Matahari sudah hampir muncul di ufuk timur, sementara tangan Sam masih menggambar desain sketsa untuk pekerjaannya. Meski sedang cuti, Sam tetap mengerjakan sketsa-sketsa yang menjadi jalan pekerjaannya di Manhattan. Pemimpin perusahaannya sudah mengatakan Sam tidak perlu menyibukkan diri seperti itu, tapi dia bersikeras. Dia ingin mencari alasan sebanyak-banyaknya agar tetap sibuk di Korea untuk mengalihkan segala jenis pikiran di kepala.
Hal itu kadang berhasil, tapi lebih sering gagal. Seperti saat ini. Untuk kesepuluh kali dalam dua jam, dirinya berkutat dengan sketsa. Sam menarik napas dan menjauhkan wajahnya dari meja kerja. Pensil ditangannya meluncur pelan, menggelinding di atas meja dan berhenti di sudut. Bola mata Sam berarak mengikuti gerakan pensil itu. Pikirannya beputar-putar pada kejadian beberapa hari belakangan. Semuanya seolah kembali hadir di depan mata dan membuat dadanya semakin sesak.
Sam menatap sekeliling ruangan. Hanya sepi yang menemani. Dari tempatnya duduk, dia bisa menatap anbang yang tertutup rapat danseolah punya rentang jarak tak terjangkau. Sam masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana dia selalu masuk anbang sekedar untuk melihat ibunya, untuk meberitahu berapa nilai yang didapatnya saat ulangan di sekolah, atau sekedar duduk di dalam tanpa melakukan apa pun. Tiap sudut anbang memiliki bekas sentuhan ibunya yang dulu membuat Sam merasa nyaman. Namun, sekarang anbang adalah ruangan yang paling Sam takuti. Dia takut seluruh kenangan masa lalu tentang Shin Young In membuatnya rapuh.
“Kurasa aku kelelahan. Aku ingin tidur.” Sam memutuskan untuk menyingkirkan sketsanya dan memberesan peralatan. Saat itulah tanpa sengaja mata Sam tertuju ada selembar kertas yang terselip di atara sketsa dan tumpukan bukunya. Dia menarik kertas tersebut. Ternyata itu adalah kertas yang selalu di terimanya belakangan ini.
“Aku sudah membuangnya. Pasti yang ini terlewat,” gumam Sam. Namun, ketika hendak meremas kertas tersebut, sebuah pikiran melintas di kepala.
Sam mengeluarkan laptop, menyalakannya, kemudian membuka browser internet, lantas mengetikan alamat tersebut. Sam memandang lama kertas di tangannya. Sinyal internet sedang bermasalah karena hujan turun dengan deras di luar sana.
Sam hampir menyerah dan memutuskan untuk memencet tobol “close” ketika tiba-tiba layar latopnya langsung dipenuhi gambar dan ratusan artikel. Sam seketika lupa bagaimana cara untuk bernapas saat melihat artikel tersebut.
***
Bunyi apa itu?
Sung EunGi mengerang dan mengintip dari balik selimut dengan mata setengah terbuka. Bunyi merangung-raung bagai sirene memenuhi ruangan kamar, membuat gendang telinga berdenging. Eun Gi menggeliat sebal dan merutuk di dalam hati. Dia malas bangun untuk sekadar mencari tahu dari mana bunyi bising itu berasal. Kemarin dia baru saja latihan drama sampai nyaris tengah malam. Akibatnya, kini rasa kantuk bercampur lelah masih menguasai separuh lebih tubuh Eun Gi.
Lama-kelamaan bunyi itu tidak bisa ditoleri lagi. Terhuyung Eun Gi menyibakkan selimutnya, melempar bantal ke sebembarang tempat, dan menatap sekeliling kamar dengan mata berkunang-kunang. Bunyi itu berasal dari atas meja belajaranya. Dari ponselnya.
Eun Gi mengacak-acak rambut dengan kesal dan mengangkat ponsel itu.
“Yoboseo?”
“Sung Eun Gi!” teriak Seung Woo di seberang sambungan, membuat Eun Gi nyaris terjungkal. “Kau baru bangun? Ini sudah jam berapa? Cepat bangun sana!”
Eun Gi melirik kalender yang tergantung didekat pintu kamar. “Seung Woo, ini, kan hari minggu dan aku masih ngantuk,” ujarnya sambil menguap.
“Iya… tapi kita, kan, sudah janji mau fitting baju hari ini!”
Eun Gi kembali menatap kalener dan terbelalak. Astaga, benar! Hari ini memang jadwal mereka fitting baju untuk pertunjukkan festival sekolah! Seluruh pemeran drama akan pergi ke tempat persewaan baju didampingi Seung Woo. Mereka janjian bertemu jam tujuh di dekat taman. Bagaimana Eun Gi bisa melupakan hal sepenting ini?
