Parsel itu datang di siang hari yang terasa biasa. Tidak ada tanda-tanda khusus. Tidak ada firasat.
Seorang kurir berhenti di depan pagar, memanggil pelan. Nadya yang sedang menyapu halaman menoleh, lalu berjalan mendekat dengan langkah ragu. Di tangannya, kotak buah itu terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Ia membawanya masuk ke dalam rumah.
Laras yang sedang merapikan hasil panen di meja hanya melirik sekilas.
“Dari siapa?” tanyanya tanpa benar-benar berhenti bekerja.
Nadya membuka kartu kecil yang terselip di antara buah-buah segar itu. Tulisan rapi. Singkat.
Terima kasih.
Lestari. Nama itu tertulis di ujung kanan bawah kartu ucapannya.
Nadya diam lebih lama dari yang seharusnya. Jari-jarinya menahan kartu itu, seolah berharap ada kalimat lain yang tersembunyi di baliknya.
“Ini maksudnya ucapan terima kasih kamu sudah menolong Artika?” suara Laras memecah.
Nadya mengangguk pelan. Tapi matanya tidak sepenuhnya yakin.
“Iya..”
Namun keduanya tahu—ini bukan penutup. Ini hanya jeda.
—
Beberapa hari setelahnya, suasana sore yang seharusnya tenang kembali berubah.
Suara mobil berhenti di depan rumah. Tidak tergesa. Tapi tegas.
Langkah kaki itu turun. Teratur. Pasti.
Laras sudah berdiri di teras sebelum pintu mobil benar-benar tertutup.
Ia tidak terkejut. Ia sudah menunggu ini.
Lestari Trikusuma berjalan masuk dengan langkah yang sama seperti sebelumnya—terkendali, rapi, dan penuh kesadaran akan kehadirannya. Senyum tipis terpasang di wajahnya. Bukan karena ramah. Tapi karena terbiasa.
“Laras,” sapanya ringan.
“Tante..” jawab Laras singkat.
Tidak ada basa-basi panjang. Tidak ada kehangatan yang dipaksakan.
Hanya dua orang yang tahu—percakapan ini tidak akan sederhana.
Mereka duduk di ruang tamu. Nadya memilih diam di dapur, tapi telinganya tetap menangkap setiap kata.