Hari-hari setelah itu berubah.
Tidak drastis.
Tidak tiba-tiba.
Namun terasa.
Seperti sesuatu yang perlahan menyusup tanpa membuat gaduh.
Gandhi mulai sering datang.
Tidak setiap hari.
Tidak selalu lama.
Kadang siang.
Kadang sore menjelang malam.
Kadang hanya satu atau dua jam—cukup untuk duduk, membuka laptop, lalu pergi tanpa banyak kata.
Namun kehadirannya—mulai terasa “ada”.
—
Di teras, laptop terbuka di atas meja kayu. Beberapa lembar kertas berserakan. Catatan, coretan, revisi yang belum rapi.
Laras duduk di satu sisi.
Gandhi di sisi lain, sedikit membungkuk menatap layar.
“Ini terlalu panjang,” kata Laras sambil menunjuk bagian tertentu.
Gandhi mendekat.
“Lah… kan biar lengkap.”
“Lengkap bukan berarti muter-muter,” jawab Laras tenang.
Ia menggeser laptop sedikit.
“Intinya hilang kalau kebanyakan penjelasan.”
Gandhi menghela napas panjang.
“Berat juga ya jadi dosen…”
Laras menatapnya datar.
“Siapa yang dosen?”
Gandhi tersenyum lebar.
“Ya sudah, Bu Dosen.”
Laras menggeleng. Tapi tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul.
Percakapan mereka mengalir tanpa tekanan.
Kadang serius.
Kadang melebar ke hal-hal yang tidak direncanakan.
—
Suatu sore, ketika pekerjaan mereka berhenti di tengah jalan—Gandhi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap ke arah kebun.
“Lo dulu di Jakarta gimana sih?” tanyanya tiba-tiba.
Laras tidak langsung menjawab.
Ia mengikuti arah pandang Gandhi.