Hari-hari setelah itu tidak lagi terasa berat seperti sebelumnya.
Bukan berarti semua masalah hilang. Bukan berarti semuanya menjadi mudah.
Tapi ada sesuatu yang berubah dalam cara Laras menjalaninya.
Ritmenya melambat—namun justru di situlah ia mulai benar-benar hidup.
—
Pagi-pagi kini dimulai dengan langkah yang lebih pasti.
Laras keluar rumah saat embun masih menggantung di ujung daun. Udara dingin menyentuh kulitnya, tapi tidak lagi terasa mengganggu.
Di tangannya, wadah kecil berisi pakan ayam.
Ia berjalan ke belakang rumah.
“Pagi…” gumamnya pelan, hampir seperti menyapa.
Ayam-ayam langsung bergerak mendekat. Suara kepakan dan kokok mereka memenuhi halaman.
Laras menebar pakan.
Gerakannya tidak lagi ragu.
Tidak lagi kaku.
Seperti tubuhnya mulai mengingat sesuatu yang dulu pernah ia lupakan.
Nadya muncul beberapa menit kemudian, masih dengan wajah sedikit mengantuk.
“Telurnya sudah diambil?” tanyanya.
“Belum,” jawab Laras sambil tersenyum tipis. “Kita ambil bareng.”
Mereka masuk ke kandang kecil. Satu per satu telur dikumpulkan.
Hangat.
Utuh.
Sederhana.
Tapi entah kenapa—memberi rasa puas yang tidak pernah ia temukan di kota.
“Lumayan banyak ya sekarang,” kata Nadya pelan.
Laras mengangguk.
“Iya… dulu aku nggak pernah sadar Ibu ngurus semua ini sendirian.”
Kalimat itu menggantung.
Mereka saling diam beberapa detik.
Bukan karena tidak ingin bicara. Tapi karena ada rasa yang tidak perlu dijelaskan.
Setelah itu, Laras beralih ke kebun.
Tanah yang dulu terasa asing kini mulai akrab di telapak kakinya. Ia berjalan tanpa ragu, bahkan saat lumpur menempel di sandal.
Tangannya menyentuh daun-daun, memeriksa batang tanaman, mencabut rumput liar dengan lebih terampil.
“Yang ini sudah bisa dipanen,” ujar Nadya sambil menunjuk bayam yang tumbuh rapi.
Laras berjongkok.
Memegang batangnya.