Pagi-pagi setelahnya, rumah itu perlahan menemukan ritmenya sendiri.
Tidak lagi sepenuhnya sunyi.
Tidak lagi sepenuhnya asing.
Laras bangun saat langit masih setengah gelap. Udara dingin menyentuh kulitnya, tapi tidak menusuk seperti dulu. Ia berjalan ke belakang rumah, langkahnya pelan, membawa ember kecil berisi pakan ayam.
Dulu, suara ayam-ayam itu terasa mengganggu.
Sekarang—justru terasa seperti tanda kehidupan.
Ia membuka kandang. Ayam-ayam langsung berhamburan keluar, berisik, berebut, hidup.
Laras berdiri sejenak, memperhatikan.
Ada sesuatu yang sederhana di sana.
Tapi juga.. sangat jujur.
“Kasihnya jangan ditumpuk di satu tempat, Kak. Nanti mereka rebutan.”
Suara Nadya terdengar dari belakang. Ia berjalan mendekat, masih dengan rambut yang sedikit berantakan.
Laras menoleh.
“Oh… iya,” katanya pelan, lalu mulai menaburkan pakan lebih merata.
Butiran-butiran kecil jatuh ke tanah. Ayam-ayam langsung menyebar, tidak lagi saling dorong.
“Gitu,” ujar Nadya sambil tersenyum kecil.
Laras ikut tersenyum. Tipis, tapi nyata.
“Dulu Ibu pasti sabar banget ya…” katanya lirih, matanya masih mengikuti gerak ayam-ayam itu.
Nadya tidak langsung menjawab.
“Ibu nggak pernah kelihatan capek,” akhirnya ia berkata pelan. “Padahal pasti capek.”