Remember Winter

Maghfira Izani
Chapter #13

dua belas

Sung Eun Gi mendengar celotehan anak-anak menghafal naskah di ruang ganti. Dia memejamkan mata, menghitung sampai tiga sebelum akhirnya membuka mata dan merasa lebih baik. Hari ini festival sekolah diadakan. Kelas 2-3 mendapat nomor urut 4 yang artinya mereka tampil sekitar setengah jam lagi.

Jemari Eun Gi menyusuri hanbok yang dipakainya. Kemudian dia menatap bayangannya yang terbentuk di cermin. Dia berdandan seperti gisaeng dengan jeogob34 berwarna biru transparan, chima35 berwarna pink tua yang terbuat dari sutera, memakai gache36 di kepalanya, dan ditutupi dengan jeonmo37 berwarna merah menutupi hampir sebagian wajahnya. Mengenakan jeonmo dan gache, membuat kepala Eun Gi terasa berat. Gadis itu harus memegangi kepalanya dan berlatih berjalan dengan bahu tegap meski cukup sulit.

Chae Won berjalan ke ruang ganti dengan membawakan danghye38 untuk Eun Gi. Tadi danghye yang mereka sedikit bermasalah karena bagian alas danghye hampir copot. Jadi, Seung Woo harus membeli lem terlebih dulu dan membenarkan danghye tersebut.

“Pakailah, cepat pakailah,” ujar Chae Won, menarik Eun Gi ke salah satu kursi dan membantunya memasang danghye.

Di sudut lain, para pemain drama juga sibuk mempersiapkan diri. Mereka memakai hanbok dan peralatan masing-masing. Jong Hyuk telah siap dengan pakaian ala yangban39. Pemuda itu terlihat delapan kali lipat lebih tampan dibanding hari biasa. Peserta wanita kelas lain sibuk curi pandang dan berbisik-bisik memandangnnya. Suasana ruang ganti benar-benar ramai.

“Kulihat Sam ada di depan gerbang,” celetuk Chae Won.

“Aku tahu. Hari ini dia akan datang menyaksikan pertunjukkanku. Oh, Sam sudah cerita semuanya. Terima kasih, ya, sudah memaksa Sam Oppa datang. Kau benar-benar teman terbaiku.” Eun Gi mencubit pelan pipi Chae Won, lalu tertawa renyah.

“Hei, aku tidak memaksanya. Aku harus membujuknya, kok.” Chae Won mendelik protes, tapi kemudian gadis itu tertawa kecil. Dia menggelayut manja di lengan Eun Gi seraya berbisik, “Kukira aku ini penyuka sesama jenis. Ya, ampun, aku bahkan terpesona melihatmu berdandan seperti gisaeng. Boleh aku menyewamu setelah ini, Eun Gi-ah?”

Eun Gi menggelitik pinggang Chae Won. “Aku masih doyan laki-laki. Kalau kau mau menyewaku, kau harus jadi raja dulu. Aku ini gisaeng esklusif, kau tahu?”

Chae Won tertawa keras. “Ya sudah, pokoknya kau harus tampil sempurna diatas panggung nanti. Ini terakhir kalinya aku melihat pertunjukkanmu sebelum pindah sekolah. Jadi, jangan sampai mengecewakanku, mengerti?”

“Mengerti, kapten!” Eun Gi memberi hormat pada Chae Won sembari menunjukan cengirannya. Chae Won akan kembali pindah ke Seoul gadis itu baru saja lolos audisi SM Entertaiment. Sebenarnya, Eun Gi merasa sedih, tapi Chae Won berjanji tiap minggu akan kembali ke Busan untuk bermain bersamanya.

Para pemain drama berkumpul sebentar di sudut ruangan untuk mendengar pengarahan dari Seung Woo. Pemuda itu tampak begitu bersemangat hari ini. Kemeja biru tua yang dikenakannya digulung hingga siku dan topi baret hitam ala sutradara sudah bertengger manis menutupi rambut spikenya. Seung Woo menepuk-nepuk gulungan naskah di tangannya ketika berbicara dengan para pemain drama.

