Along with you, is all I ever wanted
And I need you too, build up my whole insteas
Hey pretty little angel, don’t you captured by your fears
When worlf fall apart, I will standing at your side
“Pretty little angel” by Java Jive
Kalender menunjukkan akhir tahun 2015. Musim dingin sudah tiba dan menyelimuti kota Busan. Tadi pagi hujan salju turun untuk pertama kalinya. Angin dingin bertiup kencang membekukan setiap sudut kota. Di kelas sung Eun Gi duduk tenang memandang keluar jendela, menikmati tetesan salju yang tersangkut pada ujung daun, lalu jatuh ke tanah. Kedua telinganya tersumbat headset hingga suara berkoar-koar Ji Seung Woo dari depan kelas tidak di dengarnya. Sampai akhirnya Yoon Chae Won mendorong keras bahunya hingga Sung Eun Gi terdorong ke depan. Sebelah headsetnya terlepas seketika. Gadis itu menoleh cepat ke belakang dan memandangi Chae Won tajam, seolah berteriak ‘wae1?!’. Namun, Chae Won justru menunjuk ke depan kelas.
“Seung Woo memanggilmu,” bisik Chae Won dengan suara ditekan.
Eun Gi membelalakkan mata dan berputar cepat ke depan. Kini dia menyadari perhatian separuh kelas tertuju padanya. Seung Woo, sang ketua kelas, memandangnya dengan tatapan galak. Pemuda berbadan pendek dan berambut spike itu berdiri di podium depan kelas sambil memegang penggaris besi yang diketu-ketukkannya ke papan tulis.
Seung Woo berdeham keras. “Aku rasa sekarang pikiran Eun Gi sudah bisa bergabung bersama kita setelah melanglang buana setengah jam terakhir.” Dia jelas-jelas menyindir Eun Gi yang sama sekali tidak memerhatikan dirinya sedari tadi.
Eun Gi meringis merasa bersalah. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Mianhada2, Ji Seung Woo,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Awalnya Eun Gi sama sekali tidak bermaksud mengacuhkan penjelasan Seung Woo tentang rencana penampilan mereka di festival seni bulan depan. Seluruh murid dari kelas satu hingga kelas tiga SMA Chengsan akan menampilkan pertunjukan tari, musik, atau bernyanyi. Sudah menjadi tradisi di Cheongsan selama bertahun-tahun lamanya. Biasanya Eun Gi bersemangat dengan pertunjukan-pertunjukan seperti itu.
Dia selalu mengajukan diri untuk berpartisipasi. Namun, entah kenapa, hari ini dia tidak mood melakukan apapun. Hidungnya pilek dan badannya sedikit demam akibat udara dingin. Dia ingin cepat-cepat pulang, lalu meringkuk di ranjang kesayangannya.
“Baiklah, akan kuulangi lagi.” Seung Woo melanjutkan ucapannya setelah berkali-kali menarik napas panjang. Dia melangkah mondar-mandir dari sisi kanan ke sisi kiri podium–kebiasaan Seung Woo saat sedang menjelaskan sesuatu. “Aku ingin kelas ini menampilkan drama untuk festival seni nanti.”
Seisi kelas mengerang tidak terima. Murid laki-laki langsung mengetuk-ngetuk meja dan membuat suara berisik, sedangkan murid perempuan berteriak kompak bagai koor.
“Seung Woo, itu merepotkan sekali. Kita hanya punya waktu sebulan untuk latihan,” protes Jong Hyuk sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Kenapa bukan menyanyi saja?”
“Menyanyi hanya untuk kelas tiga,” sambar Seung Woo cepat. “Sebentar lagi kelas tiga akan menghadapi ujian kelulusan. Mereka diperbolehkan hanya menampilkan nanyian agar tidak mengganggu konsentrasi. Kalian semua tahu hal itu kan? Kita tidak mungkin menampilkan nyanyian. Lagi pula, kita punya ratu drama di sini. Kenapa tidak digunakan?”
Seluruh pasang mata serentak kembali melihat Eun Gi. Membuat Eun Gi kali ini paham kenapa Seung Woo memanggilnya tadi.
“Aku?” Eun Gi menunjuk dirinya sendiri dalam keadaan setengah bingung.
“Siapa lagi?” Seung Woo menaikkan sebelah alisnya. Lalu tersenyum kecil. “Kau, kan, anggota club drama. Tahun lalu kau juga mengajukan diri untuk acara ini, kan?”
