Remember Winter

Maghfira Izani
Chapter #5

Empat

Dong Hwa mendorong troli dengan susah payah. Kedua tangannya mencengkeram pegangan troli sekuat tenaga, tapi keranjang besi penampung barang itu tak kunjung bergerak maju. Dong Hwa berpikir apa jangan-jangan troli tersebut sudah rusak dan tidak layak pakai?

“Kau mengambil troli rusak, Eun Gi-ah. Sudah kubilang, pilih troli bagus… ughh… jadi, aku… ugh, tidak perlu susah payah mendorongnya…” Dong Hwa terengah-engah. Dia menoleh ke arah Eun Gi. Gadis itu sedang fokus menatap daftar belanjaan yang dipegangnnya.

Tadi pagi tepat jam enam, Eun Gi sudah berdiri di depan rumahnya dan meminta-minta Dong Hwa menemani belanja ke pasar. Dong Hwa yang saat itu belum tersadar penuh dari tidurnya –matanya masih tertutup dan wajahnya berminyak– didorong Eun Gi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa memberi kesempatan bertanya. Eun Gi berkata Dong Hwa harus siap dalam waktu sepiluh menit.

Barulah sepanjang perjalanan menuju supermarket, Eun Gi bercerita kalau ibu dan nenekknya harus pergi ke Anyang karena ada keponakan yang baru saja melahirkan. Sehingga jatah belanja dan memasak sementara dilakukan Eun Gi sampai mereka pulang nanti siang. Tadinya Eun Gi berniat mengajak Chae Won, tapi teringat kalau kemaren gadis itu pergi ke Seoul untuk mengikuti audisi SM Entertaiment.

Sunbaenim, kau lupa menggeser remnya,” celetuk Eun Gi. Gadis itu berjongkok dan menekan kotak kecil berwarna merah yang terletak di bagian roda sebelah kanan.

“Oh, ya, aku lupa melakukannya,” cengir Dong Hwa, menyadari kealpaannya.

Sunbaenim, kau selaaaaluuu… lupa,” sahut Eun Gi gemas.

Dong Hwa mengangkat bahu dan tertawa kecil. Dia melajukan trolinya dengan lancar, mengikuti Eun Gi berjalan memimpin di depan. Mereka melangkah menuju bagian sayur dan daging. Eun Gi mengedarkan bola mata ke tiap-tiap rak, mengambil beberapa ikat sayur dan bumbu-bumbu dapur. Gadis itu juga mengambil ikan makarel, cumi, gurita, serta daging sapi.

“Kau memesan banyak sekali. Memangnya mau ada pesta rakyat?” Dong Hwa keheranan melihat troli sudah penuh dengan bahan makanan yang cukup jka di jadikan persediaan seminggu. “Katamu ini hanya untuk makan malam?”

“Hari ini makan malamnya beda dengan hari-hari biasa.” Eun Gi memasukkan kimchi siap saji ke dalam troli. Pandangan Eun Gi bertubrukan dengan kernyitan heran yang menggantung di wajah Dong Hwa. Seolah tahu apa yang dipikirkan pemuda itu, Eun Gi kembali melanjutkan, “akan ada tamu datang ke rumahku dan kami akan makan malam bersama.”

“Oh…, keluarga besarmu datang berkunjung?”

“Bukan, bukan, bukan keluarga besar. Tamunya hanya satu orang, kok.”

“Hanya satu orang, tapi kenapa kau membeli banyak makanan?” Dong Hwa tidak mengerti maksud Eun Gi. Apa tamu yang datang berkunjung itu tukang makan? Dong Hwa tahu kalau di rumah Eun Gi hanya ada gadis itu, Choi Hee Sun, dan neneknya, Han Bbaek Ga. Sama-sama perempuan dan tidak suka makan banyak.

“Dia orang istimewa. Dia bukan tamu sembarangan,” ucap Eun Gi. “Kau ingat orang yang kusangka penguntit tempo hari dan ternyata tetangga lamaku dari Indonesia? Dia tamunya”

“Oh, yang itu?”

“Namanya Lee Won Tak, tapi dia lebih suka dipanggil Sam. Ibuku menawari Sam untuk makan malam di rumah kami, tapi dia selalu sibuk hingga tidak sempat datang. Tapi kemarin malam dia menelpon dan mengatakan bisa ikut makan malam berama hari ini.” Mata Eun Gi berbinar ketika menceritakan rencana makan malam. Dia terlihat bersemangat.

“Kau sepertinya akrab dengan tetangga lamamu itu. Kau kelihatannya senang sekli.” Sahut Dong Hwa.

“Tentu saja, Sunbaenim. Aku sudah sepuluh tahun tidak bertemu dengannya. Dulu dia tinggal tidak jauh dari rumah. Hampir setiap hari dia datang ke rumah, menonton siaran bisbol bersama almarhum ayahku atau membantu mengerjakan tugas sekolahku. Aku sempat berpikir dia tidak akan kembali ke Busan, tapi nyatanya sekarang dia ada dikota ini.

“Wah, kalian terlihat akrab sekali.” Dong Hwa mengangguk-angguk. “Siapa namanya?”

