Remember Winter

Maghfira Izani
Chapter #6

Lima

“Kau di sini rupanya.”

Panggilan Dong Hwa membuat Eun Gi menoleh. Dia lalu memiringkan kepala dengan raut bingung.

Dong Hwa meletakkan kaleng soda di bangku kayu lapuk dekat pintu. Dia berjalan mendekati bibir balkon sekolah, tempat Eun Gi duduk dengan posisi melipat kedua kai dan menangkupkan wajah di atas lutut – posisi rawan yang bisa membuat gadus itu terjatuh dengan mudah.

“Lebih baik kau turun dari sana. Kalau ada angin berembus, lalu wushhh. Kau melayang jatuh ke bawah bagaimana?” tanya Dong Hwa setengah bercanda, setengah tkut. Bagaimanapun, mengerikan membayangkan Eun Gi benar-benar jatuh ke bawah.

Eun Gi menjawab pertanyaaan Dong Hwa dengan cekikikan serta bantahan bernada pelan. “Sunbaenim, aku bukan kertas yang ditiup angin langsung terbang tak keruan.”

“Ya, tapi aku selalu takut kalau kau duduk dengan posisi begitu. Apa kau tidak takut ketinggian? Apa kau tidak takut jatuh? Bagaimana kalau kau jatuh? Demi Tuhan, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi, Eun Gi! Turun sekarang juga! Bisa tidak, sih?! Seru Dong Hwa resah.

Eun Gi tertawa keras. Sampai kedua matanya menghilang di balik pipi tirusnya yang menggembung. Rambut bergelombang bergerak dipermainkan angin. Eun Gi akhirnya turun dari balkon dan mendekati Dong Hwa.

Tadi Chae Won dan Hye Na datang mencari Dong Hwa dan menanyakan keberadaan Eun Gi. Gadis itu menghilang sejak jam pelajaran kedua dan tidak kunjung kembali ke kelas meski jam istirahat telah tiba, pafahal mereka harus melanjutkan latihan drama. Mereka sudah mencari ke UKS, lapangan, kelas-kelas, tapi batang hidung Eun Gi tidak tampak.

Dong Hwa pun berinisiatif mencari Eun Gi di balkon. Selain dirinya, tidak ada yang tahu kalau Eun Gi sering duduk di sana –sekedar duduk-duduk atau mencari ketenangan. Benar saja. Saat Dong Hwa naik ke atas, pemuda itu menemukan Eun Gi duduk di bibir balkon.

“Kau harus kembali ke kelas, Eun Gi. Chae Won dan Hye Na mencarimu ke mana-mana. Kalian, kan, harus latihan drama. Ingat?”

“Ya, aku ingat.” Eun Gi meremat-remat tangannya. Walau hanya sebentar, Dong Hwa bisa melihat gadis itu tampak resah. Dong Hwa ingin tahu apa yang membuatnya resah.

“Terus, kau tidak mau ke kelas?” tanya Dong Hwa, melihat EunGi justru berjalan dan duduk di atas bangku lapuk. Dia mengambil kaleng soda yang ditaruh Dong Hwa, kemudian menaruhnya diatas pangkuan.

“Nanti saja, Sunbaenim. Aku sedang tidak ingin melakukan apa pun.”

Kali ini Dong Hwa yakin seratus persen gadis itu sedang ada masalah. Dong Hwa ingin bertanya, tapi dia takut Eun Gi akan marah. Lagi pula, gadis itu nyaris tidak pernah menceritakan persoalan yang menimpanya kepada siapapun. Gadis itu seperti botol kaca tak tembus pandang. Dong Hwa tidak bisa melihat isi hati Eun Gi karena seolah tertutup kabut tebal yang memisahkan mereka. Namun, di satu sisi Dong Hwa yakin dia membiarkan Eun Gi sendirian, gadis itu bisa rapuh lalu oecah berkeping-keping seperti kaca.

Dong Hwa memutuskan duduk di sebelah Eun Gi. Dia menarik kaleng soda dari tangan Eun Gi, kemudian membuka penutupnya, lalu menyerahkan kembali pada gadis itu. Eun Gi menenggaknya cepat. Dalam beberapa detik, isi kaleng sudah berkurang setengah.

“Kau sedang dalam masalah? Ada apa, sih?” tanya Dong Hwa hati-hati. “Kau tahu, kan, kau bisa mengandalkan telingaku untuk menampung keluh kesah.”

Eun Gi memicingkan mata. Tangannya menutup mulut, menahan sendawan yang ingin keluar. Dong Hwa geleng-geleng kepala geli. Gadis itu… sudah tahu kalau minum soda cepat-cepat, perut bisa kembung dan mulut mengeluarkan sendawa, tapi masih juga nekat.

“Kau sedang dalam masalah, Sung Eun Gi?” ulang Dong Hwa sambil menepuk-nepuk punggung Eun Gi.

“Tidak ada, Sunbaenim – hikk.”

Eun Gi seratus persen bohong. Dong Hwa tertegun beberapa detik, lalu mengangguk memaklumi.”Ya, sudah, lupakan saja pertanyaanku. Sekarang lebih baik kau keluarkan dulu sendawamu itu. Lihat, wajahmu sudah seperti labu masak menahan sendawa!”

“Tapi…”

“Aku tidak akan meledekmu. Tidak masalah, kok, kalau perempuan bersendawa.”

Eun Gi menatap Dong Hwa beberapa saat, menimbang-nimbang. Dia lalu menarik napas dalam-dalam dan bersendawa. Melihat tidak ada reaksi apa pun dari Dong Hwa, gadis itu tersenyum lega. Dia sempat mengira Dong Hwa akan menertawainya, lalu meledeknya sampai tujuh hari ke depan.

