Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #25

Bab 25 — Yang Mengalir Tanpa Perhitungan

Suara sirine ambulans memecah keramaian di depan gerbang sekolah.

Tajam. Mendesak. Tidak memberi ruang untuk ragu.

Mobil itu berhenti mendadak. Pintu belakang terbuka lebar. Dua petugas langsung turun dengan gerakan cepat dan terlatih, membawa tandu lipat.

“Yang luka di mana?” salah satu dari mereka bertanya tegas.

“Di sini! Cepat!” sahut seorang siswa dari tengah kerumunan.

Orang-orang otomatis membuka jalan.

Artika segera diangkat dengan hati-hati. Tangannya masih menekan bagian luka, meski darah tetap merembes keluar di sela jari-jarinya. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.

“Pelan-pelan… angkat,” ujar petugas lain, memastikan posisi tubuhnya stabil.

Begitu tubuh Artika dipindahkan ke atas tandu, salah satu petugas menoleh cepat ke sekitar.

“Temannya ikut satu!”

Kalimat itu menggantung.

Beberapa siswa saling melirik. Tidak ada yang langsung bergerak. Ragu. Takut. Tidak siap.

Nadya berdiri di antara mereka.

Tangannya masih berbekas darah.

Dingin.

Namun tanpa sadar, kakinya melangkah maju.

“Aku ikut.”

Tidak ada jeda.

Tidak ada pertimbangan panjang.

Hanya keputusan yang muncul begitu saja—seolah tubuhnya lebih dulu tahu daripada pikirannya.

“Saya juga ikut.” Ucap salah satu guru, Bu Guru Maya.

Petugas mengangguk singkat.

“Cepat.”

Nadya dan Bu Guru Maya naik ke dalam ambulans. Duduk di samping tandu. Pintu ditutup keras dari luar.

Dan seketika—dunia terasa terputus.

Sirine kembali meraung. Kendaraan melaju kencang.

Di dalam—ruang sempit itu dipenuhi suara mesin, alat medis, dan napas yang berusaha stabil.

Artika terbaring. Matanya setengah terbuka. Sesekali meringis saat kendaraan berguncang.

Seorang petugas mulai membersihkan luka dengan cepat.

“Lukanya cukup dalam… darahnya banyak keluar,” gumamnya, lebih seperti laporan daripada percakapan.

Nadya menelan pelan.

Ia duduk diam. Tangannya berada di pangkuan. Masih dingin. Masih sedikit gemetar.

Beberapa detik berlalu.

Artika menggerakkan kepalanya pelan. Matanya mencari… sesuatu. Lalu berhenti pada satu titik.

Nadya.

“Kamu…” suaranya lemah, hampir hilang di antara suara mesin.

Nadya sedikit mendekat.

“Iya.”

Sunyi sesaat.

“Kok… ikut?” tanya Artika lirih.

Lihat selengkapnya