Awal musim salju, tahun 2004
Kim Dong Hwa memeluk erat tubuhnya yang menggigil. Bibirnya bergetar menahan hawa dingin menusuk permukaan kulitnya yang hanya berbalut seragam sekolah berlapiskemeja tipis. Dia berbaring dalam posisi meringkuk dengan kedua kaki ditekuk di salah satu bangku pinggir jalan. Asap tiis mengepul keluar dari bibir setiap kali dia menghela napas.
Awal musim salju. Rintik-rintik es putih pekat melayang jatuh ke tanah. Tetesannya mengenai punggung tangan Dong Hwa, menciptakan sensasi dingin hingga ke ubun-ubun. Dong Hwa meminta pertolongan kepada siapapun dengan suara serak sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Lantunan lagu natal terdengar di beberapa toko meski malam natal masih lama.
Orang-orang melintas, tapi tak ada yang berniat menolong Dong Hwa dan membawa pemuda itu ke tempat lain. Orang-orang sibuk memikirkan diri sendiri, mencari tempat berteduh untuk diri sendiri.
Dong Hwa memejamkan mata rapat. Perutnya lapar dan kepalanya terasa berputar-putar. Dong Hwa punya alergi terhadap udara dingin. Sehingga setiap musim salju tiba, stamina tubuhnya berasa di titik terbawah. Meski salju di Busan tidak separah daerah lain, tetap saja sedikit terkena salju bisa membuatnya demam dan mimisan. Hal itu diperparah dengan kebiasaan lupa yang dimiliki Dong Hwa. Seperti sekarang, dia lupa kalau hari ini hujan salju turun dan sama sekali tidak membawa Coat atau beanis.
Dong Hwa ingin pulang, tapi tubuhnya semakin melemah. Kakinya tak akan kuat melangkah. Dong Hwa ingin pulang, tapi dia juga tahu dia sedang tidak ingin pulang. Saat itu dirinya berpikir akan ditemukan di halaman depan harian kabar esok hari berjudul "Seorang pemuda SMA ditemukan tewas di pinggir jalan" dengan foto wajah pucat dan rambut acak-acakan.
Hingga akhirnya kekuatan Dong Hwa berada di titik terbawah. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Lalu Dong Hwa merasa rasa hangat menjalar di sekitar bahunya. Sebuah suara lembut menelisik ke gendang telinganya.
"Permisi, apa anda tidak merasa kedinginan tidur di sini?"
Dong Hwa menyipitkan mata. Seberkas cahaya seolah meyambar mata. Dia seolah melihat sosok malaikat turun dari langit. Bercahaya sekali. Ah, bukan... Sosok itu bukan malaikat. Perlahan cahaya yang dilihat Dong Hwa memudar dan membentuk siluet gadis berwajah polos dengan mata bulat seperti hamster tengah memandang dirinya. Dong Hwa tidak punya kekuatan untuk menjawab. Dia hanya mengerang pelan.
Gadis itu menyentuh kening Dong Hwa dan berseru khawatir, "Permisi, tubuh anda panas sekali. Anda bisa bangun? Anda bisa berjalan?"
Dong Hwa menggeleng kepala lemah.
Tiba-tiba saja Dong Hwa merasa tubuhnya ditarik ke depan, laku kakinya terangkat hingga tak menyentuh tanah. Dalam keadaan setengah sadar, Dong Hwa membuka mata dan menyaksikan gadia itu berjongkok dan bersiap menggendongnya.
Dong Hwa ingin menolak pertolongan gadia itu, tapi tubuhnya sedang tidak berdaya. Ditambah lagi pandangan matanya memburam. Hal terakhir yang diingat Dong Hwa adalah percakapan singkat mereka sebelum dirinya pingsan.
"Apa aku mengenalmu?"
"Tidak, kau tidak mengenalku, tapi sepertinya aku mengenalmu. Aku pernah melihat wajahmu di Cheongsan."
"Kau murid Cheongsan juga? Namamu siapa? Namaku Kim Dong Hwa."
"Ya... Aku murid Cheongsan. Namaku... Sung Eun Gi."
