Malam itu langit Banjarbumi gelap tanpa bulan.
Hanya titik-titik kecil bintang yang bertahan di kejauhan—seolah enggan menghilang sepenuhnya.
Udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Dan di depan sebuah rumah besar yang berdiri kokoh di ujung jalan desa, seorang laki-laki berdiri diam cukup lama.
Gandhi.
Tangannya masih menggenggam helm. Tapi pikirannya sudah jauh masuk ke dalam.
Rumah itu tidak berubah.
Catnya masih sama. Halamannya masih rapi.
Tapi malam itu—rasanya berbeda.
Lebih berat.
Seperti ada sesuatu yang harus ia hadapi.
Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.
“Masuk.”
Suara itu datar. Tidak tinggi. Tapi tidak memberi pilihan.
Jati Dwiputra sudah duduk di ruang tamu. Tegak. Kaku. Seperti selalu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan.
Gandhi melangkah masuk. Duduk di kursi seberang.
Jarak di antara mereka tidak jauh.
Tapi terasa sangat panjang.
Sunyi.
Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan.
Tapi karena terlalu banyak.
“Kamu ke sana lagi?” suara Jati akhirnya memecah.
Langsung.
Tanpa pembuka.
“Iya,” jawab Gandhi.
Pendek. Jelas.
Jati menatapnya lebih lama.
“Untuk apa?”
Gandhi menarik napas pelan.
“Bantu.”
“Bantu siapa?” nada Jati mulai mengeras.
“Laras. Nadya.”
Hening jatuh lagi. Lebih berat dari sebelumnya.
“Kenapa kamu ikut campur urusan itu?” suara Jati kini lebih tajam.
Gandhi tidak langsung menjawab.
Ia menatap meja di depannya. Mengumpulkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan cepat.
“Karena itu bukan sekadar urusan,” katanya akhirnya.
Jati menghela napas pendek. Nada kesabarannya mulai menipis.