Remember Winter

Maghfira Izani
Chapter #3

Dua

Kim Dong Hwa terbangun dari tidur begitu mendengar pintu kamar digedor keras dari luar. Park Sung Ji berteriak-teriak menyuruhnya bangun. Dong Hwa menguap panjang, lalu menggeliatkan tubuh. Dia bangkit dari kasurnya dengan langkah terseret, malas-malasan. Kepalanya terasa berat, penat menggantung di pelipis dan membuat matanya nyaris tidak bisa terbuka. Sung Ji menaruh sepiring bubur dan segelas susu panas di atas meja makan. Dia lalu menoleh dan menjerit melihat penampakan Dong Hwa yang baru keluar kamar.

“Kau mimisan, nak!” seru wania paruh baya bertubuh gempal itu. Dia menghampiri Dong Hwa tergesa-gesa, kemudian menyentuh hidung anak lelaki satu-satunya. “Tunggu sebentar, ibu ambilkan kain. Jangan bergerak, angkat dagumu tinggi-tinggi!”

Dong Hwa menuruti perintah Sung Ji. Dia berdiri tegap dengan dagu terangkat tinggi. Tangannya menyeka hidung dan melihat cairan merah kental membasahi telapaknya. Dong Hwa menggeram pelan. Pantas saja dirinya merasa pusing sekali. Ternyata dia mimisan.

Sung Ji kembali dari dapur dengan membawa handuk yang dikompres air hangat. Dia menarik tangan Dong Hwa agar mengikutinya ke sofa depan ruang televisi. Sejurus kemudian, Dong Hwa sudah merasakan hangat di sekitar hidungnya. Telingannya mendengar suara televisi menyala, menampilkan acara berita pagi.

“Kenapa, sih, kau tidak pernah dengar perkataan ibu?” celetuk Sung Ji dengan nada cemas. “Sudah ibu bilang, jangan memaksa diri belajar hingga larut malam, apalagi udara sedang tidak bersahabat. Kau bisa pingsan lagi, Dong Hwa. Kau tahu sediri kondisi tubuhmu. Kau memang sudah kelas tiga dan sebentar lagi ujian, tapi terlalu memfosir diri bisa membuat tubuhmu tumbang saat ujian nanti. Kau mau itu terjadi? Kau mau? Aigoo…”

Sung Ji terus menyerocos tak henti-henti. Dong Hwa mendengar sambil mengangguk-anggukan kepala. Beberapa kali Dong Hwa mencoba membuka mulut mengatakan sesuatu, tapi dikatupkannya kembali. Menyela pembicaraan ibunya, sama saja cari mati. Akhirnya Sung Ji diam juga meski tangannya masih terus menekan-nekan lubang hidung Dong Hwa.

Kali ini kesempatan Dong Hwa untuk berbicara. “Ibu.”

“Ya?”

“Sudah jam tujuh, aku harus buru-buru berangkat sekolah…”

Sung Ji memelotot mendengar ucapan Dong Hwa. “Aigoo, kau masih sempat-sempatnya memikirkan sekolah? Tidak, tidak, tidak. Hari ini kau libur. Jangan pergi ke sekolah dan beristirahat sajalah dirumah.”

“Tapi, bu–”

“Tidak ada tapi-tapian!” ancam Sung Ji dengan wajah galak. “Ibu akan menelpon pihak sekolah untuk mengabarkan kau tidak masuk sekolah, dan berpapasan kalau mereka tetap melihatmu di sekolah, mereka harus memberi tahu ibu agar ibu bisa menyeretmu pulang. Jadi, jangan berpikir kau bisa pergi ke sekolah hari ini!”

Dong Hwa mengembuskan napas panjang. Sejujurnya dia paling benci bolos sekolah. Pertama, dia takut ketinggalan pelajaran dan susah payah meminjam catatan teman-temannya yang tidak pernah lengkap (percaya atau tidak, catatan anak perempuan di kelas masih kalah lengkap dibanding catatan miliknya). Kedua, dia juga tidak ingin diledek teman-temannya jika mereka tahu dirinya tidak masuk karena mimisan. Aduh… konyol sekali, kan, anak umur delapan belas tahun seperti dirinya masih mimisan? Seperti anak kecil. Ketiga, dan yang paling dibencinya dibanding alasan-alasan lain, adalah Eun Gi akan datang kerumah lalu mengoceh panjang lebar, menasehatiya seperti seorang nenek sampai telinga Dong Hwa tuli jika perlu.

Dia mau saja jika harus meminjam catatan teman atau diledek karena seperti anak kecil. Namun, sungguh dia amat tidak ingin Eun Gi mencemaskannya. Seolah-olah dirinya pemuda pesakitan yang selalu butuh uluran tangannya. Baginya, mempertahankan gengsi di depan Eun Gi merupakan hal terpenting.