Kepala Eun Gi menggeleng cepat. Tidak. Tahun lalu Eun Gi memang berpartisipasi dalam acara festival seni. Namun, saat itu kelasnya menampilkan seni perkusi sehingga Eun Gi hanya perlu bermain harmonika, bukan berakting di depan ribuan orang. Selama ini dia memang anggota club drama, tapi tiap festifal Eun Gi hanya kebagian peran kecil. Perannya paling besar sejauh ini hanyalah menjadi ratu Inhyeon dalam drama Jang Ok Jung. Jadi, Eun Gi tidak yakin dirinya bisa bermain di drama nanti.
“Aku tidak bisa,” jawab Eun Gi seraya menggeleng tegas. “Aku–”
“Ini demi kelas kita, Eun Gi-ah. Kau tidak ingin, kan, kelas 2-3 dianggap buruk karena menampilkan pertunjukkan yang biasa saja? Lagi pula, hadiah untuk penampilan terbaik amat menggiurkan. Tiket bermain di Lotte World untuk satu kelas!”
“Tiket bermain?” suara lain menjawab ocehan Seung Woo. “Astaga, kita akan bermain di Lotte World!”
“Eun Gi-ah, kau harus ikut berpartisipasi! Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus ikut!” Chae Won mengguncang-guncangkan bahu Eun Gi. Membuat tubuh gadis itu bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang. Kelas menjadi ramai karena hadiah yang disebutkan tadi. Bahkan Jong Hyuk yang tadinya menolak usul Seung Woo menampilkan drama, kini ikut-ikutan membujuk Eun Gi agar berpartisipasi.
“Tapi… aku…” Eun Gi menelan ludah. Beberapa anak menghampiri mejanya dan memohon-mohon agar Eun Gi bermain drama. “Tapi aku tidak bisa berakting.”
“Kau jangan bohong,” potong Chae Won cepat. “Kau ini punya bakat, Eun Gi. Semua orang tahu itu. Semua orang yang melihat pertunjukkanmu bulan Februari kemarin pasti sepakat kalau aktingmu sebagai Ratu Inhyeon benar- benar menakjubkan. Jangan membantah lagi karena aku melihatnya secara langsung!”
Shin Ji mengangguk-angguk membenarkan perkataan Chae Won. “Ya, aku juga melihat aktingmu yang itu! Astaga, aku menitikkan air mata melihatmu dibuang ke pengasingan.”
Diam-diam Eun Gi merasa terharu dengan perhatian teman-temannya. Ternyata mereka menonton pertunjukkan dramanya. Itu membuat perasaannya amat bahagia. Pada akhirnya Eun Gi mengangguk menyetujui partisipasinya di festival seni kali ini.
"Baiklah, memangnya apa yang akan kita tampilkan?" Eun Gi tersenyum kecil ketika mendengar sorak-sorai seisi kelas begitu melihat anggukan kepalanya.
Di depan kelas Seung Woo berdiri dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Kedua jempol pemuda itu teracung ke arah Eun Gi. Wajahnya bersinar-sinar senang. "Chunhyangjeon."
Senyum di wajah Eun Gi seketika lenyap mendengar jawaban dari bibir Seung Woo. Tidak bisa dicegah, seluruh tubuhnya kaku selama beberapa detik. Sebelah headset yang masih terpasang di telinganya mendengungkan lirik lagu dari Java Jive. Mengalunkan bait lagu yang dihapalnya luar kepala walau sama sekali tidak mengerti artinya. Suara Seung Woo tak lagi terdengar di telinga Eun Gi, digantikan lirik-lirik lagu yang membuat sekujur bulu kuduknya berdiri. Tanpa sadar, Eun Gi meremat ujung roknya.
Seung Woo masih menatap Eun Gi, tapi tidak menyadari perubahan ekspresi gadis itu. "Eun Gi, bagaimana? Kita akan memakai banyak unsur komedi sehingga tidak membosankan. Nantinya tentu kau yang jadi Chunhyang dan Jong Hyuk akan jadi Mong Ryong."
"Hei, kenapa aku yang jadi Mong Ryong?" Potong Jong Hyuk, mengangkat sebelah tangannya dan mengerutkan kening. Pertanyaannya otomatis mengalihkan perhatian Seung Woo.
"Kau yang paling tampan. Lagi pula, jika kakak kelas perempuan melihatmu, mereka akan senang." Perkataan Seung Woo sepenuhnya benar. Walau memiliki perangai buruk dan berpenampilan urakan, Jong Hyuk menjadi idola di mata para Sunbae, terutama yang perempuan. Tubuh Jong Hyuk tinggi dan atletis. Wajahnya tampan, seperti artis-artis di televisi. Banyak perempuan berkata bad boy itu di mana-mana lebis disukai dibanding good boy. Kebanyakan menonton drama membuat para perempuan itu menggilai Jong Hyuk habis-habisan.
