Pagi itu terlihat biasa.
Atau setidaknya—Laras berusaha keras membuatnya terlihat seperti itu.
Di dapur kecil yang mulai akrab kembali baginya, Laras berdiri di depan kompor. Wajan tipis berisi telur dadar berdesis pelan. Aroma bawang dan cabai menyebar, bercampur dengan uap nasi hangat yang baru saja matang.
Gerakannya lebih luwes dibanding beberapa hari lalu. Tidak lagi terlalu kaku. Tapi tetap… belum sepenuhnya tenang.
Di meja makan, Nadya duduk diam.
Terlalu diam.
Tangannya memegang sendok, tapi tidak benar-benar digunakan. Matanya menatap piring, tapi pikirannya jelas tidak ada di sana.
Laras memperhatikannya dari jauh. Beberapa detik.
Lalu mendekat.
“Kamu kenapa?” tanyanya pelan, sambil meletakkan piring di depan Nadya.
Nadya tersentak kecil. Seolah baru sadar sedang diperhatikan.
“Nggak apa-apa,” jawabnya cepat.
Terlalu cepat.
Laras tidak langsung percaya.
“Kamu dari bangun tadi sudah diam terus,” lanjutnya, duduk di kursi seberang. “Ada yang kepikiran?”
Nadya menggeleng lagi. Tapi kali ini lebih pelan.
“Beneran nggak apa-apa, Kak…”
Suara itu… rapuh.
Laras menghela napas pelan. Ia tidak memaksa. Belum.
“Ya sudah… makan dulu ya. Nanti telat.”
Nadya mengangguk.
Tapi makannya tetap pelan. Nyaris seperti sekadar menggerakkan tangan tanpa rasa.
Dan Laras tahu—ada sesuatu yang tidak beres.
—
Di sekolah, hari itu berjalan seperti biasa bagi orang lain.
Tapi tidak bagi Nadya. Jam pelajaran terasa lebih panjang. Suara guru terdengar jauh. Tulisan di papan tulis tidak masuk ke kepala. Karena pikirannya… terus kembali ke satu hal.
Satu suara.
Satu kalimat.
Yang kemarin belum selesai.
Saat bel pulang berbunyi, Nadya keluar dari gerbang sekolah dengan langkah pelan. Tasnya digendong erat. Matanya menunduk.
Sampai ia melihat mobil itu.
Berhenti di sisi jalan.
Mengkilap.
Asing.
Dan seseorang berdiri di sampingnya.
Senyumnya rapi.
Terlalu rapi.
“Nadya.”
Suara itu lembut.
Tapi membuat langkah Nadya berhenti.
Tubuhnya kaku beberapa detik.
“…Tante Tari…”
Ia tetap mendekat. Tidak berani untuk tetap diam.
Tari tersenyum hangat. Tangannya dengan lembut merapikan rambut Nadya yang sedikit berantakan karena angin.
“Kamu kelihatan capek,” katanya pelan. “Sekolahnya gimana hari ini?”
“Baik…”
Jawaban singkat. Hampir seperti refleks.
Tari mengangguk.
“Ayo, Tante anter pulang.”
Nadya langsung menggeleng kecil.
“Nggak usah, Tante… aku biasa naik angkot…”
“Ah,” Tari tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih dalam. “Sekali-sekali nggak apa-apa, kan?”
Nada suaranya tetap lembut.
Tapi ada sesuatu yang… menekan. Tidak memberi ruang untuk benar-benar menolak.
Nadya ragu. Beberapa detik. Lalu… mengangguk pelan.
“Iya…”
—
Di dalam mobil, udara terasa dingin.