Pagi di Banjarbumi datang dengan cara yang sama—pelan, tenang, dan tidak terburu-buru.
Angin membawa aroma tanah basah dari sawah di kejauhan. Burung-burung kecil bersahutan, mengisi ruang-ruang sunyi yang dulu terasa kosong.
Di dapur, Laras menuang teh hangat ke dalam dua gelas. Uapnya naik perlahan, menghangatkan udara di sekitarnya.
Nadya duduk di meja kecil, merapikan buku-bukunya.
“Kak, aku berangkat dulu ya,” katanya sambil memasukkan buku ke dalam tas.
Laras mengangguk.
“Iya. Hati-hati di jalan.”
Nadya berdiri, lalu mendekat. Seperti kebiasaan sejak kecil, ia mencium tangan Laras.
Laras menahan tangannya sebentar.
“Hati-hati, Nad.”
Nadya mengangguk, lalu pergi.
Suara langkahnya perlahan menghilang. Dan rumah itu kembali… sunyi.
Laras membawa gelas tehnya ke teras. Duduk di kursi kayu yang sudah mulai usang, tapi masih kokoh.
Ia menghela napas panjang.
Tidak ada yang mengejar.
Tidak ada yang menuntut.
Hanya waktu… dan dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—ia tidak merasa bersalah karena diam.
Sampai suara mobil itu memecah semuanya.
Laras mengernyit.
Jarang sekali ada mobil berhenti di depan rumah ini.
Ia berdiri. Melangkah ke arah pagar.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun lebih dulu. Posturnya tegap, langkahnya tenang.
Di belakangnya, seorang perempuan keluar dengan gerakan cepat. Matanya langsung menyapu rumah itu—tajam, menilai.
Laras langsung mengenali mereka.
Jati Dwiputra.
Dan Lestari Trikusuma.
Dadanya langsung mengencang.
“Laras,” sapa Jati singkat.
“Om…” jawab Laras pelan.
Tari tidak langsung menyapa. Ia hanya memandang sekeliling—dinding rumah, halaman, bahkan atap.
“Sudah lama ya nggak ke sini,” katanya akhirnya.
Nada suaranya ringan. Tapi tidak hangat.
Laras hanya mengangguk kecil.
“Silakan masuk, Om… Tante.”
Langkah kaki mereka terdengar jelas saat memasuki rumah.
Jati langsung duduk, seperti seseorang yang sudah terbiasa berada di sana.
Tari masih berdiri.
Matanya terus bergerak.
“Rumahnya masih sama,” katanya.
Lalu berhenti sebentar.
“Cuma… ya begitu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk membuat bahu Laras menegang.
Ia memilih diam.
Beberapa detik berlalu sebelum Jati akhirnya berdehem.
“Kami ke sini sekalian mau bahas sesuatu.”