Dini hari itu—rumah tidak pernah benar-benar sunyi.
Suara lantunan doa terdengar pelan.
Terus mengalun. Seperti menjaga sesuatu agar tidak benar-benar pergi.
Laras duduk di dekat jenazah ibunya.
Tangannya menggenggam tasbih.
Bibirnya bergerak pelan.
Membacakan doa.
Bukan karena ia hafal semuanya.
Tapi karena… ia tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Di pangkuannya—Nadya tertidur.
Kepalanya bersandar lemah di paha Laras.
Matanya sembab.
Tangisnya sudah habis.
Atau mungkin… hanya berhenti sementara.
Laras menatapnya lama.
Tangannya perlahan mengusap rambut Nadya.
“Capek ya…” bisiknya pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya napas pelan yang teratur.
Untuk beberapa saat—semuanya terasa diam.
Tapi bukan damai.
Lebih seperti… kosong yang dipaksakan tenang.
—
Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.
Langit berwarna kelabu.
Awan menggantung rendah.
Seolah ikut merasakan kehilangan yang sama.
Rumah itu tidak pernah seramai ini.
Orang-orang datang silih berganti.
Membawa doa.
Membawa ucapan.
Membawa kehadiran.
Tapi tidak semua… membawa kehangatan.
“Sabar ya, Laras…”
“Ibu kamu orang baik…”
“Kuat ya…”
Kalimat-kalimat itu datang satu per satu.
Laras mengangguk.
Pelan.
Sopan.
Seperti yang diharapkan.
Tapi di dalam—tidak ada yang benar-benar masuk.
Semua terasa jauh.
Seperti suara dari ruangan lain.
Ia duduk di samping jenazah ibunya.
Menatap wajah yang kini tertutup.
Sesekali tangannya ingin menggapai.
Tapi berhenti di tengah jalan.
Takut.
Takut jika menyentuh—ia benar-benar harus menerima.
Di sampingnya, Nadya kembali menangis.