Laras kembali ke mejanya.
Langkahnya pelan, tapi pasti. Ia duduk seperti biasa, di kursi yang sama, di hadapan layar yang sama—yang selama ini menyita hampir seluruh hidupnya.
Namun hari itu… semuanya terasa berbeda.
Ia menatap layar komputer.
Angka-angka.
Tabel.
Kalimat-kalimat laporan.
Semuanya ada di sana.
Tapi tidak ada yang benar-benar masuk.
Yang terus berputar di kepalanya hanya satu kalimat—“Gaji kamu dipotong.”
Bukan karena jumlahnya.
Bukan soal uang.
Tapi tentang makna di baliknya.
Tentang bagaimana semua yang ia jalani…seolah tidak pernah cukup.
Tentang bagaimana kehilangan terbesar dalam hidupnya… tidak berarti apa-apa di tempat ini.
Tangannya bergerak pelan.
Membuka satu fail.
Menatapnya beberapa detik.
Menutupnya lagi.
Ia membuka email.
Puluhan pesan belum dibaca.
Semua terasa mendesak.
Tapi… tidak ada yang benar-benar penting.
Ia menghela napas.
Panjang.
Lalu tanpa banyak berpikir—ia membuka dokumen kosong.
Kursor berkedip di layar putih.
Menunggu.
Dan untuk pertama kalinya… Laras tidak merasa takut pada apa yang akan ia tulis.
Tangannya mulai bergerak.
Pelan.
Tapi pasti.
Surat Pengunduran Diri
Ia berhenti sejenak.
Menatap empat kata itu.
Seolah memastikan—ini benar.
Bukan emosi sesaat.
Bukan pelarian.
Tapi keputusan.
Dan anehnya… tidak ada gemetar.
Tidak ada ragu.
Seperti sesuatu di dalam dirinya sudah lama ingin melakukan ini—hanya menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya keluar.