Remember Winter

Maghfira Izani
Chapter #7

enam

Eun Gi menggeliat dalam selimutnya. Malam beranjak semakin larut, tapi dia belum bisa tidur. Sepasang headset menutupi kedua lubang telingannya menggenggam erat kaset Java Jive 1, sementara pikirannya berputar pada kejadian tadi siang.

Eun Gi kembali teringat saat terakhir pertemuannya dengan Sam di musim semi tahun 1995. Pertemuan yang tak akan bisa dilupakannya.

“Kau akan pindah, Oppa? Benarkah? Ke mana?”

Sam baru saja menamatkan buku yang dibacanya sejak semalam ketika tahu-tahu pintu digeser hingga terbuka lebar. Seorang gadis bertubuh pendek dan bermata besar memandanginya di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Sebelah tangannya memegang buah plum erat-erat hingga tak lagi berbentuk. Gadis itu adalah dirinya sendiri, Sung Eun Gi.

Oppa…, kata Abeoji26 kau dan keluargamu akan kembali ke Indonesia…” suara Eun Gi mulai bergetar.

Sam menghela napas pelan. Dia berdiri, kemudian berjalan mendekati Eun Gi dan menyentuh lembut bahu gadis itu. “Kau tidak suka kalau Oppa pindah ke Indonesia?”

“Mana mungkin Suka!” teriak Eun Gi emosional. “Oppa, jangan pergi, ya? Jika Oppa pergi, siapa yang akan mengajakku ke pantai? Siapa yang akan mengajakku berdoa ke kuil? Oppa…, jangan pergi, kumohon.” Eun Gi menangis keras.

“Sung Eun Gi, dengarkan aku baik-baik.” Sam berjongkok hingga sejajar dengan Eun Gi. Dia mengusap cairan bening yang kini membuat wajah Eun Gi sembab. “Oppa hanya akan pindah ke negara lain, bukan ke planet lain. Kita masih bisa bertemu. Oppa janji akan sering-sering ke Busan untuk melihatmu.”

Sam mengisyaratkan Eun Gi untk menunggu, sementara dia mengambil sesuatu di dalam lemari. Dua buah kaset Java Jive berada dalam genggaman Sam. Eun Gi tahu, itu adalah kaset favorit Sam yang dipesan langsung oleh Atmaja dari teman kerjanya di Indonesia. Selama di Korea, Samhanya mendengar lagu-lagu berbahasa Korea sehingga Atmaja acap kali memesan kaset penyanyi Indonesia agar tidak kagok dengan bahasa ibu sendiri.

Sam memberikan kaset itu ke tangan Eun Gi. “Kaset ini untukmu,” ujarnya. "Anggap saja ini kenang-kenangan dari Oppa. Mengerti?”

Sam kembali bersuara. “Ini tidak seburuk yang kau kira, mata kelereng. Hm, ini hanya seperti… seperti cerita Chunhyang. Kau tahu, kan? Lee Mong Ryong benar-benar menepati janji. Dia benar-benar kembali untuk bertemu Chunhyang.”

Eun Gi mengangkat kepala dan memandang Sam. Sam selalu pintar bercerita. Dia selalu suka jika tetangganya itu mulai menceritakan dongeng apa saja.

“Chunhyang?” sela Eun Gi.

Sam menganggukkan kepala seraya tersenyum. “Aku juga berjanji, suatu hari akan kembali untuk menemuimu. Kita bisa bermain bersama lagi, kepantai lagi, menangkap ikan bersama, atau sekedar ke sauna. Pasti menyenangkan, kan? Sama seperti Lee Mong Ryong, marga aku dan dia sama-sama ‘Lee’. Jadi, aku pasti akan menepati janjiku.” Sam menunjukkan cengiran lebar.

Saat itu Sam mengangukkan kepala. Membuat senyum manis terkembang di bibir Eun Gi. Gadis kecil itu bertekad akan terus memanjatkan doa tiap malam, memohon pada Tuhan agar kelak dia dan Sam bisa kembali bermain bersamalagi.

***

“Mencari apa?”

Kim Dong Hwa tersentak mendengar suara berat dibalik punggungnya. ketika dia menoleh pria penjaga toko kaset sudah menatapnya penuh selidik. Kontras dengan bibirnya yang terus menyunggingkan senyum. Sudah satu jam lamanya Dong Hwa berada di toko kaset. Dia menyusuri satu demi satu kaset yang berada di rak. Mengangkat satu persatu kaset dan membolak-baliknya, lalu menaruh kembali ke rak disertai gelengan lemas. Begitu terus selama satu jam.

Dong Hwa menepuk-nepuk tangan, membersihkan debu yang lengket di telapak tangan. Kemudian dia menarik tas selempang yang tersampir di bahu, mengobrak-abrik selama beberapa menit. Pria penjaga toko kaset terus mengabsen gera-geriknya.

“Aku hanya ingin mencari ini…” Dong Hwa menyerahkan selembar post it berwarna hijau yang tertempel di sampul buku matematika miliknya kepada si pria penjaga toko kaset. “Apa ada di sini?”

“Sebentar kulihat.” Pria penjaga toko kaset mengamati post it dengan asli berkerut, lalu beranjak menuju kompuer di meja kasir. Terdengar syara jari yang beradu dengan keyboard, kemudian dia berkata, “Ah, sayang sekali. Barang ini sudah kama tidak beredar. Walau kau mencari ke toko kaset tua, tetap saja sulit menemukannya.

