Dua hari berlalu sejak kejadian itu.
Sekolah kembali seperti biasa.
Suara bel berbunyi. Langkah kaki memenuhi koridor. Percakapan ringan kembali terdengar di setiap sudut.
Namun bagi sebagian orang—tidak semua kembali sama.
Pagi itu, Artika melangkah lebih pelan dari biasanya.
Lengannya masih diperban. Gerakannya sedikit terbatas. Sesekali ia menahan napas ketika rasa nyeri muncul tanpa peringatan.
Wajahnya tetap tenang.
Namun tidak lagi setenang dulu.
Ada sesuatu yang berubah di dalamnya.
Di koridor lantai dua, Nadya berjalan seperti biasa.
Tidak tergesa.
Tidak mencari perhatian.
Seperti hari-hari sebelumnya.
Sampai—tatapan mereka bertemu. Beberapa langkah terpisah.
Tidak jauh.
Namun cukup untuk membuat waktu terasa melambat.
Keduanya berhenti.
Tidak ada yang langsung berbicara. Ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang belum diberi nama. Namun, tidak bisa diabaikan.
Artika yang lebih dulu bergerak.
Langkahnya mantap, meski sedikit tertahan oleh kondisinya.
Ia mendekat.