Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #23

Bab 23 — Retakan yang Tidak Bisa Disangkal

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Lampu dapur masih menyala. Cahaya kuningnya jatuh lembut di meja makan yang sederhana. Piring sudah tersusun rapi. Nasi tinggal sedikit. Lauk hampir habis. Tapi Nadya belum beranjak.

Ia masih duduk di sana.

Sendok di tangannya diam.

Laras berdiri di dekat wastafel, mencuci piring pelan. Suara air mengalir menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di ruangan itu.

Ia melirik sekilas. Nadya belum bergerak.

Belum selesai. Atau mungkin… tidak benar-benar mulai.

“Tadi di sekolah gimana?”

Pertanyaan itu keluar tanpa menoleh. Nada Laras tenang. Seolah hanya ingin membuka percakapan biasa.

Tidak ada jawaban.

Hanya bunyi sendok yang perlahan diletakkan kembali ke piring.

Laras berhenti mencuci. Menoleh.

“Nad?”

Nadya menarik napas pelan.

“Tadi… ketemu Artika lagi.”

Nama itu jatuh begitu saja. Tapi efeknya terasa.

Laras tidak langsung merespons.

Ia mengeringkan tangannya dengan lap kecil. Lalu berjalan mendekat. Duduk di seberang Nadya.

“Terus?”

Nadya menunduk.

Matanya tidak melihat apa-apa secara jelas. Pikirannya masih terjebak di siang tadi.

“Dia bilang…” suaranya pelan, nyaris seperti berbisik, “…kita harus mulai mikirin ke depan.”

Sunyi.

Kalimat itu menggantung.

Tidak terdengar salah.

Tidak terdengar jahat.

Justru karena itu… sulit ditolak.

Laras menatap adiknya cukup lama. Mencari sesuatu.

“Maksudnya?”

Nadya mengangkat kepala perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Dia nggak salah, Kak…”

Kalimat itu ringan.

Tapi seperti sesuatu yang retak—akhirnya terdengar jelas.

Laras diam.

Tidak memotong.

Tidak membantah.

Ia menunggu.

Lihat selengkapnya