“Jika sudah begini, aku tinggal berharap Eun Gi tidak tahu apa yang terjadi padaku,” gumam Dong Hwa sambil memijat pelipisnya seraya menatap punggung Sung Ji yang berdiri beberapa meter darinya. Ibunya itu sedang menelpon pihak sekolah dan mengabarkan keadaannya.

*****************

Jam istirahat berdentang lima menit lalu. Suasana kelas 2-3 ramai dipenuhi canda tawa dan obrolan para murid. Eun Gi mendengarkan celotehan Chae Won tentang audisi SM Entertaimen beberapa minggu lagi. Chae Won sudah tiga kali ikut audisi SM Entertaiment dan belum berhasil juga, tapi tampaknya gadis itu tidak menyerah. Buktinya dia kembali mendaftar untuk audisi mendatang. Beberapa gadis ikut mengerubungi meja Chae Won dan saling timpal-menimpal membicarakan sulitnya lolos audisi di agensi itu. Mereka memberi semangat agar Chae Won tidak putus asa. Gadis itu memiliki suara yang bagus. Dia merupakan penyanyi gereja di dekat rumahnya dan suaranya bisa mencapai empat oktaf. Eun Gi sendiri yakin jika suatu saat nanti akan ada produser yang tertarik dengan Chae Won. Jika tidak, percayalah, industri musik korea benar-benar akan kehilangan satu calon penyanyi sukses.

Eun Gi mengalihkan pandangannya dari Chae Won ke walkman yang tergeletak di atas meja. Keningnya berkerut-kerut. Sudah bermenit-menit lalu dirinya memasang headset di telinga dan memencet tombol “play” pada walkman, tapi kenapa tidak terdengar suara? Dia baru menyadari hal ini.

Eun Gi meraih walkman dan membuka penutupnya. Alangkah terkejutnya Eun Gi melihat pita kaset miliknya. mulut Eun Gi ternganga lebar dan kedua bola matanya mencuat keluar. Ditariknya kaset dalam walkman. Pita kasetnya yang melilit di pemutar ikut tertarik dan menciptakan sulur panjang. Tingkah Eun Gi menarik perhatian Chae Won dan teman-temannya. Sontak membuat mereka menjerit.

“Sung Eun Gi! Apa yang terjadi? Itu kaset Java Jive, kan!?” Chae Won berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju meja Eun Gi. Ekspresi di wajahnya benar-benar menunjukkan kekagetan.

“Sung Eun Gi, itu, kan, kaset kesayanganmu?” timpal Hye Na.

“Eun Gi, kau tidak apa-apa, kan?”

“Eun Gi…”

Eun Gi berdiam di tempat. Tidak bergerak sama sekali. Teman-temannya sudah banyak yang tahu jika kaset yang dipegangnya saat ini, Java Jive 1, adalah kaset kesangannya. Kaset paling berharga yang pernah dimilikinya. Kaset yang selalu didengar di sela pelajaran, di saat istirahat, atau saat berjalan pulang dari sekolah. Kaset yang selalu bersama-sama dengannya selama bertahun-tahun. Untuk beberapa saat lamanya, Eun Gi merasa otaknya lumpuh. Dia ingin menangis dan menjerit-jerit keras. Kasetku, kasetku, kasetku!! Tuhan, kasetku rusak! Aku harus bagaimana? Namun, Eun Gi bukan tipe orang yang histeris dan menunjukkan perasaannya dengan gamblang.

“Eun Gi…”

Eun Gi merasakan tangan Chae Won memegang bahunya, meremasnya lembut, mengaliri kekuatannya agar dirinya tidak pingsan saat itu juga. “Kaset itu masih bisa diperbaiki, kan? Hanya pita yang kusut. Asalkan ada pensil, kita bisa memutar pitanya kembali masuk ke kaset,” kata Chae Won pelan.

Eun Gi tetap diam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Kau benar, Chae Won. Ini… ini… masih bisa diperbaiki.”

“Tenang saja, Eun Gi. Aku punya pensil. Kau mau kupinjamkan?” sambung Hye Na dengan nada lembut. Tanpa menunggu jawaban Eun Gi, Hye Na segera beranjak ke tempat duduknya dan mengambil sebatang pensil. Lalu kembali menghampiri Eun Gi seraya menyodorkan pensil tersebut. “Cepat perbaiki pita kasetnya, dari pada nanti semakin kusut dan pitanya jadi susah diputar kembali.”

Eun Gi menuruti kata-kata Hye Na. Pensil di tangannya dimasukkan keroda pemutar kaset, lalu memutar pensil itu berulang-ulang. Pita yang tadinya menjuntai keluar perlahan masuk kembali ke dalam kotak kaset. Seiring dengan itu, senyuman di wajah Eun Gi kembali muncul. Disertai desahan napas lega dari teman-temannya.

“Syukurlan kasetnya bisa diperbaiki!” seru Hye Na. “Eun Gi, kau harus hati-hati. Kan sudah kubilang, kau jangan mendengarkan kaset lagi. Sudah tidak zaman. Sekarang zamannya MP3 player dan CD portabel.”

