Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #29

Bab 29 — Kedatangan yang Tidak Mengusik

Sore itu datang tanpa tergesa.

Langit tidak sepenuhnya cerah, tapi juga belum cukup kelabu untuk disebut mendung. Cahaya matahari turun lembut, menyentuh halaman rumah dengan warna keemasan yang hangat. Angin berembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon mangga yang mulai dipenuhi bakal buah kecil.

Di belakang rumah, ayam-ayam petelur bersuara bersahut-sahutan. Irama yang sudah akrab. Tidak berisik. Justru terasa hidup.

Nadya berjalan perlahan di antara kandang, membawa keranjang kecil di tangannya. Ia mengambil telur satu per satu dengan hati-hati, seolah benda rapuh itu lebih dari sekadar hasil ternak.

Di teras, Laras duduk bersandar di kursi kayu.

Di pangkuannya, sebuah buku catatan terbuka.

Tangannya bergerak pelan—menulis angka, mencatat hasil panen, menyusun rencana sederhana untuk esok hari.

Tentang apa yang harus diperbaiki.

Tentang apa yang bisa ditanam lagi.

Tentang hidup… yang kini tidak lagi ia jalani dengan terburu-buru.

Sesekali ia berhenti menulis. Menatap halaman. Seolah memastikan—semua ini nyata.

Suara mesin motor terdengar dari kejauhan.

Berbeda. Lebih berat. Lebih dalam.

Tidak seperti motor warga desa yang biasa melintas.

Laras mengangkat kepala. Matanya menyipit sedikit, mencoba mengenali suara itu.

Motor itu semakin dekat.

Lalu berhenti tepat di depan rumah. Debu tipis terangkat.

Mesinnya mati perlahan.

Yang tersisa hanya sisa dengung yang menggantung sesaat di udara.

Motor gede tua—model klasik—berdiri kokoh di sana. Catnya tidak baru, tapi terawat. Suaranya tadi mencerminkan hal yang sama: tua, tapi tidak kehilangan tenaga.

Pengendaranya melepas helm.

Rambut ikalnya terikat asal, sedikit berantakan.

Wajahnya santai. Tidak tegang. Tidak canggung.

“Gandhi…”

Nama itu keluar begitu saja dari mulut Laras.

Laki-laki itu tersenyum lebar.

“Masih inget, ya.”

Nada suaranya ringan. Seolah tidak ada jarak waktu di antara mereka.

Lihat selengkapnya