Sejak hari itu—Artika tidak pernah benar-benar mendekat.
Tapi juga tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak mencari Nadya.
Tidak memanggil.
Tidak mengajak.
Namun entah bagaimana—ia selalu ada.
Di ujung koridor saat pergantian jam.
Di tangga saat jam istirahat.
Di kantin, beberapa meja dari tempat Nadya duduk.
Kadang hanya lewat.
Kadang berhenti sebentar.
Kadang… hanya cukup untuk membuat Nadya sadar bahwa ia diperhatikan.
“Belum pulang?”
Sapaan ringan.
“Iya… masih nunggu angkot.”
“Capek ya hari ini?”
Pertanyaan sederhana. Tapi selalu datang di waktu yang tepat.
Dan Nadya—yang sedang lelah, bingung, dan penuh pikiran—tidak punya cukup kekuatan untuk menutup diri sepenuhnya.
Ia menjawab.
Pelan.
Singkat.
Tapi cukup untuk membuka sedikit celah.
—
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Atau setidaknya—terlihat biasa dari luar.
Namun di dalam diri Nadya—ada sesuatu yang perlahan berubah.
Bukan drastis.
Bukan tiba-tiba.
Tapi seperti air yang menetes.
Sedikit.
Terus-menerus.
Dan akhirnya… membentuk sesuatu.
“Belajar terus ya,” kata Artika suatu sore di tangga.
“Kalau mau kuliah nanti, biayanya besar.”
Nadya hanya mengangguk. Tidak membantah.
“Sekarang apa-apa mahal,” ujar Artika di kantin, sambil memainkan sedotan minumannya.
“Apalagi kalau sendiri.”
Kalimat itu terdengar ringan. Tapi menancap.