Remedi

Aditian Nugraha
Chapter #42

Bab 42 — Yang Tumbuh Tanpa Beban

Sore itu datang dengan cara yang tenang.

Tidak mencolok.

Tidak dramatis.

Namun terasa penuh.

Langit berwarna keemasan lembut, menyapu halaman yang mulai mendingin setelah seharian dipenuhi aktivitas. Udara membawa sisa-sisa hangat matahari, bercampur dengan angin yang mulai pelan.

Workshop selesai lebih cepat.

Hari itu Laras mengajar sendirian.

Anak-anak pulang satu per satu, melambaikan tangan dengan wajah lelah namun puas.

“Besok kami datang lagi ya, Kak!”

 “Iya, hati-hati di jalan!”

Suara mereka perlahan menjauh. Menyisakan sunyi.

Namun bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang… damai.

Laras berdiri di tengah ruangan. Menghela napas panjang.

Tangannya mulai merapikan meja. Menyusun kursi. Menghapus papan tulis dengan gerakan pelan.

Rutinitas sederhana. Berulang. Namun kini… menenangkan.

Pintu depan terbuka perlahan.

Langkah yang ia kenal masuk tanpa suara berlebihan.

Rama.

Ia masih mengenakan pakaian kerja. Wajahnya lelah, tapi matanya tetap hangat.

“Capek?” tanyanya.

Laras menoleh, tersenyum kecil.

“Lumayan. Hari ini mereka lagi aktif banget.”

Rama tertawa pelan.

“Itu artinya mereka nyaman.”

Ia mendekat, lalu tanpa diminta membantu merapikan.

Laras memperhatikannya sekilas.

“Kamu harusnya istirahat.”

Rama menggeleng.

“Di sini justru istirahat,” jawabnya.

Kalimat itu sederhana. Namun jujur.

Di luar, Nadya berdiri di dekat jendela. Mengintip diam-diam. Matanya berbinar, menahan sesuatu yang hampir keluar.

Di dalam, Rama berhenti. Tangannya yang tadi bergerak kini diam.

Ia menatap Laras.

Berbeda.

Lebih serius.

Lihat selengkapnya