Kim Dong Hwa melirik jam tangannya, lalu memandang ke luar jendela, memerhartian siswa-siswa Cheongsan yang berlalu-lalang. Mobil Yoon Ha yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang seolah. Pemuda itu menoleh ke jok belakang. “Kita sudah sampai,” ujarnya.
Eun Gi menatap bangunan sekolah dibalik gerbang dengan pandangan kosong. Gadis itu menyampirkan ransel di punggungnya. Dong Hwa mengambil inisiatif untuk turun duluan dan membukakan pintu bagi Eun Gi.
“Kau bisa jalan sendiri?” tanya Dong Hwa memastikan.
Eun Gi mengangguk, lalu menoleh pada Yoon Ha yang berada di kursi sopir. “Yoon Ha-ssi, terima kasih sudah mengantarku ke sekolah,” ujar Eun Gi.
“Tidak masalah, Eun Gi-ssi. Temanku Dong Hwa juga temanku. Jadi, aku pasti membantumu jika ada apa-apa.” Yoon Ha mengangkat sebelah tangan dan tersenyum manis.
Dong Hwa mengangguk membenaran. Pagi ini Eun Gi keluar dari rumah sakit setelah tiga hari menjalani rawat inap. Hee Sun harus menjaga toko buah miliknya, sedangkan Bbaek Ga terlampau tua untuk membawa barang berat. Maka Dong Hwa menawarkan diri untuk membantu mengemasi barang di rumah sait. Dari subuh Dong Hwa sudah berada di rumah sakit untuk mengurus segala keperluan Eun Gi. Gadis itu memaksa langsung masuk ke sekolah karena ada ulangan fisika. Jadilah mereka berada di sini, di depan pintu masuk SMA Cheongsan.
“Kau bisa mengantar barang-barang Eun Gi kerumahnya, kan? Aku minta tolong,” ujar Dong Hwa.
Yoon Ha menganggu santai. “Oke, siap.”
Mobil Yoon Ha melaju meninggalkan keduanya. Dong Hwa membimbing Eun Gi menuju kelas. Tida ada percakapan di antara mereka. Eun Gi bejalan di depan. Dong Hwa melirik sekilas dan mendapati gadis itu melamun sambil berjalan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Dong Hwa cemas. Dia memegang punda Eun Gi dan menariknya sedikit ke kiri. Jika tidak dibiaran, Eun Gi menabrak tong sampah di depannya. “Kau melamun, Eun Gi-ah?”
“Aku tidak melamun,” jawab Eun Gi pelan. Matanya tetap menatap kosong ke depan.
Kau benar-benar melamun, batin Dong Hwa. “Kau masih sakit? Apa sebaiknya kau tidak sekolah saja? Aku akan mengantarmu pulang ke rumah.”
Eun Gi menggelengan kepala. Dia tetap melangkah meski terseret-seret. Dong Hwa mengawasi gadis itu dari belamang. Tiba-tiba Eun Gi menghentikan langah. Gadis itu terdiam di tempat.
“Kenapa?” Dong Hwa mendekati Eun Gi. Matanya melebar seketika melihat wajah Eun Gi sembap, bibirnya bergetar, dan matanya berair. Gadis itu menunduk hingga tidak ada siswa lain yang melihat wajahnya. “Kau… menangis?”
Eun Gi tidak menjawab. Namun, dari gerakan tubuhnya, Dong Hwa tahu gadis itu menangis. Dong Hwa menatap sekeliling, menyadari ada banyak siswa mulai memerhatikan mereka. Dong Hwa menarik Eun Gi dan membawanyana ke balkon.
“Kau masih sakit? Jika kau sakit, jangan memaksakan diri. Kita pulang sekarang.”
“Sunbaenim…” Eun Gi mengeluarkan suara meski pelan. “Tadi pagi aku nonton berita… tentang kasus itu. Selama tiga hari ini ibu melarangku menonton berita. Katanya aku bisa socked mendengar kasus penculikan itu. Kurasa ibu benar. Sekarang saking shoced-nya aku tidak yakin bisa berjalan dengan benar.”
