Hari kedua setelah pemakaman terasa berbeda.
Rumah yang kemarin penuh suara, kini mulai pelan. Kursi-kursi tambahan sudah disingkirkan. Gelas-gelas kopi tidak lagi berderet. Orang-orang datang masih ada, tapi sebentar. Seolah duka punya batas waktu.
Namun bagi Laras—waktu justru terasa semakin panjang.
Ia duduk di teras bersama Nadya. Sore turun perlahan, membawa angin yang dinginnya tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat kulit merinding. Pohon di halaman bergoyang pelan, seakan ikut berbisik tentang sesuatu yang belum selesai.
Tidak ada yang berbicara.
Cukup lama.
Sampai akhirnya—“Kak…” suara Nadya pelan, hampir seperti takut memecah sesuatu.
Laras menoleh sedikit.
“Iya?”
Nadya tidak langsung melanjutkan. Ia menatap wajah kakaknya lebih lama dari biasanya. Mengamati. Mencari sesuatu.
“Kakak… nggak nangis sama sekali.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tidak keras. Tidak menuduh. Tapi… tepat mengenai sesuatu yang selama ini Laras hindari.
Laras tidak langsung menjawab.
Tatapannya kembali lurus ke depan. Ke halaman yang kosong. Ke sesuatu yang sebenarnya tidak ia lihat.
“Aku nggak bisa,” katanya akhirnya, suaranya pelan. Hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Nadya menggeleng pelan.
“Bukan nggak bisa, Kak…”