Remember Winter

Maghfira Izani
Chapter #8

tujuh

Eun Gi melangkah ragu-ragu, selangkah demi selangkah. Matanya kosong. Kepalanya dipenuhi dugaan-dugaan yang membuatnya cemas. Dia berbalik dan memutuskan berjalan kearah berlawanan. Namun, baru beberapa langkah, Eun Gi mengurungkan niatnya. Dia menghela napas berkali-kali, menepuk dadanya gusar. Demi Tuhan, dadanya seperti akan meledak. Eun Gi bisa merasakan debaran jantungnya meningkat dua kali lipat.

“Ini tidak benar, ini tidak benar…” Eun Gi mengantuk-antukan kepalanya ke tiang listrik. Pelan, tapi cukup membuat jidatnya memerah. Gadis itu sedikit mengeluh mengusap jidatnya, tapi kemudian kembali mengantuk-antukkan kepala.

Jalanan sekitar benar-benar sepi. Lampu pinggir jalan masih belum diganti, padahal sudah hampir dua minggu lalu ibunya menelpon pihak pelayanan publik untuk memperbaiki lampu-lampu itu. Namun, sampai sekarang, tidak nampak batang hidung utusan dari pelayanan publik.

Eun Gi melirik sekilah plastik hitam yang dibawanya dan mendesis. Semakin melihat plastik itu, Eun Gi semakin meyesali sikap kelewat penurutnya. Kenapa dia harus menyetujui permintaan Choi Hee Sun membeli kimchi di supermarket dan membawakannya ke rumah Sam?

“Sekarang bagaimana? Aku tidak tahu cara mendatangi Sam Oppa,” sesal Eun Gi. Gadis itu menatap plastik tersebut dengan nanar.

Eun Gi menarik napas panjang, lalu kemudian menghitung satu sampai tiga, lalu kembali melangkah menuju rumah Sam. Apa pun yang terjadi, terjadilah. Walau Eun Gi harus menghadapi muka tidak ramah Sam, dia harus tetap menyerahlan kimchi ini.

Lagi pula, Eun Gi tidak bisa berbohong. Dia juga rindu menatap sosok Sam.

Eun Gi tiba di rumah Sam. Seorang wanita sedang berdiri di depan gerbang dengan mata nanar. Rambut wanita itu sedikit beruban, menunjukkan usia tuanya. Keriput tipis menggantung disudut kiri dan kanan mata. Pipinya tirusa dan senyum lelah terus tergantung di wajahnya. sekilas wajahnya familiar di mata Eun Gi, tapi dia tidak bisa ingat pernah melihat wajah itu.

Wanita itu mengangtat tangan, seperti akan mengetuk gerbang, tapi kemudian menggeleng lemah sembari menurunkan tangannya. Wanita itu mendesah kecil. Rasa kecewa menyelimuti wajahnya. Kemudian dia menganbil secarik kertas, lalu menyelipkan di celah bawah gerbang.

Siapa wanita itu? Apa yang dilakukannya? Batin Eun Gi.

Eun Gi memutuskan untuk mendekat dan menyapa sang wanita. Namun, wanita itu terkejut dengan kehadiran Eun Gi dan langsung berlari pergi sebelum EunGi sempat membuka mulut.

Eun Gi memiringkan kepala bingung, sama sekali tidak mengerti kenapa wanita itu lari dengan wajah ketakutan.

Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Sam keluar dari dalam. Dia mengenakan kemeja biru yang dikancing sampai atas dan celana kain berwarna cokelat muda. Handuk kecil tergantung di pundak. Rambutnya basah. Aroma herbal sampo menguar masuk ke lubang hidung Eun Gi. Pemuda iru habis mandi rupanya.

“Mata kelereng?”

“Oh, selamat malam, Sam Oppa.” Eun Gi membungkuk kikuk.

Sam celingukan ke kiri dan kanan, seperti mencari sesuatu. Kemudian dia berkata pelan, “Ada apa malam-malam ke sini?” tanyanya, masih dengan nada dingin.

Eun Gi menahan napas, menguatkan diri. “Ibu menyuruhku mengantarkan kimchi padamu. Ibu bilang kau sibuk sekali memperbaiki hanok, mungkin tidak sempat beli kimchi di supermarket. Juga, karena kau baru kembali ke Korea, pasti di jangdokdae32 rumahmu tidak ada persediaan kimchi.”

Sam tampak berpikir-pikir sebelum menerima plastik dari tangan Eun Gi. “Sampaikan terima kasih pada ibumu. Lain kali tidak perlu repot-repot.”

“Ya, kalau begitu aku permisi.” Eun Gi membungkukkan badan, tapi seperti teringat sesuatu, dia urung melangkah pulang. Ditatapnya Sam ragu, tapi kemudian dia memutuskan untuk bicara. “Sam Oppa, festival sekolahku dimulai dua minggu lagi. Mm, aku tidak yakin kau datang, tapi kalau kau berkenan melihat festival itu, kau bisa ke rumahku dulu untuk meminta tiket undangan. Kita bisa pergi bersama-sama nanti.” Eun Gi menelan ludah gugup. Apa yang dikatakannya tadi? Mengajak Sam lagi? Padahal jelas-jelas kemarin Sam menolak. Bodoh sekali kau, Sung Eun Gi!

Eun Gi semakin resah karena Sam tidak kunjung menanggapi ucapannya. Aduh, bagaimana ini? Apa aku terlalu memaksa? Eun Gi merasa malu dan bersalah. “Mm… hanya itu yang ingin kukatakan. Maaf mengganggu waktumu Oppa. Aku permisi.”

Eun Gi berbalik dan melangkah pulang. Dia ingin cepat-cepat sampai di rumah, berharap bisa melupakan apa yang dikatakannya pada Sam. Oh, Tuhan, dia benar-benar malu.

Langkah sepatu Eun Gi terseret-seret di jalanan beraspal. Embun dingin keluar dari bibirnya tiap kali gadis itu menghela napas, merasa kesal pada dirinya semdiri. Jalanan semakin gelap dan tidak adanya lampuu membuat Eun Gi harushati-hati melangkah. Eun Gi merogoh tas dan mengeluarkan senter Hello Kitty yang kini selalu dibawanya ke mana pun. Saat hendak menyalakan senter itu, telinga Eun Gi mendengar suara langkah mendekat. Gerakan tangan Eun Gi otomatis berhenti. Tubuhnya terdiam. Semakin lama, suara lngkah kaki itu semakin terasa dekat.

Eun Gi memalingkan wajah ke belakang sembari mengarahkan senter unuk melihat siapa yang mengikutinya. Namun, tiba-tiba senternya ditepis keas oleh seseorang hingga terjatuh menggelinding.

Senter itu masih berfungsi meski sudah jatuh tergeletak di atas tanah. Berkas sinarnya menyambar wajah sosok yang bediri di depan Eun Gi. Pria, tinggu besar, tengah menatapnya tajam. Eun Gi tercekat.

Sebelum sempat Eun Gi bertanya, tangan pria itu segera membekap mulutnya. Membuat semuanya mendadak gelap.

Lihat selengkapnya