Kim Dong Hwa menutup ponsel dan langsung berlari keluar kamar. Suara kakinya saat menuruni tangga benar-benar berisik. Hingga membuat Park Sung Ji terbangun dan keluar dari kamar ketika Dong Hwa menginjak anak tangga terakhir.
"Mau ke mana malam-malam begini?" Tanya Sung Ji keheranan melihat Dong Hwa terburu-buru memakai sepatu. Pakaian Dong Hwa benar-benar lengkap. Beanis, Coat, dan sarung tangan melekat di tubuh tingginya.
Dong Hwa menoleh ke belakang menatap Sung Ji, menimbang-nimbang apakah dia harus bercerita pada ibunya soal telepon dari Eun Gi barusan. Pemuda itu lalu menghembuskan napas panjang dan berkata, "Ada telepon dari Eun Gi. Gadis itu sepertinya dalam bahaya."
"Eun Gi? Dalam bahaya bagaimana?"
"Dia..." Dong Hwa mengedarkan pandangan dengan resah. Dong Hwa juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Eun Gi. Tadi gadis itu menelepon dan suaranya terdengar ketakutan. Seseorang mengikutinya dari belakang dan tiba-tiba saja gadis itu menangis, membuat Dong Hwa bertambah resah. Tidak pernah didengarnya gadis setenang Eun Gi menangis seperti itu. Kemudian panggilan Dong Hwa tidak lagi jawabnya. Dong Hwa tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi dia yakin hal buruk menimpa Eun Gi. "Aku harus ke rumah Eun Gi sekarang, Bu. Aku harus menolongnya."
"Bukannya rumah Eun Gi itu jauh sekali, Dong Hwa? Kau pernah bilang jaraknya satu jam dari sini?"
"Iya, tapi aku harus tetap ke sana, Bu."
"Tapi kau masih sakit "
"Tapi kau masih sakit."
"Tapi aku harus tetap ke sana."
"Tidak ada bus yang lewat jam segini "
"Tapi aku harus tetap ke sana."
Dong Hwa benar-benar ngotot. Tampaknya Sung Ji tidak bisa memaksa puteranya untuk tetap diam di rumah dan kembali masuk ke kamar. Sung Ji membuang napas panjang sembari memijat kening.
"Kau bisa jatuh sakit lagi, Dong Hwa. Kau... kau, kan, tidak bisa berjalan jauh dengan udara dingin begini." Sung Ji tidak yakin ucapannya bisa menahan Dong Hwa untuk pergi.
Dong Hwa hanya bisa berbalik sebentar, melayangkan tatapan bersalah yang teramat. Bibirnya mengengeluarkan kata "maaf" setengah berbisik, lalu membuka pintu depan dan pergi menghilang di balik hujan salju.
Keresahan meliputi diri dong Hwa. Berkali-kali dia menekan nomor Eun Gi, tapi sama sekali tak ada jawaban dari seberang. Dong Hwa mengatupkan rahang dan mencengkeram ponsel erat-erat. Udara dingin yang menusuk-nusuk kulit tidak dipedulikan. Pikirannya berputar, bolak-balik menayangkan ulang percakapan terakhir dengan Eun Gi. Seseorang membututi gadis itu. Bagaimana jika sebelum dia sampai ke TKP, Eun Gi sudah diculik?
Otaknya berputar mencari cara agar mencatat bisa menolong Eun Gi sebelum terlambat. Siapa yang harus dihubungi untuk meminta pertolongan? Siapa yang bisa datang dalam waktu kurang dalam semenit untuk menyelamatkan Eun Gi dari orang yang membututinya? Siapa? Siapa?
Tiba-tiba Dong Hwa tersadar dari lamunannya dan memandang jalanan di depan. Dia menepuk jidatnya dengan kesal. Astaga, kenapa baru ingat sekarang? Pelupa sekali dia! Dengan buru-buru, Dong Hwa mengangkat ponsel, memencet sebuah nomor. Nada sambung terdengar menggema di jalanan kompleks yang sepi.
Eun Gi menatap sosok di belakangnya dengan ketakutan. Pemuda tinggi berambut kecokelatan yang ditata awut-awutan, tapi tetap memberi nilai modis. Pemuda dengan baju serba hitam -seperti ciri-ciri pria jahat yang dilihat Shin Ji- dan kacamata cokelat bertengger di tulang hidungnya. Ketika puda itu menarik kacamatanya dan menunjukkan seluruh wajahnya, Eun Gi semakin ketakutan karena dia sama sekali tidak mengenali pemuda ini.
"Ma-maaf.... Anda... Anda mau apa?" Eun Gi berusaha melepas cengkeraman tangan pemuda itu di bahunya. Namun, tangan besar pemuda itu tetap menahannya agar berdiri di tempat. Membuat Eun Gi berdebar cemas. Astaga, pemuda di depannya benar-benar menyeramkan. "Jika... Jika... Jika anda macam-macam, saya akan berteriak!" Eun Gi mengancam dengan suara bergetar. Ya, dia akan berteriak dengan suara berotaf-oktaf sampai seluruh tetangga bangun jika pemuda ini berani melakukan hal buruk padanya.
Mata Eun Gi berkeliaran ke sekeliling, mencari-cari sesuatu yang bisa menolongnya. Eun Gi menemukan bekas kayu tergeletak di tong sampah. Baiklah, dia harus bisa melepaskan diri dari pemuda ini untuk mengambil kayu tersebut. Dengan begitu, dia bisa kemukul pemuda ini.
Eun Gi kembali menatap pemuda di depannya dengan mata terpicing. Dia baru saja akan menyerang pemuda itu ketika mulutnya terbuka pelan.
"Orenmanida16, mata kelereng..."
Eun Gi terdiam sejenak. Mata kelereng? Eun Gi mengerjapkan mata beberapa kali.
"Hei, kau tidak menjawab salam ku." Pemuda itu melepaskan tangannya dari bahu Eun Gi, menunjukkan tarikan-tarikan bibir membentuk senyuman kaku yang setengah dipaksakan. "Orenmanida, mata kelereng...," Ulangnya.
Eun Gi menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya berkaca-kaca. Eun Gi mungkin tidak ingat dengan sosok wajah maskulin bermata tajam dan hidung terpatri sempurna di depannya. Namun, Eun Gi ingat, benar-benar ingat dan tidak pernah lupa bahwa hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilnya "mata kelereng." Hanya ada satu orang.
"Lee Won Tak, oppa18..."
Sebuah nama keluar dari bibir Eun Gi. Seiring dengan itu, tanpa di sadari bahunya melorot lemas seolah ketegangan menguap begitu saja.
"Sudah kubilang jangan memanggilku 'Lee Won Tak' aku lebih suka dipanggil 'Sam', mata kelereng." Pemuda itu mengakat tangannya ke atas, memandangi Eun Gi sebentar, lalu menepuk pelan kepala Eun Gi.
Demi Tuhan, pemuda di depannya benar Lee Won Tak!