Dong Hwa kehilangan kata-kata. Diam-diam merutuki kenapa berita percobaan penculikan itu masih ada di televisi, padahal sudah berlalu. Apa reporter berita tidak bisa mencari berita lain? Apa televisi harus menayangkan berita yang sama berulang-ulang? Dong Hwa meringis kesal.
“Aku sudah mendengar cerita darimu, ibuku, bahkan polisi. Tapi terasa aneh ketika aku mendengar presenter membacakan berita tentang kasus penculikanku.”
“Kasus percobaan penculikan,” ralat Dong Hwa.
Eun Gi berjalan ke bibir balon. Rambut bergelombangnya bergerak-gerak. Kepalanya menengadah ke langit, membiarkan wajahnya tersapu angin.
“Ibu pasti berpikir aku akan takut jika melihat wajah sang penculik di layar kaca, dan merasa trauma. Aku memang merasakan taut, tapi anehnya itu tidak seberapa. Aku justru merasa sedih. Saat menonton berita itu, aku melihat Sam oppa… aku melihatnya terluka seperti itu. Karenaku, Sam oppa harus berkelahi dengan pencullik itu. Aku terus bertanya-tanya kenapa Sam oppa melakukan hal itu, dan semakin bertanya-tanya…, aku semakin merasa bersalah.”
“Sung Eun Gi…”
“Selama tiga hari ini aku terus bertanya-tanya apa yang terjadi pada Sam Oppa. Tidak ada kabar sama sekali tentang Sam. Ibu dan nenekku juga tidak mengatakan apa-apa. Membuatku semakin cemas.”
“Aku mengerti, Eun Gi-ah. Tapi kau juga perlu mengkhawatirkan dirimu. Kau belum sembuh benar dan kejadian itu juga melukaimu.” Dong Hwa menepuk kepala Eun Gi lembut.
“Sunbaenim, kurasa aku… ingin melihat Sam Oppa.”
“Apa?”
“Aku ingin menjenguknya sepulang sekolah. Apa kau mau menemaniku, Oppa?”
Dong Hwa terenyak selama beberapa saat. Tidak menyangka Eun Gi akan melontarkan permintaan seperti itu. Eun Gi masih terus menatapnya dengan pandangan memohon, membuat Dong Hwa serba salah. Bibirnya terbungkam tak mengeluarkan suara sedikit pun. Matanya tidak berani memandang balik Eun Gi.
Inginnya Dong Hwa menolak permintaan itu. Inginnya Dong Hwa mengeluarkan seribu alasan dari bibirnya. Namun, ternyata Dong Hwa lebih tidak sanggup lagi melihat Eun Gi menangis. Mungkin dengan setuju menemani gadis itu, dia bisa melihat senyum Eun Gi terkembang.
“Baiklah, tapi hanya sebentar. Kau tahu aku masih ada tambahan pelajaran dari sore sampai malam, kan? Dan aku mau menemanimu dengan satu syarat,” Dong Hwa mengusap air mata Eun Gi, lalu mencubit pipi gadis itu. “Jangan tunjukkan tangisanmu lagi. Ah, apa kau tahu kalau Air matamu itu membuat wajahmu seratus dua puluh kali lebih jelek dari biasanya?” cerocosnya dengan senyum jenaka.
Eun Gi terseyum kecil. “Terima kasih, Sunbaenim. Aku baru sadar kau baik sekali?”
“Jadi, selama ini kau tidak sadar? Wah, untuk apa aku membantumu selama ini?”
Eun Gi terkekeh kecil. Tangannya memukul-mukul lengan Ding Hwa pelan.
Musim salju masih terus bertiup. Orang-orang masih berlalu-lalang memakai jaket untuk menghangatkan tubuh. Terkadang mereka memilih sauna untuk menghabiskan waktu.
Dong Hwa memang membenci salju. Namun, dia menyukai saat-saat Eun Gi menghangatan hatinya di musim salju hanya dengan seuntai senyuman.