Ini sudah lebih dari dua minggu. Eun Gi bahkan mulai rajin menghitung tanggalan sembari mengira-ngira kapan dirinya bisa bertemu Dong Hwa. Waktu berlalu amat cepat. Natal sudah lewat dan festival sebentar lagi datang. Kelasnya semakin giat mempersiapkan pementasan. Dia menandai kalender di ponsel diakhir tahun, menonton pansori bersama Dong Hwa. Tak ada pembicaraan lebih lanjut soal rencana itu, dan entah kenapa, mendadak Eun Gi takut rencana tersebut batal.
“Teman-teman, aku punya kabar buruk.” Seung Woo masuk ke dalam kelas dengan wajah muram. Rambutnya terlihat kusut danujung seragamnya mencuat keluar. Seluruh pasang mata 2-3 tertuju pada Seung Woo ketika pemuda itu melangkah ke podium. “Festival tinggal dua hari lagi, tapi ternyata paviliun yang bakal jadi panggung kita… rusak.”
Terdengar seruan tertahan di segala penujuru.
Eun Gi tecengang mendengar berita tersebut. Hari-hari kemarin pavilun itu masih dalam keadaan baik. Dia bahkan sudah mencoba naik ke atasnya dan tidak ada masalah. Paviliun adalah properti yang penting karena nyaris sebaian besar adegan Chunhyang dan Mong Ryong di lakukan di sana.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saat aku melihat gudang tempat kita menyimpan paviliun, paviliunnya sudah roboh. Aku sudah bertanya kepada penjaga sekolah, tapi mereka tidak tahu-menahu soal ini.” Seung Woo terlihat amat merasa bersalah. Wajahnya yang biasa galak kini mengendur dan terketuk ke bawah.
“Apa kita tidak bisa memperbaikinya?” tanya Hye Na, memberi usul.
Seung Woo menggeleng. “Waktu kita tinggal dua hari. Susah mencari orang yang mau mengerjakan dengan waktu tak banyak. Tapi aku dan anak laki-laki akan mencoba memperbaiki sebisa kami. Hanya saja…” Seung Woo memberi jeda pada ucapannya, “Kami tidak jamin. Kalian tahu, kan, kamu bukan ahlinya.”
Seluruh kelas di landa kemuraman. Kemungkinan mereka tidak menggunakan paviliun terbayang di kepala dan itu menyedikan mengingat betapa kerasnya mereka berusaha menampilkan yang terbaik. Rasanya sunggung menyedihkan.
Seung Woo mengatakan agar semua orang tetap berusaha menjalankan tugas masing-masing, sementara dia juga akan memberikan kemampuan terbaik untuk memperbaiki pavilun. Dia meminta pemain drama untuk kembali berlatih tanpa memedulikan soal pavilun.
“Kau yang pimpin latihan kali ini, ya, Chunhyang,” ujar Seung Woo sembari mengedik pada Eun Gi.
Eun Gi baru akan mengangguk kepala ketika tiba-tiba Dong Hwa melintas di depan kelas bersama beberapa anak OSIS. Dong Hwa tampak ceria dengan tawa lebar dan mata berbinar di wajahnya. Melihat itu, mendadak saja dada Eun Gi terasa sesak. Emosi yang entah didapat dari mana mencuat hingga ke tenggorokkan. Lalu, seperti dihipnotis, Eun Gi berdiri kemudan berari keluar kelas tanpa menghiraukan teriakan Seung Woo.
“DONG HWA SUNBAENIM!”
Teriakan Eun Gi membuat seluruh pasang mata di koridor menghadap ke arahnya, bahkan teman-temanya di kelas 2-3 ikut menjulurkan kepala ke jendela. Sung Eun Gi berdiri di tengah-tengah koridor. Kedua tangannya saling meremat, berusaha mengabaikan seluruh rasa risih dengan membiarkan anak-anak Cheongsam yang berada di koridor berbisik membicarakannya.
Dong Hwa terlihat sangat kaget dengan teriakan Eun Gi, bahkan anak OSIS yang bersamanya juga ikut terkejut. Meski di detik berikutnya pandangan mereka berubah menjadi tatapan penuh penasaran.
Eun Gi bergerak maju mendekati Dong Hwa, seolah tak peduki mereka tengah ditonoton hampir separuh penghuni Cheongsam. Tiba-tiba dia merasa matanya memanas. Emosi yang bergejolak di dadanya tidak bisa di bendung. Dia lega melihat DongHwa baik-baik saja, tapi juga kesal setengah mati karena Dong Hwa mengacuhkannya. “Sunbaenim aku–”
“Ikut aku!” perintah Dong Hwa, menarik tangan Eun Gi dan membawanya ke atas balkon.
Eun Gi meringis kesakitan. Cengkraman tangan Dong Hwa begitu kuat, membuat pergelangan tangannya memerah. Mereka sampai di atas balkon. Dong Hwa melepas tangan Eun Gi dan menatap gadis itu.
“Sunbaenim…”Eun Gi memerhatikan Dong Hwa lekat-lekat. “Kenapa–”
“Kau jangan lakukan itu lagi,” potong Dong Hwa.
Eun Gi terdiam. Tak mengerti.
“Kau jangan memanggilku seperti itu lagi. Kau jangan membuat kita jadi pusat perhatian seperti tadi lagi. Kau jangan tunjukkan wajah seperti itu di depanku lagi.”
