Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #24

Bab 24 — Darah yang Tidak Bisa Diabaikan

Hari itu terlihat biasa. Terlalu biasa.

Langit tertutup awan tipis. Tidak gelap, tapi juga tidak terang. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah dan daun dari halaman sekolah.

Di koridor lantai dua, langkah kaki siswa terdengar saling bersahutan. Beberapa tertawa. Sebagian mengeluh soal tugas. Yang lain hanya berjalan tanpa tujuan jelas.

Nadya ada di antara mereka.

Namun tidak benar-benar menjadi bagian dari suasana itu.

Ia berjalan pelan. Buku dipeluk erat di dada.

Seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang.

Pikirannya masih penuh.

Tentang percakapan semalam.

Tentang kata-kata yang terus berputar.

Tentang rasa takut yang belum hilang.

Langkahnya melambat saat melewati pagar pembatas koridor.

Di bawah—halaman sekolah cukup ramai.

Beberapa siswa kelas 12 sedang berlatih. Teriakan instruksi terdengar samar.

Nadya tidak benar-benar memperhatikan.

Sampai—Suara itu datang.

Keras. Tidak wajar.

Seperti sesuatu yang jatuh dan menghantam permukaan kasar.

Disusul teriakan.

“Woi! Hati-hati!”

“Artika!”

Langkah Nadya langsung terhenti. Jantungnya ikut tersentak.

Ia menoleh ke bawah.

Kerumunan mulai terbentuk.

Cepat.

Terlalu cepat.

Tanpa berpikir panjang—kakinya bergerak.

Turun tangga.

Satu per satu anak tangga dilalui lebih cepat dari biasanya.

Jantungnya berdetak lebih kencang.

Bukan karena tahu apa yang terjadi.

Tapi karena… sesuatu menariknya ke sana.

Saat ia sampai di halaman—ia langsung melihatnya.

Artika.

Duduk di tanah. Tubuhnya sedikit miring.

Tangannya memegang lengan kanan—yang kini berlumuran darah.

Warna merah itu kontras dengan seragam putihnya.

Mencolok.

Sulit diabaikan.

Beberapa siswa di sekitarnya panik.

“Ambil tisu!”

Lihat selengkapnya