bertempur melawan anggota Black Tiger. Keadaan yang semula terlihat begitu suram mulai berubah.
Sebastian yang kini berada dalam posisi lebih aman, mengalihkan perhatian pada Ronald. Dengan suara tenang, dia memberi instruksi. “Keluar dari kelab sekarang, Ronald.”
Ronald, meskipun tubuhnya terasa semakin lemah, menatap Sebastian sejenak, sadar bahwa sekarang bukan waktunya untuk pertengkaran atau masalah pribadi. Hana masih terancam, dan dia tak bisa meninggalkannya begitu saja.
“Bawa dia pergi, Angela. Aku akan menyusul dan menangani perempuan itu,” ujar Sebastian, suaranya sedikit parau.
Baru kali ini Angela melihat ekspresi serius di wajah Sebastian, sesuatu yang jarang terlihat darinya. Selama ini, dia tahu betul kebencian Sebastian terhadap Ronald, tapi dalam situasi ini, dendam dan permusuhan tak ada artinya. Keadaan mendesak, dan mereka harus bertindak cepat.
Angela hanya mengangguk, tak memberikan ruang untuk keraguan. Dia segera membantu Ronald berdiri meski kesulitan, sementara para anak buah Sebastian menangani pria-pria bertubuh besar yang masih menghalangi jalan mereka.
“Ronald! Ayo, kita pergi dari sini!” teriak Angela, suaranya dipenuhi kecemasan.
“T-tapi, Angela ….” Ronald mencoba berbicara, tapi suara itu hanya berbisik dalam tenggorokannya yang serak.
“Percayalah pada Sebastian. Dia akan menyelamatkan Hana,” jawab Angela dengan keyakinan yang tak bisa digoyahkan.
Tanpa memberi kesempatan Ronald untuk menahan, Angela membantunya keluar dari kelab dan mengarahkannya menuju mobil. Sesampainya di dalam, mesin mobil pun hidup, dan Angela menekan pedal gas dengan harapan agar mereka segera sampai di tempat yang aman.
“Bertahanlah, Ronald!” katanya dengan suara yang bergetar penuh harap.
Perjalanan terasa begitu lama, meskipun mereka hanya melewati beberapa jalanan utama sebelum akhirnya tiba di rumah kos Ronald. Angela segera membantunya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, dengan panik. Walau demikian, dia mencoba tetap tenang. Begitu sampai di dalam, dia membaringkan Ronald di tempat tidur dengan hati yang cemas.
“Bentar ya, jangan bergerak,” ucap Angela terburu-buru sambil mencari kain di sekitar ruangan. Darah terus mengalir dari luka di perut Ronald, membuatnya semakin panik. Dalam keadaan terkejut dan panik, dia meraih sepotong kain dari lemari kecil yang ada di kamar, berharap itu bisa cukup untuk menghentikan pendarahan.
Dengan napas yang terengah-engah, Angela mulai membuka pakaian Ronald. Tubuh lelaki itu begitu rapuh di matanya, dan dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk ragu. “Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?” tanyanya, masih berharap ada solusi lebih baik.
Ronald menggeleng lemah. “Jangan. Saya masih bisa bertahan. Luka ini nggak seberapa, Angela. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan saya.”
Angela menatapnya, tak percaya dengan apa yang dikatakan Ronald. Bagaimana bisa dia berkata begitu, padahal luka ini begitu mengerikan? “Kamu ngomong apa, Ronald? Aku pasti akan membantumu, karena kamu selalu membantuku. Kamu selalu menyelamatkanku,” jawab Angela dengan suara yang hampir pecah.