Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #12

Bab 12 — Jalan yang Tidak Pernah Ia Kenal

Pagi berikutnya—Laras tidak langsung menuju kebun.

Tidak juga ke kandang ayam.

Langkahnya justru berhenti di samping sesuatu yang sudah lama ada di sana—motor tua peninggalan ayahnya. Catnya sudah kusam. Beberapa bagian mulai berkarat. Dan jelas—tidak dalam kondisi terbaiknya. Tapi… masih utuh. Masih ada.

Seperti banyak hal di rumah itu. Tidak sempurna. Tapi bertahan.

Laras berdiri cukup lama di depannya. Tangannya menyentuh setang pelan.

Seolah mencoba mengingat sesuatu yang samar.

“Ibu pernah bilang, dulu Ayah sering pakai ini buat ke pasar,” suara Nadya terdengar dari belakang.

Laras menoleh. Ia mencoba mengingat kapan terakhir Ayahnya menyetir motor sebelum meninggal. 

Nadya berjalan mendekat sambil membawa kunci.

“Coba aja, Kak.”

Laras ragu. Sedikit. Ia menatap motor itu lagi.

“Masih bisa?” tanyanya pelan.

Nadya mengangkat bahu.

“Harusnya bisa.”

Laras mengambil kunci itu. Memasukkannya ke lubang starter.

Menarik napas. 

Sekali.

Dua kali.

Mesin itu batuk kecil.

Seperti menolak bangun.

Laras hampir menyerah.

Tapi ia mencoba lagi.

Dan—mesin itu hidup.

Suara kasarnya memenuhi udara pagi.

Tidak halus.

Tidak nyaman.

Tapi… nyata.

Laras tersenyum kecil. Ada rasa aneh yang muncul.

Seperti berhasil menghidupkan sesuatu yang hampir ia kira sudah mati.

“Jalan-jalan bentar ya,” katanya.

Nadya mengangguk.

“Hati-hati ya, Kak.”

“Kamu mau ikut?” Tanya Laras.

Nadya menggeleng.

“Nggak, Kak. Aku masih ngantuk.” Nadya beranjak masuk ke rumah lagi.

Tanpa rencana.

Tanpa tujuan.

Laras pergi.

Jalan desa terbentang di depannya. Tidak lurus.

Naik.

Turun.

Berkelok.

Lihat selengkapnya