“Teman-teman, aku ingin memberi tahu kalian bahwa kita jadi memakai paviliun,” ujar Seung Woo memberi kabar. “Paviliunnya sudah benar dan jauh lebih bagus daripada yang dulu.”

“Benarkah? Wah, kalian hebat sekali,” puji Eun Gi bersemangat.

Sesung Woo menunjukkan cengiran lebar. “Yang hebat itu bukan aku, tahu! Tapi kau, Sung Eun Gi

Eun Gi mengerjapkan mata bingung. “Aku?”

Seung Woo dan Chae Woon yang biasanya selalu bertengkar kini justru bertukar pandang penuh arti. Seung Woo mengedipkan mata pada Chae Won.

“Namamu benar-benar ampuh untuk membuat peringkat satu pararel di Cheongsam mau membantu pengerjaan paviliun. Bahkan karena dia adalah salah seorang senior di OSIS, dia bisa dengan mudah menyuruh anak-anak OSIS juga ikut membantu –tanpa imbalan.” Seung Woo mengacungkan jari telunjuk dan jadi tengah membentuk “vitory”.

Ekspresi kaget becampur tidak percaya seketika mewarnai wajah Eun Gi. Mulutnya terbuka lebar dan matanya mengerjap beberapa kali penuh kebingungan. Apa maksusd ucapan Seung Woo? Peringat satu pararel… Dong Hwa? Apa? Astaga, Dong Hwa yang membantu membenarkan paviliunnya?!

“Berterimakasihlah pada Yoon Chae Woon yang telah membujuk Dong Hwa subaenim dengan sepenuh hati,” karta Chae Won sambil mengedipkan mata.

Eun Gi bisa merasakan seluruh pasang mata di ruang ganti tertuju padanya. Diiring dengan seringai atau kerlingan menggoda. Eun Gi beriri tegak dan mengangkat chimanya tinggi-tinggi. “Aku… aku ingin ke gudang penyimpanan properti drama kita. Boleh?” tayaya terbata-bata.

Seung Woo tampak keberatan. “Kau harus terus latihan–”

“Kau bisa pergi sebentar,” potong Jong Hyuk tiba-tiba. “Lagi pula, aku bosan kalau kita harus terus latihan. Ah, melelahkan sekali.” Dia menggeliatkan tubuhnya dan beranjak keluar ruangan. Seung Woo meneriaki pemuda itu untuk kembali, tapi sia-sia.

Eun Gi tersenyum kecil. Dia tahu Jong Hyuk sengaja melakukan hal itu untuknya. Tanpa meminta persetujuan Seung Woo lagi, Eun Gi segera mengakat chimanya tinggi-tinggi, kemudian beranjak meninggalkan ruangan. Seung Woo merasa kecolongan. Pemuda berambut spike itu berkacak pingga dan mulai menyerocos panjang lebar, menyesali perkataannya tentang Dong Hwa pada Eun Gi. Sekarang gadis itu tidak akan berbalik meski Seung Woo memberikan ancaman berbahaya jenis apa pun.

Hal pertama yang dilihat Eun Gi di gudang penyimpanan adalah replika paviliun megah di tengah-tengah ruangan –paviliun milik kelasa 2-3. Paviliun tersebut terlihat kukuh dibanding paviliun mereka yang lama. Paviliun itu jauh… lebih indah.

Lalu Eun Gi melihat orang itu.

Berdiri di antara pengurus OSIS, dengan rambut cokelatnya yang terlihat lebih panjang dan acak-acakkan. Namun, tetap saja sosok itu memiliki kedua bola mata yang senantiasas berbinar, atau mungkin karena wajah tampannya yang maskulin, atau mungkin juga karena senyum sehangat matahari yang menghiasi bibirnya. Entahlah, Eun Gi tak pernah tahu. Yang dirinya tahu hanyalah melihat orang itu, membuat dirinya menyunggingkan senyum paling indah di dunia.

Eun Gi melangkah mendekat. Beberapa pengurus OSIS menyadari kehadiran gadis itu. Mereka termangu beberapa saat melihat dandananya sebelum akhirnya tersenyum simpul seolah mengerti akan semuanya.

Lihat selengkapnya