†††††††
Rumah Sakit Busan Paik, Busan. Keesokan harinya.
Dong Hwa merapatkan kedua kaki, memasukkan tangannya ke kantong jaket, sedangkan matanya terus memandang Kim Sang Min dan Park Sung Ji yang sedang mengurus administrasi rumah sakit. Dong Hwa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kim Sang Min, ayahnya, marah padanya, semenjak kemarin malam. Ayahnya sudah mengira Dong Hwa akan jatuh pingsan di tengah salju setelah dirinya tidak kunjung kembali ke rumah seusai pulang sekolah.
"Ayah tahu kau marah karena tidak terima dengan keputusan ayah menikahi Park Sung Ji. Tapi, Dong Hwa, ayah menikah lagi juga demi kebaikanmu. Agar ada yang merawat dan memerhatikanmu saat ayah sibuk bekerja!"
Dong Hwa menatap orang yang berlalu-lalang di depannya dengan memandang nanar. Ibu kandungnya sudah meninggal sejak Dong Hwa kecil, dan Kim Sang Min selalu repot mengurusi Dong Hwa yang sakit-sakitan. Dong Hwa memiliki tubuh yang lemah dan rentan terhadap udara dingin. Awalnya mereka tinggal di Seoul. Namun, karena penyakit Dong Hwa, Sang Min memilih pindah kerja ke daerah selatan yang lebih hangat. Meski tetap saja, Dong Hwa selalu kambuh tiap musim salju datang. Pemuda itu bisa demam tinggi, bahkan sampai mimisan jika dibiarkan pergi tanpa baju hangat.
Saat Sang Min bertemu dengan Sung Ji, Sang Min pikir Sung Ji bisa menjaga Dong Hwa. Wanita itu cantik, pintar masak, dan memiliki jiwa keibuan yang dibutuhkan Dong Hwa. Namun, tampaknya pikiran Sang Min salah. Dong Hwa justru menentang pernikahan keduanya. Bagi Dong Hwa, dia tidak menyukai adanya wanita lain yang masuk dalam kehidupan mereka
Kemarin adalah puncaknya. Sang Min berniat mengadakan makan malam di rumah bersama Sung Ji, dan Dong Hwa bertekad tidak akan ikut dalam rencana ayahnya. Dong Hwa membiarkan dirinya di luar rumah, menyusuri jalanan sembari menghindari tiupan angin kencang. Pemuda itu berkukuh tidak ingin pulang. Hingga akhirnya menggigil kedinginan di bangku taman. Jika tidak ada gadis yang menolongnya kemarin, kondisi Dong Hwa bisa jauh lebih parah.
Di mana gadis itu sekarang? Dong Hwa menatap sekeliling. Sejak tadi pagi dia tidak melihat gadis itu, padahal Dong Hwa ingin mengucapkan terima kasih padanya.
"Siapa namanya? Sung... Sung... Siapa?" Dong Hwa memutar otak, mengingat nama yang sempat gadis itu sebutkan. Ah, ingatan Dong Hwa benar-benar buruk. Dia tidak bisa mengingat nama gadis itu.
"Kim Dong Hwa, ayo kita pulang!" Kim Sang Min berseru, membuyarkan lamunan Dong Hwa.
Pemuda itu beranjak lesu mengikuti langkah ayahnya masuk ke dalam mobil sambil terus mengingat nama gadis yang menolongnya.
Dong Hwa akhirnya menyerah karena tidak bisa mengingat sama sekali.
††††††
Dong Hwa pikir tidak akan bertemu lagi dengan gadis itu. Namun, beberapa hari kemudian Dong Hwa melihatnya di teras sekolah. Gadis itu sedang membawa setumpuk kertas yang terlihat berat. Hari itu hujan salju turun. Dong Hwa membawa payung merah besar dari rumah untuk berjaga-jaga, sedangkan gadis itu tampaknya tak membawa payung sama sekali. Dong Hwa mengambil inisiatif untuk mendekati gadis itu
Gadis... Ah, sampai detik ini Dong Hwa belum bisa mengingat namanya.