Pagi itu Nadya berangkat lebih awal dari biasanya.
Seragamnya disetrika rapi. Rok abu-abu jatuh lurus sampai lutut. Kemeja putihnya bersih, meski sedikit longgar di tubuhnya yang mungil. Rambut hitam lurus sebahunya diikat sederhana ke belakang. Ia berdiri beberapa detik di depan cermin sebelum berangkat.
Menatap dirinya sendiri. Mencoba terlihat… baik-baik saja. Padahal tidak.
Langkahnya menuju sekolah terasa lebih pelan. Bukan karena ia terlambat—justru karena ia berharap waktu bisa sedikit ditahan.
Di gerbang sekolah, suasana sudah ramai. Siswa-siswa datang berkelompok. Suara tawa. Panggilan nama. Hal-hal yang biasanya terasa biasa—hari ini terdengar jauh.
Sampai langkahnya berhenti. Di sana.
Seorang perempuan berdiri.
Tinggi. Tegap. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di punggung. Seragamnya sempurna, seperti tidak pernah kusut. Wajahnya cantik—tegas, tanpa cela. Tapi matanya… dingin.
Artika, anak dari Lestari—sepupu Nadya.
Tatapan mereka bertemu. Hanya sebentar.
Tapi cukup untuk membuat Nadya merasa seperti sedang dinilai dari ujung kepala sampai kaki.
“Hai, Nad.”
Suaranya halus. Tenang. Tidak meninggi.
Namun tidak ada kehangatan di dalamnya.
Nadya menelan pelan.
“Hai, Artika…”
Sapaan dibalas. Tapi terasa seperti formalitas.
Tidak ada senyum yang benar-benar sampai ke mata.
Artika mengangguk kecil. Tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya lewat begitu saja. Namun kehadirannya meninggalkan sesuatu yang menggantung.
Perasaan… tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan.
—
Siang itu kantin sekolah penuh.
Suara piring beradu. Tawa kecil di beberapa meja. Obrolan yang saling bertabrakan. Aroma makanan bercampur jadi satu.
Nadya duduk di pojok.
Seperti biasa.
Tempat yang tidak terlalu terlihat.
Ia memegang sendok. Mengaduk nasi pelan. Tapi tidak benar-benar makan.
Pikirannya masih tertinggal di rumah.
Pada Laras.
Pada percakapan malam itu.
Pada kalimat yang tidak seharusnya ia ucapkan.
“Boleh duduk?”
Suara itu datang tanpa peringatan.