"Ck! Mana mungkin aku dijadikan pemeran utama hanya karena wajah tampanku?! Kenapa kau tidak pilih murid lain yang masuk klub drama saja?"
"Tidak ada. Di kelas ini cuma Eun Gi yang ikut klub drama!"
Jong Hyuk mendesis keras. Sebelah kakinya menendang meja hingga terdorong ke depan. Murid yang duduk di depan Jong Hyuk langsung menoleh dan menatapnya tajam. Namun, Jong Hyuk tidak peduli. Dia benar-benar marah dengan keputusan semena-mena Seung Woo.
"Aku memang ingin kita ke Lotte World, tapi..." Jong Hyuk menghentikan ucapannya. Dia menghembuskan napas panjang. Kali ini seluruh anak beramai-ramai memusatkan perhatian kepada Jong Hyuk. Wajah mereka ditekut, mata disipitkan, dan bibir ke depan. Hal itu membuat Jong Hyuk gerah.
"Baiklah, baiklah, baiklah! Jangan kau pasang wajah merengutmu itu, Seung Woo! Kalian juga! Hei! Kenapa merengut juga seperti balita?" Geram Jong Hyuk, merasa disudutkan. Pemuda itu terpaksa mengangguk. Meski kemudian menyumpahi sikap otoriter Seung Woo serta kekompakan teman-temannya yang hanya muncul jika diiming-imingi hadiah.
Seung Woo terkikik senang. Dia berpesan pada sekretaris kelas, Hye Na, agar mencatat siapa-siapa saja pemeran dalam Chunhyangjeon. Seung Woo cukup mengacungkan jarinya, lalu mau tak mau yang ditunjuk ikut berpartisipasi dalam pementasan. Jika tidak, seisi kelas akan kembali memasang tampang merengut dan membujuk orang tersebut untuk ikut. Begitu seterusnya.
"Hm, baiklah. Berarti Cha Baek Chan berperan sebagai Byeon Hak-do, Park Jong Hyuk berperan sebagai Lee Mong Ryong, dan Seung Eun Gi -- di mana Sung Eun Gi?" Seung Woo baru menyadari bahwa Eun Gi tidak berada di tempat. Gadis itu menghilang. Hanya ada ponsel miliknya yang ditinggalkan begitu saja tergeletak di atas meja.
"Eun Gi tadi pamit keluar sebentar," ujar Chae Won. "Sepertinya kita keasyikan berdebat sampai-sampai tidak sadar sang pemeran utama pergi."
Seung Woo menggaruk-garuk kepalanya. Pemuda itu benar-benar tidak sadar dengan kepergian Eun Gi. "Dia ke toilet?"
Chae Won mengangkat bahu. “Entahlah. Dia pergi dengan buru-buru,”
“Itu berarti dia ke toilet,” simpul Seung Woo sambil menjentikkan jari. “Baiklah, kita anggap semua sudah sepakat, ya. Aku juga anggap Sung Eun Gi setuju jadi Chunhyang. Sekarang kita bahas kapan mulai latihan drama.”
Seung Woo kembali melanjutkan perkataannya di depan kelas. Seluruh murid kembali mendengar penuh semangat. Tidak ada yang tahu jika Sung Eun Gi bukan pergi ke toilet seperti dikira. Sung Eun Gi keluar kelas dan naik keatas balkon sekolah, lalu aduk di pinggirannya dengan kedua ditekuk sementara kepalanya tertelungkup. Kedua lubang telinganya terpasang headset dengan volume makimal, tersambung melalu walkman di saku seragamnya. Kemudian gadis itu terisak tanpa suara.
**********************
Kim Dong Hwa menatap layar ponselnya sekali lagi. Ini sudah ketiga puluh kalinya dia menatap layar ponsel dalam tiga jam terakhir. Sama sekali tidak ada telepon dan pesan masuk. Menyadari hal itu, membuat rasa kesal bercampur cemas semakin menghantui kepala pemuda berambut kecokelatan dengan potongan pinggir itu. Dong Hwa berniat untuk menelpon sebuah nomer yang dihapalnya di luar kepala saat pintu toko terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Ketika melihat sosok yang masuk, Dong Hwa menelan ludah kecewa. Ternyata bukan orang yang diharapkannya.
Dong Hwa melirik keluar jendela. Langit di luar mulai gelap. Sudah malamkah? Jam berapa ini? Dong Hwa mengerang. Dia menatap kembali layar ponselnya dan hampir-hampir membanting benda itu kelantai karena keadaannya yang begitu-begitu saja. Tidak ada telepon, juga tidak ada pesan masuk.