Hari itu panen terasa berbeda. Lebih banyak dari biasanya.
Bukan hanya bayam dan kangkung.Tapi juga telur yang terkumpul hampir memenuhi satu keranjang.
Beberapa buah dari pohon di belakang rumah juga sudah cukup matang untuk dipetik.
Mangga.
Beberapa jeruk.
Dan sedikit rambutan.
Laras berdiri di depan hasil panen itu. Tangannya bertolak di pinggang.
Menatapnya lama. Seolah sedang mencoba memahami sesuatu.
“Ini… kebanyakan kalau cuma kita makan,” gumamnya.
Nadya yang berdiri di sampingnya ikut melihat.
“Iya juga…”
Mereka saling diam sebentar.
Lalu Nadya berkata pelan, “Coba dijual?”
Laras menoleh.
“Ke mana?”
“Ke pasar.”
Sederhana. Masuk akal. Tapi bagi Laras… itu bukan hal kecil.
Ia belum pernah melakukannya.
Bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
“Kalau nggak laku gimana?” tanyanya ragu.
Nadya mengangkat bahu kecil.
“Kalau nggak dicoba… nggak akan tahu.”
Jawaban itu ringan. Tapi cukup untuk membuat Laras berpikir.
—
Sore harinya, seperti kebetulan yang terlalu tepat—Rama datang.
Ia berhenti di depan rumah, turun dari kendaraan, lalu melihat tumpukan hasil panen di halaman.
“Kamu mau ke pasar?” tanyanya langsung.
Laras sedikit terkejut.
“Kelihatan ya?”
Rama mengangguk kecil.
“Kelihatan bingungnya.”
Laras tersenyum tipis. Tidak menyangkal.