Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #10

Bab 10 — Pulang yang Sebenarnya

Perjalanan pulang kali ini… berbeda.

Tidak ada terburu-buru.

Tidak ada pesan kantor yang masuk tanpa henti.

Tidak ada rasa dikejar sesuatu yang tidak pernah selesai.

Laras duduk di kursi bus antarkota, menyandarkan kepalanya ke jendela.

Kaca itu hangat terkena sinar matahari.

Ia memejamkan mata sejenak.

Menarik napas dalam.

Dan untuk pertama kalinya—napas itu terasa… utuh.

Bus melaju perlahan, meninggalkan kota yang selama ini ia pikir adalah tempatnya bertahan.

Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang.

Digantikan oleh jalan panjang.

Pepohonan.

Langit yang lebih terbuka.

Laras membuka mata.

Menatap ke luar.

Ada sesuatu yang berubah dalam cara ia melihat.

Bukan lagi sekadar lewat.

Tapi… benar-benar memperhatikan.

Hamparan pohon di tepi jalan bergerak mengikuti arah angin. Daunnya berkilau terkena cahaya matahari.

Beberapa kilometer kemudian, pemandangan berubah.

Perkebunan teh membentang luas.

Hijau.

Rapi.

Tenang.

Bukit-bukit yang meliuk seolah memeluk siapa pun yang melihatnya.

Laras tersenyum kecil.

Tipis. Tapi nyata.

Seorang ibu di kursi sebelahnya sempat melirik.

“Pulang kampung, Mbak?” tanyanya ramah.

Laras menoleh.

“Iya,” jawabnya.

Lihat selengkapnya