Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #39

Bab 39 — Nama yang Lahir dari Luka

Hari-hari terus bergerak, seolah kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti menunggu siapa pun pulih. Waktu tetap berjalan, membawa pagi, siang, dan sore dengan ritmenya sendiri—namun kali ini, ritme itu terasa berbeda.

Pagi hadir bersama langkah-langkah kecil yang berlarian di halaman. Suara tawa anak-anak pecah tanpa beban, memantul di dinding rumah yang dulu lebih sering menyimpan nada tinggi dan kalimat yang saling melukai. Kini, suara itu berubah—lebih ringan, lebih jujur, lebih hidup.

Siang datang dengan percakapan. Tidak selalu rapi, tidak selalu mudah. Kadang terputus oleh diam. Kadang pecah oleh emosi. Tapi perlahan, orang-orang mulai berani membuka sesuatu yang selama ini mereka simpan terlalu dalam.

Dan sore… selalu menjadi waktu yang paling jujur.

Waktu di mana cahaya melembut, dan hati tidak lagi terlalu sibuk berpura-pura kuat.

Workshop itu tetap berjalan.

Anak-anak terus datang. Dengan wajah polos yang belum mengerti rumitnya luka orang dewasa. Mereka hanya tahu datang, duduk, tertawa, belajar, lalu pulang. Sederhana. Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa tulus.

Orang tua duduk di sudut-sudut ruangan. Sebagian masih menjaga jarak. Sebagian mulai berani berbicara. Ada yang bercerita dengan suara bergetar. Ada yang hanya mendengarkan, tapi matanya sudah cukup menjelaskan banyak hal.

Dan di tengah semua itu—Laras berdiri.

Namun bukan Laras yang sama seperti beberapa minggu lalu.

Ada ketenangan baru dalam caranya menarik napas. Ada ketegasan halus dalam setiap kata yang ia pilih. Ia tidak lagi terburu-buru menjelaskan. Tidak lagi merasa harus membuktikan sesuatu.

Ia hanya… hadir.

Mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Menatap tanpa menghakimi. Dan untuk pertama kalinya—menerima dirinya sendiri tanpa ingin melarikan diri.

Sore itu, langit berubah menjadi gradasi jingga yang lembut. Cahaya matahari menyentuh dinding rumah dengan hangat, seolah menghapus jejak-jejak lama yang pernah tertinggal di sana.

Anak-anak sudah pulang. Ruangan perlahan kosong.

Kursi-kursi belum dirapikan sepenuhnya. Papan tulis masih menyisakan tulisan yang setengah terhapus. Aroma teh hangat bercampur dengan udara sore yang masuk dari jendela terbuka.

Gandhi duduk di lantai, bersandar pada dinding. Kakinya diluruskan ke depan, tangannya bertumpu di belakang tubuh. Ia menghela napas panjang, lalu menatap langit-langit.

“Kita ini aneh ya…” ucapnya tiba-tiba.

Laras yang sedang mengumpulkan buku berhenti sejenak. Ia menoleh, alisnya sedikit terangkat.

“Aneh gimana?”

Gandhi mengangkat tangannya, menunjuk ke sekeliling ruangan.

“Semua ini,” katanya pelan. “Dari semua kekacauan kemarin… yang lahir malah beginian. Anak-anak. Orang tua yang mulai cerita. Tempat yang… hidup.”

Ia tersenyum tipis, setengah tidak percaya.

“Harusnya kita hancur. Tapi malah jadi seperti ini.”

Laras terdiam sejenak. Lalu sudut bibirnya terangkat kecil.

“Kadang yang tumbuh paling kuat… justru dari yang hampir runtuh.”

Gandhi tertawa pelan.

“Serius. Itu terdengar seperti kalimat dari buku motivasi murahan.”

“Padahal kita lagi ngalamin sendiri,” balas Laras santai.

Di sisi lain, Rama yang sejak tadi merapikan kertas berhenti. Ia menatap mereka, lalu berjalan mendekat.

“Itu bukan murahan,” katanya tenang. “Itu kenyataan yang jarang disadari.”

Gandhi menoleh.

“Kenapa jarang?”

Rama duduk di kursi terdekat, tangannya menyatu di atas lutut.

“Karena kebanyakan orang berhenti di saat sakitnya datang,” jawabnya. “Tidak semua orang bertahan cukup lama untuk melihat apa yang bisa tumbuh setelahnya.”

Laras menunduk sedikit. Kata-kata itu terasa masuk lebih dalam dari yang ia duga.

Lihat selengkapnya