Siang itu datang dengan warna langit yang menggantung—kelabu, berat, seolah menahan hujan yang belum jatuh. Udara tidak panas, tapi menekan. Seperti ada sesuatu yang belum selesai, dan semua orang dipaksa menunggu.
Di dalam rumah, Laras duduk di ruang tengah. Punggungnya tegak, tapi tidak benar-benar kuat. Tangannya menggenggam ponsel sejak tadi—bukan untuk digunakan, hanya… untuk dipegang. Seolah benda kecil itu bisa menjadi penghubung dengan sesuatu yang ia butuhkan: kepastian.
Matanya beberapa kali mengarah ke pintu. Lalu kembali kosong.
Ia tidak ingin terlihat menunggu. Tapi jelas—ia menunggu.
Suara langkah cepat terdengar dari luar. Tidak ragu. Tidak pelan. Laras langsung mengangkat kepala.
Pintu terbuka.
Gandhi masuk tanpa banyak suara, napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya, rambut ikalnya tampak sedikit berantakan seperti habis terburu-buru.
“Kamu dari tadi?” tanyanya singkat sambil melepas sandal.
“Iya,” jawab Laras.
Suaranya datar. Tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan apa-apa.
Gandhi langsung paham.
Ia mendekat, menarik kursi, lalu duduk tepat di depan Laras. Tidak ada basa-basi. Tidak ada pembuka.
“Jadi?” ucapnya pelan.
Satu kata. Tapi berisi banyak hal.
Laras menarik napas panjang. Dadanya naik turun lebih dalam dari biasanya. Ia mulai bicara. Pelan. Terukur.
Tentang Joni. Tentang percakapan malam itu. Tentang dokumen yang selama ini disembunyikan.
Tentang kebenaran yang ternyata sudah ada… sejak awal.
Ia tidak terburu-buru. Setiap kata keluar seperti sesuatu yang masih ia cerna sendiri. Ada jeda. Ada keraguan kecil di beberapa bagian—bukan karena ia ragu, tapi karena semuanya terasa terlalu besar untuk langsung dipercaya.
Gandhi tidak menyela.
Ia duduk diam. Kedua tangannya saling bertaut. Matanya fokus pada Laras. Sesekali alisnya mengernyit tipis, seolah menyusun potongan demi potongan yang selama ini terpisah.
Ketika cerita itu selesai, ruangan menjadi hening.
Bukan hening yang kosong. Tapi hening yang penuh.
Laras mulai gelisah.
“Gan…” panggilnya lirih.
Gandhi masih diam. Kepalanya sedikit menunduk.
Beberapa detik kemudian—ia tersenyum kecil.
Senyum yang tidak lebar. Tidak ringan. Tapi… pasti.
“Oke,” katanya.
Laras mengerutkan kening. “Oke?”
Nada suaranya setengah tidak percaya.
Gandhi mengangkat wajah. Tatapannya berubah. Lebih tajam. Lebih hidup.
“Ini justru jadi jelas.”
“Jelas apanya?” Laras sedikit meninggi. “Kita lagi ditekan, Gan. Ini bukan sesuatu yang—”
“Justru itu.” Gandhi memotong, suaranya tetap tenang tapi tegas.
Ia sedikit condong ke depan.
“Selama ini mereka berani karena pegang sesuatu. Entah itu cerita, posisi, atau sekadar keberanian buat ngomong lebih dulu.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Laras benar-benar mendengar.
“Tapi sekarang… posisi itu kebalik.”
Laras terdiam.