“Kenapa, Sunbaenim? Aku melakukannya karena aku mengkhawatirkanmu. Kau tidak pernah menjawab teleponku dan sulit sekali menemuimu. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu. Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit?”
“Sung Eun Gi, kau ini bahkan dokter pribadiku!” teriak Dong Hwa tiba-tiba.
Eun Gi tersentak kaget. Ditatapnya Dong Hwa yang kini membalikkan tubuh membelakanginya. Dong Hwa terlihat aneh, bukan seperti Dong Hwa yang biasa. Eun Gi baru menyadari wajah Dong Hwa yang terlihat kusut. pemuda itu nyaris tidak tersenyum saat berbicara dengannya.
Firasat Eun Gi mengatakan kalau pemuda itu sedang dalam masalah.
“Sunbaenim…, apa kau sedang mengalami kesulitan? Aku akan membantumu–”
“Demi Tuhan, Eun Gi! Kau juga bukan seorang polisi! Kau tidak perlu membantuku!” Dong Hwa berbalik dan menatap Eun Gi sekilas sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah lain. “Mulai saat ini, kurasa kita tidak perlu bertemu lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Kenapa?” Eun Gi mengerjapkan mata tak mengerti. Dia berusaha memahami ucapan Dong Hwa, tapi tidak bisa. Eun Gi merasa tak pernah melakukan kesalahan apa pun.
Dong Hwa menarik napas panjang. “Aku ingin konsentrasi belajar dan tidak ingin diganggu. Kau tahu, mulai tahun depan aku akan pindah ke Seoul karena akan melanjutkan kuliah di sana. Aku akan melanjutkan ke Universitas Seoul.”
“Tapi itu bukan alasan kenapa kita tidak boleh bertemu lagi, kan?”
“Itu salah satu alasannya. Jika melanjutkan pendidikan ke Seoul, maka aku harus melupakanmu. Ada ingatan-ingatan yang harus kita tinggalkan jika ingin terus melangkah kedepan, bukan? Bagiku, ingatan tentangmu-lah yang harus kutinggalkan di sini dan tidak kubawa lagi.”
Sekujur tubuh Eun Gi bergetar mendengar perkataan Dong Hwa yang begitu menyakitkan. Dia tidak menyangka Dong Hwa tega mengatakan hal itu padanya. Selama ini Eun Gi sudah terbiasa dengan keberadaan Dong Hwa. Meskipun Dong Hwa punya penyakit pikun, pemuda itu selalu ingat hal-hal kecil tentang Eun Gi. Itu berarti banyak baginya.
Kini Dong Hwa mengatalan akan melupakan Eun Gi. Rasanya seperti mengajak seluruh dunia bersekongkol membencinya. Bahkan ketika akhirya Dong Hwa melangkah meninggalkannya sendirian di balkon tanpa menoleh sedikit pun, seluruh kekuatan Eun Gi untuk berdiri seketika lenyap. Gadis itu tersungkur di tanah dengan kedua tangan menutupi bibirnya yang bergetar. Kemudian dia menagis terisak-isak.
Saat Chae Won dan Hye Na menyusul ke balkon untuk menenangkan Eun Gi, gadis itu bahkan tidak bisa menahan emosinya. Ketika Chae Won memeluknya, tangisannya meledak. Dia terisak-isak penuh pilu. Untuk pertama kali, gadis setenag Eun Gi uang selalu menyembunyikan perasaannya menangis keras di depan teman-temannya.
***
Yoon Ha menepuk-nepuk apron, lalu berdeham kecil. Ditatapnya sosok Dong Hwa yang duduk di seberangnya, sibuk mengaduk-aduk es jeruk miliknya.
“Jadi…,” Yoon Ha sengaja menggantungkan ucapannya sampai Dong Hwa membalas tatapannya, “Itu alasanmu tidak datang ke toko beberapa minggu ini?”
“Ya.”
“Kenapa kau tidak certia padaku dari awal?”
“Kenapa pula aku harus menceritakannya padamu?”
“Aku bisa memberikan solusi.”
“Aku telah melakukan solusi yang terbaik.”
“Jadi, menurutmu menjauh dari Eun Gi adalah solusi terbaik?”
“Ya, tentu saja. Terbaik untuk semuanya.”
“Dari mana kau yakin tentang itu?”
“Karena aku pintar. Aku peringkat satu pararel.”
“Ck! Kau ini…” Yoon Ha ingin sekali menjitak kepala anak bosnya itu kalau saja dia tidak merasa simpati dengan raut kuyu yang mengganggung pemandangan. “Kau bukan seperti Dong Hwa yang kukenal.”
Yoon Ha telah mendengarkan seluruh cerita Dong Hwa dengan cermat dan berusaha tak menyela hingga akhir. Dong Hwa memang peringkat satu pararel di sekolahnya, tapi pemuda itu tolol sekali jika menghadapi urusan begini. Namun, Yoon Ha paham kenapa Dong Hwa berbuat seperti itu.
Dong Hwa tidak tahu bagaimana menyikapi rasa sukanya pada Eun Gi. Dong Hwa pikir dengan menjauh dari Eun Gi, akan membuat gadis itu merasa senang karena sudah ada Sam di sisinya. Dong Hwa tidak ingin jadi pengganggu dan dia juga tidak ingin merasa sakit. Akhirnya pemuda itu membuat benteng yang memisahkannya dengan Eun Gi. Dong Hwa ingin melupakan Eun Gi karena menurutnya itulah yang terbaik.