Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #34

Bab 34 — Ancaman yang Tidak Lagi Halus

Hari itu datang tanpa peringatan.

Tidak ada firasat.

Tidak ada tanda.

Hanya suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah—lebih keras dari biasanya.

Satu mobil.

Lalu satu lagi.

Debu tipis terangkat dari jalan tanah.

Laras yang sedang menyiram tanaman langsung berhenti. Selang di tangannya masih mengalir, tapi perhatiannya sudah beralih sepenuhnya ke depan.

Dadanya langsung terasa tidak nyaman.

Ia tahu. Ini bukan kunjungan biasa.

Pintu mobil terbuka.

Jati Dwiputra turun lebih dulu. Wajahnya tidak lagi netral. Tidak ada usaha untuk terlihat tenang.

Di belakangnya, Lestari Trikusuma melangkah dengan sikap yang sama—rapi, terkontrol, tapi kali ini… lebih tajam.

Tidak ada senyum.

Tidak ada basa-basi.

Mereka langsung berjalan masuk.

Laras berdiri di teras. Tidak mundur. Tidak juga menyambut.

Hanya… menunggu.

“Kami bawa ini,” kata Jati sambil mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya.

Gerakannya tegas. Tidak ragu.

Laras tidak langsung mengambil.

Matanya hanya tertuju pada benda itu.

“Apa itu?”

“Surat.”

Jawaban singkat.

Tari melangkah setengah langkah ke depan.

“Somasi.”

Satu kata.

Dan udara di sekitar mereka seolah berubah.

Lebih berat.

Lebih dingin.

Lihat selengkapnya