Gadis itu buru-buru lari keluar kamar untuk mengambil handuk dan memutuskan sambungan telepon setelah berjanji akan mandi lima menit saja dan setelah itu segera menuju taman.
Hee Sun dan Bbaek Ga masih berada di ruang makan ketika Eun Gi selesai mandi dan telah berganti pakian dengan kaus merah muda dan celana putih selutut. Gadis itu memasukkan nasi, kimchi, dan ikan goreng ke dalam kotak bekal yang di siapkannya. Dia sempat mengintip bayangannya di cermin untuk memastikan penampilannya tidak buruk-buruk amat, walau sedikit merutuki kantong mata yang membuat matanya seperti hantu.
“Pagi-pagi begini mau ke mana, Eun Gi-ah?” tanya Hee Sun kebingungan melihat tingkah putrinya.
“Ada fitting baju bareng teman-teman, bu.”
“Fitting baju? Jadi, kau mau keluar? Katanya mau bantu ibu buat mempersiapkan natal.”
Eun Gi melihat pohon natal di pojok ruangan yang belum dihias dan kembali menepuk jidat. Astaga, bagaimana dia bisa selupa ini? Sebulan yang lalu Eun Gi sudah berjanji pada ibunya membantu menghias rumah untuk hari natal. Mereka harus menyicil persiapan dua minggu sebelum natal tiba. Biasanya toko buah akan ramai sehingga ibu bakal jarang pulang ke rumah.
“Maaf, bu, aku secepatnya akan kembali. Aku janji.” Eun Gi mengelurakan seluruh isi ranselnya agar tidak terlalu berat. Saat itu tangannya menyentuh selembar kertas yang telah lusuh. Eun Gi ingat kertas itu adalah kertas yang di ambilnya dari tong sampah rumah Sam. “Ibu, apa ibu mengenal Shin Young In?”tanyanya.
“Shin Young In?” Hee Sun mengerutkan alis berusaha mengingat-ingat. “Maksudmu… Shin Young In… ibunya Sam?”
“Ibunya Sam Oppa?” Eun Gi melongo bingung. “Jadi, ibunya Sam Oppa tinggal di Busan?”
“Oh, ya? Bukannya Shin Young In ikut Atmaja ke Indonesia, kan? Sahut Bbaek Ga.
Eun Gi menggeleng. “Berarti ini bukan ibunya Sam. Alamatnya jelas-jelas di Busan 43, Bugok-3 Dong. Geumjeong-gu, Busan.” Dia mengeja tulisan di kertas itu, lalu meremasnya hingga membentuk gumpalan bola. Ketika dia mengangkat kepala, wajah Hee Sun dan Bbaek Ga memucat. “Ada apa? Kenapa ibu dan nenek melihatku begtu?”tanyanya bingung.
“Sung Eun Gi, dari mana kau dapatkan alamat itu?” tany Hee Sun dengan suara parau.
“Dari... rumah Sam. Memangnya kenapa, bu?” Eun Gi jadi semakin bingung, melihat gelagat mencurigakan ibu dan neneknya.
Baek Ga mengusap dadanya sembari menarik napas pelan, lalu berkata terpatah-patah. “Itu… itu alamat columbarium33, cucuku. Kau lupa? Kau pernah mengantar Chae Won melayat almarhum kakek gadis itu ke sana.”
*********
Tidak pernah Eun Gi merasa sesesak ini. Dadanya seperti terhimpit beban besar hingga nyaris tak bisa bernapas. Gadis itu berlari sekuat tenaga hingga jempolnya terasa sakit karena beberapa kali tersandung batu dan terpeleset saat menginjak kubangan air bekas hujan subuh tadi. Dia lupa mengganti sandal rumah dengan sepatu. Eun Gi sama sekali tidak memikirkan tampilannya yang acak-acakkan. Satu-satunya yang terlintas dikepalanya adalah Sam.
Langkah kakinya berhenti di depan rumah Sam ketika pemuda itu keluar dari rumah dengan terburu-buru. Eun Gi tertegun melihat dandanan Sam yang tidak biasa. Pemuda itu tampak tidak tidur semalaman. Wajahnya pucat serta ada lingkaran hitam dibawah matanya. Baju yang dikenakannya pun hanya sehelai hoodie, celana piyama kotak-kotak, dan sepasang sandal rumah.
Sam berjalan menuju mobil yang terpakir depan rumah. Mobilitu disewanya selama di Korea. Sam tidak menyadari kehadiran Eun Gi yang terus mendekatinya dengan tatapan was-was.