Pagi di desa selalu datang dengan cara yang berbeda.
Tidak terburu-buru.
Tidak menuntut.
Ia datang pelan, menyusup lewat celah jendela, membawa cahaya yang hangat tanpa menyilaukan. Suara ayam berkokok terdengar jauh, disusul gemerisik daun yang tertiup angin.
Tenang.
Terlalu tenang.
Dan justru itu yang membuat Laras merasa… asing.
Ia berdiri di dapur bersama Nadya. Tangannya sibuk menghangatkan air di atas kompor kecil. Uap tipis naik perlahan, mengaburkan pandangannya sesaat.
Gerakannya kaku.
Tidak terbiasa.
Seolah ia bukan bagian dari tempat ini lagi.
Seolah ia sedang belajar kembali bagaimana caranya… pulang.
Nadya memotong sayur di sampingnya. Gerakannya lebih cekatan. Lebih terbiasa.
“Kak…” Nadya memanggil pelan.
Laras tidak langsung menjawab. Ia menuang air ke dalam gelas, lalu menoleh.
“Iya?”
Nadya berhenti memotong. Pisau di tangannya diam di atas talenan.
“Kalau Ibu kenapa-kenapa…”
Kalimat itu menggantung.
Tidak selesai.
Tidak berani diselesaikan.
Laras langsung menoleh cepat.
“Nggak akan.”
Nada suaranya lebih cepat dari biasanya. Lebih tegas.
Seolah ia memotong bukan hanya kalimat Nadya… tapi juga kemungkinan yang tidak ingin ia dengar.
Nadya menatapnya. Lama.
“Kenapa Kak langsung jawab gitu?” tanyanya pelan.
Laras mengalihkan pandangannya ke kompor.
“Asal jangan ngomong kayak gitu aja.”
“Tapi kita harus siap…” suara Nadya melemah.
“Kita nggak harus siap buat kehilangan.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Lebih emosional dari yang Laras rencanakan.
Sunyi jatuh di antara mereka.
Hanya suara air mendidih yang terdengar pelan.
Nadya menunduk. Melanjutkan memotong sayur. Tapi gerakannya melambat.
“Maaf…” bisiknya.
Laras langsung menoleh.
“Nad… aku bukan marah.”