Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #17

Bab 17 — Pagi yang Tidak Lagi Sama

Pagi itu datang… lebih pelan dari biasanya.

Tidak ada suara ayam yang terlalu berisik. Tidak ada langkah tergesa. Bahkan angin yang masuk dari celah jendela terasa lebih hati-hati, seolah tidak ingin mengganggu apa pun yang sedang rapuh di dalam rumah itu.

Di dalam kamar, Nadya masih tertidur.

Tubuh kecilnya terbaring miring, selimut menutupi hingga bahu. Wajahnya pucat—lebih pucat dari biasanya. Rambut hitam lurus sebahunya jatuh berantakan, sebagian menutupi pipi yang tampak lebih tirus.

Ia terlihat… lebih kecil. Lebih lemah.

Lebih rentan. Laras berdiri di ambang pintu.

Tidak masuk.

Tidak juga pergi.

Hanya berdiri.

Menatap.

Cukup lama.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama dengan jelas.

Bersalah.

Takut. Dan… terlambat menyadari.

“Harusnya aku lebih peka…” bisiknya pelan, hampir tanpa suara.

Ia teringat wajah Nadya semalam.

Tatapan ragu.

Kalimat yang terpotong.

Dan bagaimana ia—terlalu fokus bertahan—sampai tidak sadar adiknya sedang pelan-pelan runtuh.

Laras menutup pintu kamar itu perlahan.

Seolah takut suara sekecil apa pun bisa memecahkan sesuatu yang sudah retak.

Di dapur, suasana masih sama.

Kompor kecil.

Meja kayu.

Cahaya pagi yang masuk dari jendela samping. Namun, ada yang berbeda dari Laras.

Gerakannya lebih pelan.

Lebih hati-hati.

Ia menuang air hangat ke dalam gelas, lalu menyiapkan obat dari klinik semalam. Tangannya tidak gemetar. Tapi juga tidak sekuat biasanya.

Ia berhenti sebentar. Menatap gelas itu.

Seolah sedang menatap sesuatu yang lebih dalam dari sekadar air.

“Ini bukan cuma sakit badan…” gumamnya pelan.

Dan untuk pertama kalinya—ia benar-benar menyadari—bahwa yang harus ia jaga… bukan hanya kehidupan mereka.

Tapi juga… hati yang mulai goyah.

Lihat selengkapnya