Malam turun perlahan di rumah itu.
Tidak ada suara ramai. Tidak ada percakapan panjang. Hanya bunyi samar jangkrik dari luar dan gesekan daun yang tertiup angin.
Di ruang tengah, Nadya duduk diam.
Punggungnya sedikit membungkuk. Tatapannya kosong, terarah ke lantai kayu yang mulai kusam dimakan usia. Tangannya bertumpu di pangkuan—bersih, tapi terasa masih menyimpan sesuatu.
Seolah jejak darah itu belum benar-benar hilang.
Bukan di kulitnya. Tapi di ingatannya.
Ia menarik napas pelan. Namun dadanya tetap terasa sempit.
Langkah kaki terdengar dari arah dapur.
Laras muncul membawa dua gelas teh hangat. Uapnya naik tipis, membawa aroma yang menenangkan—meski tidak sepenuhnya mampu menjangkau kegelisahan yang ada di ruangan itu.
“Minum dulu,” katanya lembut.
Nadya menerima gelas itu. Jarinya menyentuh permukaan hangat, mencoba mencari rasa nyaman dari sesuatu yang sederhana.
“Iya… makasih, Kak.”
Suaranya pelan. Hampir seperti berbisik.
Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk saling merasakan kehadiran.
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Hanya bunyi sendok yang pelan bersentuhan dengan gelas.
“Capek?” tanya Laras akhirnya, suaranya rendah.
Nadya mengangguk kecil.
“Iya…”
Jawaban singkat.
Namun di baliknya, ada lebih dari sekadar lelah fisik.
Ada sesuatu yang belum selesai di dalam dirinya.
Sunyi kembali mengisi.
Lalu—“Kak…”
Laras menoleh.
“Iya?”
Nadya menggenggam gelasnya sedikit lebih erat.
“Tadi… Artika kecelakaan.”
Kalimat itu keluar perlahan. Seolah setiap kata harus melewati sesuatu yang berat sebelum bisa terdengar.
Laras langsung mengangkat wajahnya.