Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #35

Bab 35 — Yang Disembunyikan Terlalu Lama

Beberapa hari setelahnya. Siang hari terasa menekan.

Bukan karena matahari yang menyengat—meski cahaya di luar memang terik—melainkan karena udara di dalam rumah seolah menahan sesuatu yang belum dilepaskan.

Laras berdiri di ruang tengah. Tangannya masih menggenggam map somasi yang beberapa hari lalu diberikan. Kertas itu sudah sedikit terlipat di ujungnya, seolah terlalu sering dibuka… atau terlalu lama dipikirkan.

Di hadapannya, ruang terasa sempit. Padahal tidak ada yang berubah dari ukuran rumah itu.

Yang berubah… adalah orang-orang di dalamnya.

Gandhi duduk di kursi kayu, satu kaki terangkat, satu lagi menapak lantai. Sikapnya terlihat santai—tapi rahangnya menegang.

Joni berdiri di dekat pintu, tubuhnya tidak benar-benar diam. Tangannya sesekali bergerak, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan… tapi belum keluar.

Dan di depan mereka—Jati dan Lestari Trikusuma.

Datang lagi. Kali ini tanpa basa-basi.

“Kami tidak akan menunggu lebih lama,” ucap Tari.

Suaranya tetap lembut. Terukur. Namun kali ini tidak ada lagi lapisan kesopanan yang menipu.

“Kalau tidak ada keputusan,” lanjutnya, “kami akan lanjut ke jalur hukum.”

Kalimat itu meluncur tenang. Tapi jatuh seperti beban.

Laras menatap mereka satu per satu.

Tidak lagi menunduk. Tidak lagi menghindar.

“Keputusan apa lagi yang kalian mau?” tanyanya.

Nada suaranya tidak tinggi. Justru itu yang membuatnya terasa lebih kuat.

Jati maju satu langkah.

“Seperti yang kamu tahu, rumah ini harus dibagi.”

Langsung. Tegas. Tanpa celah.

“Dibagi?”

Suara Gandhi memotong. Ia berdiri. Langsung menghadap ayahnya.

“Pak… dibagi berdasarkan apa?”

Tatapan mereka bertemu. Jati menyipitkan mata.

“Jangan ikut campur.”

“Ini bukan ikut campur,” balas Gandhi, tetap tenang.

 “Ini nanya sesuatu yang dari awal nggak pernah dijelasin.”

Tari menghela napas pendek.

“Jelas,” katanya, sedikit lebih tinggi.

 “Ini warisan keluarga.”

Gandhi tersenyum tipis. Bukan senyum hangat.

“Tapi kalian nggak pernah ngomong pembagian awalnya.”

Hening. Cepat. Tajam.

Seperti sesuatu yang baru saja disentuh… dan langsung terasa.

Jati mengernyit.

“Apa maksud kamu?”

Gandhi melangkah sedikit lebih dekat.

“Dari awal pembagian itu sudah ada, kan?”

 Suaranya tetap datar. Tapi jelas.

“Kalian cuma… nggak pernah mau ngomong.”

Ruangan itu berubah. Udara terasa lebih berat.

Lestari melirik Jati sekilas. Singkat. Tapi cukup untuk terlihat.

“Tidak ada pembagian seperti itu,” kata Jati cepat.

Terlalu cepat.

“Bohong.”

Satu kata.

Bukan dari Gandhi.

Semua menoleh.

Lihat selengkapnya