“Lee Won Tak, tapi dia lebih suka dipanggil Sam –Sam oppa.”

“Oppa? Dia laki-laki?”

Eun Gi mengangguk. “Dia lebih tua dariku sembilan tahun. Tahun ini umurnya dua puluh lima. Dia…” Eun Gi menggantungkan kalimatnya.

Dong Hwa bersumpah ini pertama kalinya dia melihat Eun Gi salah tingkah. Gadis yang biasanya menutupi perasaannya, kini terlihat malu-malu. Semburat merah muda di kedua pipi tirusnya.

“Dia…” Dong Hwa menelan ludah susah payah. “Kau menyukainya?”

“Ya, Sunbaenim. Aku menyukainya. Dia cinta pertamaku.”

“Cinta pertama?”

Eun Gi meangangguk. “Sam oppa adalah pemuda paling bijaksana dan dewasa. Dia selalu bersikap tenang dan tidak rusuh seperti anak-anak seusianya. Dia sering membicarakan masalah politik dengan almarhum ayah.” Kedua bola mata Eun Gi menerawang. “Aku selalu ingin terlibat dalam pembicaraan antara Sam oppa dan ayah, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan. Jika itu terjadi, aku akan menangis dan mengurung diri di kamar. Sampai Sam oppa datang, lalu menghiburku dengan menceritakan banyak dongeng.

Setelah menceritakan itu, Eun Gi tersenyum cerah. Pipi tirusnya merona dan tingkahnya malu-malu menggemaskan.

Dong Hwa terdiam di tempat.

Rambut bergelombang Eun Gi bergerak seirama dengan langkah kakinya. Beberapa kali Eun Gi memutar kepala ke belakangdan meneriakkan nama Dong Hwa, menyuruh pemuda itu mempercepat langkahnya. “Sunbaenim, kau ini selain pelupa, jalanmu juga seperti kura-kura!" Serunya setengah bercanda

Dong Hwa tertawa sumbang. Sungguh, melihat Sung Eun Gi tertawa adalah hal yang paling disukainya sekalipun hal yang paling jarang terjadi. Dong Hwa senang melihat sikap Eun Gi. Dong Hwa pernah mendengar bahwa seorang gadis sedang jatuh cinta, akan terlihat barkali-kali lipat lebih cantik. Dong Hwa rasa hal itu benar. Eun Gi terlihat memesona amat memesona.

********

Jung Yoon Ha keluar dari dapur membawa senampan roti panas yang baru saja keluar dari oven. Dia lalu menyadari kehadiran Dong Hwa yang duduk di kursi dekat jendela. Kepala Dong Hwa tertekuk ke bawah, membuat wajahnya tertutup helaian rambut. Tangannya bergerak-gerak di atas kertas, seperti mencoret-coret sesuatu, entah apa itu.

Penasaran, Yoon Ha mendekati Dong Hwa. Keningnya mengerut seketika memerhatikan coretan yang dihasilkan Dong Hwa.

Lee Won Tak.

“Siapa itu Lee Won Tak?”

Dong Hwa terlonjak kaget mendengar suara kencang Yoon Ha. Pemuda itu bahkan terlompat dari kursi dengan mata membeliak, seolah baru tertangkap melakukan tindakan kejahatan. “Kau! Kau mengagetkanku!” semburnya.

Yoon Ha justru tergelak. “Kau benar-benar kaget? Hahaha, maafkan aku. Habis aku penasaran kau sedang apa. Kulihat kau mencoret-coret sesuatu. Begitu kudekati, ternyata au menulis ‘Lee Won Tak’. Siapa itu? Pacarmu?”

Pletak! Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala Yoon Ha. “Kau tidak lihat ini nama laki-laki? Aku masih normal, kau tahu!” dengus Dong Hwa sebal.

“Maaf, maaf, maaf. Aduh, kau sensitif sekali hari ini, seperti wanita saja. Ada apa, sih, sebenarnya?” kali ini Yoon Ha mengubah nada suaranya lebih serius. Jitakan Dong Ha benar-benar membuat kepalanya panas dan Yoon Ha ridak ingin merasakan hal yang sama untuk kedua kali.

Dong Hwa kembali duduk di kursi dan meneguk segelas air putih dengan rakus.

“Ceritakan padaku.” Yoon Ha menunjuk kertas yang ditulis Dong Ha. “Siapa itu ‘Lee Won Tak’ dan kenapa wajahmu kusut, seperti pakaian seminggu tidak disetrika?”

Dong Hwa memejamkan mata. Kembali dia teringat soal kejadian tadi pagi di supermarket, tentang pemuda bernama Lee Won Tak, tentang makan malam, tentang cinta pertama Sung Eun Gi…

“Dia tetangga lama Eun Gi. Sepuluh tahun lalu pulang ke Indonesia, tapi kemarin dia kembali lagi ke Korea. Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama sehingga hubungan mereka amat dekat. Keluarga mereka juga saling mengenal satu sama lain.”

Yoon Ha mendengar cerita Dong Hwa penuh minat.

“Dia… Eun Gi menyukainya.”

Lihat selengkapnya