“Ini pertama kalinya aku bersendawa di depan orang. Aduh, aku malu sekali,” cengirnya polos.

Dong Hwa tertawa kecil. “Makanya, lain kali jangan minum soda seperti orang kesetanan.”

Eun Gi ikut tertawa. Setelah keadaan tenang, gadis itu memanggil Dong Hwa pelan. “Sunbaenim…”

“Yaa?”

“Kau mau mendengarkan ini?”

Dong Hwa menoleh. Eun Gi menyodorkan satu headseat. Dong Hwa menempelkan headset itu ketelinganya. Lagu yang familiar.

“Kau selalu memutar lagu ini.” Dong Hwa menatap Eun Gi. “Sejak aku mengenalmu setahun yang lalu, hanya lagu ini yang terdengar dari headset-mu. Aku bahkan yakin kau tidaktahuartinya. Aku belum pernah mendengar bahasa ini. Bahasa Inggris? bahasa Jerman? Atau Spanyol?”

“Ini lagu bahasa Indonesia, dari penyanyi Indonesia,” jawab Eun Gi sambil menyematkan senyum hambar di bibir. “Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, Sunbaenim. Kau pasti lupa. Dasar pikun!” geram Eun Gi pura-pura merajuk.

Dong Hwa mengangkat satu alis tinggi-tinggi. Oh, ya, dia baru ingat. Eun Gi pernah mengatakan soal ini. Namun, saat itu Dong Hwa hanya mendengar sambil lalu karena sibuk mengerjakan laporan acara sekolah. Hal yang diingat Dong Hwa hanyalah penyanyi itu bernama Java Jive dan Eun Gi punya dua volume kaset dari penyanyi itu, Java Jive 1 dan Java Jive 2.

Sekarang saat Eun GI menyebutkan kata-kata “Indonesia,” Dong Hwa jusgru merasa janggal. Indonesia… sepertinya DongHwa sering mendengar nama negara itu dari bibir Eun Gi, selain membahas soal Java Jive, tapi dia lupa.

“Indonesia?” Dong Hwa mengulang.

Eun Gi mengangguk kecil. Matanya menerawang ke langit yang mendung. “Ya, Sunbaenim.”

Lalu suasana menjadi sunyi. Janya terdengar dengung nada mengalun dari headset. Dong Hwa harus mengakui, walau lagu dari band bernama Java Jive ini dikeluarkan tahun 90-an, musiknya tetap menarik dan enak didengar.

“Tapi, apa kau tidak bosan mendengar lagu Java Jive melulu? Setiap hari? Apa kau pernah dengar lagu lain selain ini? Bagaimana dengan Koyote? Baby VOX? Fin.K.L?”tanya Dong Hwa penasaran.

“Aku tidak bosan. Sama sekali tidak pernah.” Eun Gi menghembuskan napas panjang,lalu melanjutkan dengan nada lirih. “Tapi sepertinya kaset ini bosan padaku.”

Dong Hwa tidak mengerti maksud ucapan Eun Gi.

“Akhir-akhir ini, kedua kaset yang kumiliki sering rusak. Pita kasetnya melilit di pemutar, kadang tidak terdengar suaranya. Sepertinya kaset ini sudah lelah bersamaku.”

“Kaset itu bukan bosan denganmu, tapi kaset itu sudah tua. Sudah saatnya kau taruh di kotak dan dijadikan pajangan,” kata Dong Hwa.

“Tapi aku tidak inginmenjadikan kaset ini hanya pajangan.” Eun Gi menundukkan kepala, menggigit-gigit bibir bawahnya. “Aku ingin mendengarnya terus…, terus…, terus…., dan terus.”

Dong Hwa menatap Eun Gi lekat-lekat. Gadis itu tidak seperti gadis SMA kebanyakan. Di saat teman-temannya heboh membicarakan H.O.T dan Shinhwa, gadis itu justru duduk tenang mendengarkan lagu Java Jive. Mungkin saja ada sesuatu di balik lagu-lagu dimainkan penyanyi itu.

“Hei, apa judul lagu ini?” Dong Hwa menunjuk Headset di telinganya. “Aku suka musiknya. Sepertinya ini lagu gembira.”

Eun Gi mendengarkan headset-nya, lalu mengangguk. “Judulnya ‘kau yang terindah,’”

“Kau tahu artinya?” tanya Dong Hwa.

Eun Gi menggeleng.

Dong Hwa memukul kepalaEun Gi dengangemas. “Kau ini benar-benar. Mana ada orang tahan mendengarkan lagu yang liriknya tidak dimengerti?”

Eun Gi tertawa kecil menunjukkan deretan gigi-gigi kecil yang berderet rapi. Hal itu membuat Dong Hwa ikut tertawa, refleks menepuk lembut puncak kepala Eun Gi.

Diam-diam Dong Hwa merasa senang ekspresi Eun Gi tidak semuram tadi. Walau masih ada sebesit kesedihan di mata Eun Gi, gadis itu lebih rileks di banding saat pertama Dong Hwa mendapatinya duduk di bibir balkon. Sungguh, tidak ada yang bisa menggambarkan selega apa perasaan Dong Hwa saat ini.

Dong Hwa memejamkan mata, merasakan tiupan angin dingin mengenai helai demi helai rambutnya. Ketika dia lulus nanti, akan ada banyak kenangan yang di tinggalkannya di Cheongsan. Kenangan pahit maupun kenangan manis, keduanya akan terbungkus rapi seperti paket siap kirim. Tergantung kepada Dong Hwa, apakah akan tetap membawa kenangan itu dalam perjalanannya atau meninggalkan kenangan tersebut dan tidak menunggungnya kembali.

Lihat selengkapnya