“Sudahlah, kaset ini, kan, kaset kesayangan Eun Gi. Biarkan dia mendengarkan setiap hari.” Chae Won membela Eun Gi. Gadis itu merangkul bahu Eun Gi akrab sembari tersenyum lebar.

Tiba-tiba Seung Woo masuk ke dalam kelas membawa beberapa bundel kertas. Matanya menatap sekeliling kelas, lalu berhenti saat memandang Eun Gi. Seung Woo melambaikan tangan, berteriak memanggil Eun Gi agar mendekat. Eun Gi mengangguk. Dia menghampiri Seung Woo dan tidak sengaja menabrak kaki meja sampai terseok-seok.

“Astaga, kau ceroboh sekali…” Seung Woo geleng-geleng kepala melihat tingkah Eun Gi. Namun, gadis itu hanya menjawab dengan cengiran ala kadarnya.

“Ada apa memanggilku?”

Seng Woo memindahkan setumpuk bundelan yang dipegangnya ke tangan Eun Gi tanpa persetujuan terlebih dahulu. Gadis itu sontak kaget, tapi sigap meraih bundelan yang beratnya seperti karung beras.

“Bagikan naskah ini ke para pemain drama Chunhyangjeon, ya!” seru Seung Woo.

“Bagikan?” Eun Gi mengerjapkan mata beberapa kali. Dia ingin menolak, tapi ketika mengangkat kepala,Seung Woo sudah keburu kabur keluar kelas. Pemuda itu berteriak dari luar kalau dia sedang ada keperluan di ruang guru.

Mau tidak mau, Eun Gi membaikan bundelan kertas itu ke para pemain drama. Chae Won dengan senang hati mengambil separuh dari bundelan di tangan Eun Gi, lalu ikut membantu membagikannya. Sekarang tersisa satu bundelan saja yang ada di tangan Eun Gi. Milik Jong Hyuk.

“Ke mana anak itu?” tanya Eun Gi, celingukan mencari-cari sosok Jong Hyuk.

“Kau lupa, Eun Gi? Jong Hyuk jam segini belum masuk kelas. Dia masih dihukum lari di lapangan. Biasa… anak itu, kan, selalu terlambat,” cerita Chae Won.

Ah, iya. Eun Gi baru ingat hal itu. Jong Hyuk memang selalu terlambat masuk sekolah setiap hari. Anak-anak bilang Jong Hyuk tidak niat sekolah karena di sekolah kerjaannya hanya telat, membolos, dan tertidur di kelas. Sudah berkali-kali pihak sekolah memanggil Jong Hyuk untuk menghadap, tapi tetap saja pemuda itu terus melakukan hal serupa. Wali kelas mereka sudah angkat tangan terhadap perilaku Jong Hyuk.

“Aku heran kenapa Seung Woo tidak memilih yang lain saja untuk jadi Mong Ryong. Aku bahkan tidak yakin Jong Hyuk akan datang latihan besok. Dia tidak bisa diharapkan untuk hal-hal seperti ini,” keluh Chae Won.

“Tapi kemarin kau juga ikut membujuk Jong Hyuk, kan?” tanya Eun Gi.

Chae Won menatapnya ssalah tingkah. Dia menggaruk-garuk kepala ambil menyeringai tidak jelas. “Yah… itu… aku.. aku hanya ikut-ikutan membujuk seperti yang lain jadi–”

“Sung Eun Gi”

Sebuah teriakan dari luar kelas membuat Eun Gi memalingkan wajah. Lee Jong Suk, kakak angkatan sekaligus teman sekelas Kim Dong Hwa, berdiri di depan kelas 2-3 dengan tubuh menyandar pada pintu dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Eun Gi tidak begitu mengenal Jong Suk dan hanya mengetahui kalau pemuda itu adalah ketua kelas 3-1. Jadi, awalnya Eun Gi tidak begitu yakin kalau namanyalah yang dipanggil oleh pemuda berambut ikal kecokelatan dengan mata sipit seperti bulan sabit itu. Barulah ketika Jong Suk melambaikan tangan kembali dan menyebut “Sung Eun Gi”, Eun Gi yakin seratus persen pemuda itu memanggilnya

“Ya, Sunbaenim. Ada apa?” Eun Gi membungkukkan badan dan tersenyum tipis.

Jong Suk memerhatikan Eun Gi dari ujung kepala hingga ujung kaki.”Kau Sung Eun Gi… yang sering pulang bersama Kim Dong Hwa, kan? Aku pernah melihat kau berjalan bersamanya beberapa kali.”

Eun Gi tidak tahu merespons apa selain anggukan kecil dan ragu-ragu. “Ya, aku sering pulang bersamanya.”

“Nah, kalau begitu, aku bisa minta bantuanmu?” tanya Jong Suk.

Lihat selengkapnya