Perjalanan kembali ke Jakarta terasa lebih berat. Bukan karena tubuhnya lelah. Tapi karena… hatinya tertinggal.
Sepanjang perjalanan, Laras lebih banyak diam. Matanya menatap keluar jendela, melihat sawah, rumah-rumah kecil, dan jalanan yang semakin lama semakin berubah menjadi padat.
Desa perlahan hilang.
Digantikan oleh kota.
Gedung-gedung tinggi kembali berdiri.
Dan bersama itu—beban yang tadi sempat ia tinggalkan… ikut kembali.
Ia menggenggam ponselnya.
Tidak ada pesan baru dari Nadya.
Tidak ada kabar dari rumah.
Dan justru itu yang membuatnya gelisah.
—
Kantor menyambutnya seperti biasa. Atau mungkin…tidak pernah berubah.
Belum sempat ia benar-benar duduk, suara itu kembali datang.
“Ini laporan kamu kacau.”
Laras berdiri di samping meja atasannya.
Menatap layar.
“Maaf, Bu. Saya perbaiki lagi.”
“Kamu ke mana aja kemarin?” tanya atasannya tanpa menoleh.
“Izin, Bu. Ibu saya sakit.”
Atasannya akhirnya menoleh. Tatapannya datar.
“Semua orang juga punya masalah, Laras.”
Kalimat itu menusuk.
“Tapi kerjaan tetap kerjaan.”
Laras menunduk.
“Iya, Bu…”
“Jangan bawa urusan pribadi ke kantor.”
Sunyi.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang ibunya.
Tentang ketakutan yang ia rasakan.
Tentang rasa bersalah karena harus pergi.
Tapi tidak ada satu pun yang keluar.