Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #26

Bab 26 — Reaksi yang Tidak Pernah Sederhana

Rumah sakit di Kota Cibumi tidak pernah benar-benar sunyi.

Bahkan ketika sore mulai turun, aktivitas di dalamnya tetap bergerak seperti arus yang tidak berhenti.

Langkah kaki tergesa.

Roda tandu berderit pelan.

Percakapan pendek yang dipenuhi urgensi.

Semua bercampur menjadi satu irama yang terus berjalan.

Namun di salah satu ruang perawatan—suasana justru terasa berbeda.

Lebih tenang.

Terlalu tenang.

Artika terbaring di atas ranjang.

Lengannya sudah dibalut perban rapi. Infus terpasang di sisi kanan. Wajahnya masih pucat, tapi napasnya jauh lebih teratur dibanding sebelumnya.

Di samping tempat tidur—Lestari Trikusuma duduk tegak.

Terlalu tegak.

Tangannya terlipat di pangkuan. Punggungnya lurus. Tatapannya tertuju pada anaknya—tanpa berkedip.

Namun itu bukan tatapan lega.

Bukan pula sepenuhnya khawatir.

Ada sesuatu yang lebih kaku. Lebih terkendali.

“Kenapa bisa ceroboh begitu?”

Suaranya pelan.

Tidak tinggi.

Namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu menegang.

Artika tidak langsung menjawab.

Matanya menatap langit-langit. Seolah mencoba menyusun kata-kata yang tidak ingin keluar.

“Lagi latihan…” jawabnya akhirnya.

Singkat.

“Latihan bukan alasan untuk tidak hati-hati.”

Potongan kalimat itu datang cepat.

Tegas. Tidak memberi ruang.

Sunyi kembali mengisi ruangan.

Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya.

Lalu—pintu terbuka pelan.

Lihat selengkapnya