“Benar bgitu?”

“Ya, tentu saja. Mana mungkin aku berbohong.” Pria penjaga toko kaset menyerahkan kembali post it kepada Dong Hwa.

Dong Hwa menghembuskan napas nberat. Tangannya memijat pelipisnya yang penat. Ini sudah toko kaset kelima yang didatanginya, tapi jawaban mereka nyaris sama. Tidak ada yang menjual barang yang dicarinya. Dong Hwa mengangguk lemas dan berbalik keluar.

“Tapi, anak muda, aku bisa mencarikannya untukmu,” sahut pria penjaga toko kaset, menghentikan langkah Dong Hwa. “Kau tahu, banyak orang sering mencarikaset tua di tokoku… dan sejauh ini aku hampir selalu berhasil menemukannya. Kalau kau mau, aku bisa membantumu,” lanjutnya.

Wajah Dong Hwa seketika sumringah. “Benar kau bisa membantuku, Paman?”

Sang pria penjaga toko kaset mengangguk. “Mungkin agak lama, tapi aku akan mengusahakannya. Kau tinggalkan saja nomor teleponmu di sini. Jika kaset yang kau cari sudah ketemu, aku akan menelponmu sesegera mungkin.

Dong Hwa tidak bisa membayangkan segembira apa wajanya saat ini. Penuh semangat dia menuliskan nomor ponsel dikertas yang diberikan sang pria penjaga toko kaset. Tidak lupa juga Dong Hwa menyerhakan kembali post it yang dibawanya. Berkali-kali dia membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih.

***

Jemari lentik Eun Gi menutup naskah dan menaruhnya di atas pangkuan. Satu tangannya digunakan untuk menampu dagu, sedangkan tangan satunya lagi sibuk memelintir ujung sampul naskah. Sinar mata gadis itu meredup ketika sudut matanya menangkap judul naskah di tangannya. Lalu dia menghela napas panjang.

“Ada yang salah?”

Sebuah suara mengejutkan Eun Gi. Ketika dia mengangkat kepala, sosok Dong Hwa sudah berdiri di depannya dengan sebotol air mineral di tangannya.

Sunbaenim…” Eun Gi berdiri dan tersenyum. Dong Hwa menyodorkan botol air yang langsung di sambutnya dengan semangat. “Terima kasih. Ah, kau tidak ikut tambahan pelajaran?”

“Sebentar lagi.” Dong Hwa menatap seisi kelas 2-3 yang mulai sepi karena sebagian besar murid segera pulang begitu mendengar bunyi bel. Hanya tinggal empat sampai lima orang di kelas. “Kau tidak pulang” tanyanya.

Eun Gi menundukkan kepala, sekilas melirik gulungan naskah di genggaman. “Sebentar lagi.”

“Hei, kau meniru ucapanku,” ucap Dong Hwa geli. Pemuda itu duduk dibangku sebelah Eun Gi, membuat gadis itu kembali duduk meski masih memandangi Dong Hwa tanpa kata-kata. Kudengar nanti sore kalian ada latihan drama di salah satu murid kelas 2-3. Wah, kalian bersemangat sekali, atau karena hadiahnya yang menarik? Kalau saja aku masih kelas dua, aku juga ingin menampilkan drama seperti kelas kemarin. Sayang sekali ketua kelasku saat kelas dua dulu terlampau cuek untuk memikirkan hal itu. Jika saja diberi kesempatan, aku pasti akan melakukannya dengan baik.”

Beberapa anak kelas 2-3 yang masih tinggal mulai berkemas-kemas dan berjalan melewati meja Eun Gi. Sekilas mereka menyapa Dong Hwa yang dibalas pemuda itu dengan ramah.

“Aku ingin punya sedikit pikiran seperti itu,” desah Eun Gi, membuat Dong Hwa menoleh dan menatapnya bingung. “Aku ingin melakukan pertunjukkan ini dengan baik, tapi, entah kenapa, aku merasa tidak bisa melakukannya,”lanjutnya.

“Memangnya kenapa? Aktingmu bagus, kok,” ujar Dong Hwa.

“Aku rasa, aku tidak sanggup berperan sebagai Chunhyang.”

“Kenapa?”

“Karena aku bukan Chunhyang,” tandas Eun Gi. Suaranya berubah menjadi sedikit emosi. “Aku bukan Chunhyang yang bisa menunggu Mong Ryong kembali. Aku bukan si sabar Chunhyang yang meskipun banyak masalah menimpa kehidupan cintanya, tetap saja setia menunggu. Aku… aku… aku tidak ingin menunggu lagi.”

Kedua alis Dong Hwa saling bertaut. Dirinya sama sekali tak mengerti maksud ucapan Eun Gi. Mengapa mendadak gadis itu jadi emosional? Ini sungguh membuatnya bingung.

“Aku benci cerita Chunhyang. Kenapa cerita itu harus ada, Sunbaenim? Cerita Chunhyang hanya membuat kita dibiasakan menunggu sesuatu yang tak pasti. Menunggu cinta pertama kita kembali. Lalu, bagaimana bila ketika cinta pertama kita kembali, mereka bahkan tidak ngin melihat wajah kita lagi?”

Lihat selengkapnya