Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #5

Bab 5 — Kabar yang Tidak Pernah Siap Diterima

Sore itu Laras baru saja keluar dari kantor. Langkahnya pelan.

Bukan karena tidak ingin cepat pulang—tapi karena ia sendiri tidak tahu, pulang ke mana.

Pikirannya kosong. Atau mungkin… terlalu penuh sampai tidak bisa memproses apa pun.

Langit Jakarta mulai berubah warna. Oranye yang samar, tertutup kabut tipis dan asap kendaraan. Orang-orang berjalan cepat di sekelilingnya. Semua punya tujuan.

Kecuali Laras.

Ponselnya bergetar.

Getaran yang sama seperti beberapa hari terakhir.

Nama yang sama.

Nadya.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkat.

“Halo, Nad—”

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Di seberang—suara itu lebih dulu pecah.

“Kak…”

Tangis.

Bukan tangis yang ditahan.

Bukan tangis pelan.

Tangis yang runtuh.

Dan dalam satu detik—sesuatu di dalam diri Laras ikut berhenti.

“Nadya…?” suaranya berubah. Pelan. Hati-hati. Takut.

“Ibu… udah nggak ada…”

Kalimat itu tidak keras. Tidak panjang.

Tapi cukup untuk membuat seluruh dunia… sunyi.

Tidak ada suara kendaraan.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada apa-apa.

Seolah semuanya berhenti.

Laras tidak langsung menjawab.

Bukan karena tidak mau.

Tapi karena… tidak bisa.

Kata-kata itu masuk.

Tapi tidak langsung dipahami.

“Ibu…” ulangnya pelan. Seperti mencoba memastikan.

Tangis Nadya semakin terdengar jelas.

“Kak… Ibu tadi… napasnya makin berat… terus… terus…”

Kalimatnya terpotong oleh tangis.

Laras menutup mata.

Dunia tidak runtuh.

Tidak ada ledakan emosi.

Tidak ada teriakan.

Hanya…sunyi.

Yang terlalu dalam.Dan perlahan—ingatan itu datang.

Tanpa diundang.

Tanpa bisa ditolak.

Lihat selengkapnya