Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #38

Bab 38 — Yang Mulai Goyah

Malam turun tanpa banyak suara.

Rumah Jati tenggelam dalam gelap yang tidak sepenuhnya damai. Lampu sengaja dimatikan. Hanya cahaya samar dari luar yang menyelinap lewat tirai, membentuk bayangan panjang di lantai.

Ia duduk sendiri di ruang tamu. Istrinya sudah tidur. Gandhi tidak ada di rumah.

Ponsel ada di tangannya. Sejak tadi. Ia menatap layar ponselnya yang berisi konten workshop dari akun media sosial milik Gandhi.

Di dalam layar yang kecil itu. Ada kebahagiaan yang terlihat. Tidak ada kepura-puraan. Sangat tulus.

Laras. Nadya. Gandhi. Terlihat bersemangat memberikan edukasi kepada anak-anak. Dan beberapa komunitas.

Konten itu menyadarkannya.

Pikirannya tidak berhenti bergerak.

Satu kata terus berulang. Serakah.

Suara Gandhi masih terngiang jelas. Tidak keras. Tidak marah. Tapi… tepat.

Jati menghembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit gelap.

“Apa iya…” gumamnya pelan, “aku sudah sejauh itu…”

Ia teringat Laras.

Cara ia berdiri.

Cara ia tidak mundur.

Cara ia menatap tanpa takut.

Dan entah kenapa—itu membuatnya merasa kecil.

Sangat kecil.

Tangannya mengencang di ponsel. Ia membuka kontak. Nama itu muncul.

Tari. Ia menatapnya lama.

Jika ia menelpon… semuanya berubah.

Jika ia diam… semuanya tetap berjalan—tapi salah.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya—ia lelah berada di sisi yang salah.

Ia menarik napas dalam. Menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.

Satu.

Dua.

Tiga.

“Ya?”

Suara di seberang terdengar datar. Waspada.

Jati tidak langsung menjawab.

“Tari…” suaranya berat.

“Iya. Kenapa?” jawab Tari singkat.

Jati menelan ludah.

Lihat selengkapnya