Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #1

Bab 1 — Kota yang Tidak Pernah Mengerti Pulang

Pagi di Jakarta tidak pernah benar-benar dimulai.

Ia tidak datang dengan rasa segar atau harapan baru—melainkan hanya berpindah dari lelah yang belum selesai… ke lelah yang lain.

Laras Kirana berdiri di dalam gerbong KRL yang padat. Tangannya menggenggam besi pegangan di atas kepala, jemarinya memutih karena tekanan. Tubuhnya ikut terdorong ke kiri dan ke kanan setiap kali kereta berhenti mendadak. Tidak ada ruang untuk bernapas dengan tenang. Bahkan untuk berdiri saja… harus berbagi.

Udara di dalam gerbong terasa berat. Bau keringat, parfum murah, dan sisa kopi pagi bercampur menjadi satu. Orang-orang berdiri saling menempel, tapi tidak ada yang benar-benar hadir.

Semua menatap layar.

Semua sibuk sendiri.

Seolah dunia mereka hanya sebatas lima inci di tangan.

Seperti dirinya.

Ponselnya bergetar pelan di dalam tas. Awalnya ia mencoba mengabaikan. Tapi getaran itu terasa seperti memanggil.

Laras menarik ponselnya keluar dengan susah payah.

Pesan dari atasannya, Bu Steffani.

“Laras, laporan kemarin revisi lagi. Banyak yang kurang. Segera ya.”

Belum sampai kantor.

Sudah salah.

Matanya terpaku pada layar beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Dadanya terasa berat. Ia bahkan belum duduk, belum membuka laptop, belum menghela napas panjang—tapi sudah dituntut untuk memperbaiki sesuatu.

Perlahan, ia mengunci layar.

Tidak membalas.

Bukan karena tidak mau.

Tapi karena… tidak punya tenaga.

Ia menoleh ke arah kaca jendela yang buram. Bayangannya muncul samar di sana. Tidak jelas. Tidak utuh.

Mata sembab.

Kulit wajah yang terlihat lelah.

Dan sesuatu yang sulit dijelaskan… seperti ada bagian dari dirinya yang tertinggal di suatu tempat—dan tidak pernah ia ambil kembali.

Dirinya sendiri.

Kantor tidak pernah berubah.

AC dingin menusuk kulit.

Lampu putih terang tanpa ampun.

Dan suasana yang selalu terasa… menekan.

Belum sempat ia benar-benar duduk, suara itu sudah datang.

“Datang juga akhirnya.”

Laras menoleh. Atasannya berdiri di dekat mejanya, tangan bersedekap, ekspresinya datar tapi tajam.

“Maaf, Bu…” Laras mencoba bicara.

“Kamu pikir kerja itu bisa santai-santai?” potongnya cepat.

Laras menunduk sedikit. Jemarinya saling menggenggam.

“Tadi di KRL—”

“Alasan lagi.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

“Kamu selalu punya alasan. Tapi hasilnya tetap sama.”

Sunyi.

Orang-orang di sekitar pura-pura sibuk. Keyboard diketik lebih keras dari biasanya. Telepon diangkat lebih cepat dari biasanya. Semua tahu. Tapi tidak ada yang mau terlibat.

Laras menarik napas pelan.

“Kalau saya salah, saya perbaiki, Bu.”

Atasannya menatapnya beberapa detik.

Lihat selengkapnya