Malam itu Laras tidak langsung tidur. Bukan karena ia tidak mengantuk. Tapi karena tubuhnya belum selesai menerima hari itu.
Langit-langit kamar kosnya terasa lebih dekat dari biasanya. Seolah menekan. Seolah ikut diam… tapi berat.
Ia berbaring dengan mata terbuka.
Pikirannya kosong.
Atau mungkin… terlalu penuh.
Ponselnya tergeletak di samping bantal. Layar menyala pelan, memecah gelap.
Nama yang muncul membuat dadanya langsung mengencang.
Nadya Saphira.
Adik satu-satunya.
Tanpa berpikir panjang, Laras langsung mengangkat.
“Halo… Nad?”
Di seberang, tidak langsung ada jawaban.
Hanya napas.
“Kak…” suara itu akhirnya muncul. Kecil. Tertahan.
Laras langsung duduk.
“Ada apa? Kamu kenapa?”
Hening beberapa detik. Detik yang terasa terlalu lama.
“Ibu sakit.”
Ucapan itu pelan.
Tidak keras.
Tidak panik.
Tapi cukup untuk membuat dunia Laras berhenti.
“Sakit apa?” suara Laras berubah. Lebih cepat. Lebih tegang.
“Dari siang panas… napasnya juga berat…”
Nadya berusaha terdengar tenang. Tapi Laras tahu.
Itu bukan tenang. Itu… menahan.
“Aku pulang besok,” kata Laras cepat, hampir tanpa jeda.
“Kerja gimana, Kak?”
Pertanyaan itu membuat Laras terdiam.
Sesaat.
Seolah dunia kembali mengingatkannya—bahwa hidupnya tidak sesederhana memilih.
“Aku izin,” jawabnya akhirnya.
“Jangan dimarahin lagi…” suara Nadya pelan.
Laras menutup mata.
“Nggak apa-apa.”
Padahal… ia tahu itu tidak benar.
—
Pagi harinya, Laras menatap layar ponselnya lama sebelum mengetik.
Jemarinya ragu. Tapi akhirnya ia menulis juga.
“Pagi Bu Steffani. Mohon maaf saya izin tidak masuk kerja hari ini. Ibu saya sakit.”